Prologue

24 5 0
                                        

Sebuah file dokumen terletak tepat diatas meja. Pria yang duduk dibalik meja itu pun menatap sekilas orang yang ada dihadapannya dan mengambil dokumen tersebut. Ia membalik lembar per lembar dan kemudian melemparnya begitu saja ke atas meja.

"Yakk!! Kim Younghwan apa kau gila ?" Bentak pria tersebut.

"Kau tahu jika ini gagal maka ini bisa membunuh kita sendiri." Lanjutnya masih dengan nada tinggi yang sama.

"Maafkan saya, tapi bahkan anda belum membaca hingga selesai. Tentu kita juga akan membuat vaksinnya. Jika anda setuju maka---" Younghwan menyodorkan kembali file dokumen yang dilempar tadi.

Belum sempat Younghwan menjelaskan tujuannya, Kang Tae Ho kembali meledak. "Aku menyuruh membuat senjata untuk pertahanan negara, bukan membuat bom bunuh diri untuk kita."

"Kita dibayar bukan untuk menjadi bodoh, Kim Younghwan. Pergilah dan kembali lagi jika otak gilamu itu sudah kembali waras."

Tak lagi bicara Younghwan segera mengambil fille dokumen itu dan keluar dari ruangan.

Muak. Itulah yang dirasakan Younghwan. Pasalnya setiap ide yang diusulkannya tak pernah diterima. Berbeda dengan rekan kerja lainnya, yang bahkan tapi tanpa pikir panjang langsung diterima.

Gila. Mereka selalu menyebutnya seperti itu.
Tangannya mengepal berusaha menahan amarahnya. Ia berjalan menjauh dari tempat yang bagai neraka baginya.

"Younghwan ?"

Younghwan berbalik dan mendapati seorang wanita sedang berdiri dengan senyum yang manis.

"Ini untukmu." Wanita itu menyodorkan kopi yang masih panas.

"Terima kasih." Younghwan tersenyum dan menerima kopi tersebut.

"Apa dia kembali menolakmu ?" pertanyaan wanita itu tepat mengenai sasaran.

Younghwan pun menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mirae, apa kau juga berpikir aku gila ?"

Mirae menatap lekat Younghwan dan kembali tersenyum. "Tidak. Kau terlalu jenius Younghwan. Tapi aku menyukainya."

Seulas senyum tergambar diwajah Younghwan.
Dia juga selalu menyukai wanita yang ada didepannya. Satu – satunya yang mendukungnya dan selalu membuatnya tersenyum seperti saat ini.

"Mirae tapi kurasa aku tak bisa menahannya lagi."

Mirae bingung dengan ucapan yang keluar dari mulut Younghwan. "Apa maksudmu ?"

"Aku akan tetap mengembangkan virus ini dan membuat vaksinnya secara diam – diam."

"Younghwan aku selalu menyetujui dan mendukung apapun keputusanmu. Tapi jika project ini kau lakukan secara diam – diam dan GukJeong mengetahuinya kau bisa dikeluarkan dari tim." Jelas Mirae menunjukkan kekhawatirannya.

"Aku tahu. Dan kupastikan tak akan ada orang lain yang mengetahui rencanaku selain kau dan aku."

Seminggu kemudian

"Kalian berdua dikeluarkan dari misi ini."

Bagai petir di siang bolong kalimat yang terlontar dari mulut Ketua GukJeong tersebut seketika meluluh lantahkan benteng pertahanan Younghwan.

Semua tatapan sinis dan menghakimi seakan menusuk tubuhnya. Segala tuduhan yang mereka katakan tak ada satupun yang disangkal. Pria itu diam tanpa pembelaan. Terlihat lemah didepan wanita yang disukainya membuatnya benar – benar menjadi pecundang. Bahkan ia tak berani menatap ke arah wanita itu.

Di depan para petinggi GukJeong. Younghwan dan Mirae terseret sebagai pengkhianat dikarenakan seseorang melaporkan adanya rencana pemberontakan keduanya. Dan orang tersebut adalah Shin Dong Wook. Dia merupakan orang yang baru bergabung 6 bulan terakhir dalam tim scientist GukJeong untuk menyelesaikan misi rahasia. Dan Dong Wook juga salah satu orang yang setuju dengan sample yang telah dibuat oleh Younghwan dan Mirae. Tapi ternyata dialah pengkhianat yang sebenarnya.

Younghwan menarik napas setelah mengumpulkan keberanian. "Ketua, kurasa ini tidak adil jika Mirae juga ikut dikeluarkan. Ide itu akulah yang mengusulkan. Mirae terpaksa melakukannya karena aku mengancamnya. Kumohon tetap biarkan Mirae dalam tim ini. Sebagai gantinya aku siap dikeluarkan dari tim dan---"

"Aku mengundurkan diri dari GukJeong." Lanjutnya.

Dan hari itu menjadi hari terakhir Kim Younghwan bekerja sebagai Agent dan juga scientist GukJeong. Dimana hampir 5 tahun ia mengabdikan dirinya untuk negara. Dan hari itu juga ia meninggalkan pekerjaan yang sudah sejak kecil ia cita – citakan.

Setelah memastikan Mirae tetap dalam tim, Younghwan segera mengemasi barang – barang di ruang kerjanya.

Pintu terbuka menampilkan Mirae yang gusar. "Younghwan, kau tak harus sampai mengundurkan diri. Bukankah kau sangat menginginkan pekerjaan ini ?"

"Aku akan tetap bekerja jika aku merasa nyaman. Tapi tidak dengan orang yang menusukku dari belakang Mirae. Kau tetaplah bertahan disini, karena ini juga impianmu. Aku rasa aku cukup sabar dan aku bisa tetap bekerja walau bukan ditempat ini." Jawab Younghwan dengan masih mengemasi barang – barangnya dan beberapa file.

"Tapi Younghwan bagaimana bisa aku tanpamu ? Ini bahkan bukan seutuhnya salahmu. Aku juga ada andil dalam hal ini. Lalu…lalu kenapa kau mengatakan pada mereka jika kau mengancamku ?" mata Mirae mulai berkaca – kaca menahan tangis.

Younghwan menatap Mirae dengan yakin. "Mirae aku tahu kau bisa bertahan meskipun tanpa aku disini. Kau gadis yang kuat. Kau harus tetap bertahan disini untukku dan juga untuk dirimu sendiri. Jangan cemaskan aku."

10 tahun kemudian

Sebuah kecelakaan mobil terjadi di daerah perbukitan. Diduga jalanan yang licin karena hujan badai membuat mobil tersebut tergelincir dan menabrak pepohonan. Seorang wanita berusia 40 tahun ditemukan tewas dan satu korban selamat lainnya merupakan anak dari wanita tersebut yang berusia 6 tahun.

Mira menangis bersimpuh didekat makam sang ibu. Dengan luka pada bagian kepala yang masih terbalut dengan perban. Orang – orang yang melayat mulai pergi meninggalkan area pemakaman. Menyisakan gadis kecil itu, ayahnya, dan beberapa kerabat dekatnya.

Seorang anak laki – laki seumuran dengan gadis kecil itu pun berlutut didekat Mira dengan airmata yang mengalir deras dipipinya. Anak laki – laki itu tak kuasa menahannya lagi. Melihat Mira sahabatnya menangis tak berdaya, membuat hatinya ikut hancur.

"Aku akan selalu ada untukmu. Aku tak akan pernah pergi meninggalkanmu. Dan membiarkanmu menangis seperti ini lagi Mira. Aku berjanji." Jun berjanji dalam hati. Dia pun memeluk gadis kecil itu berusaha memberi ketenangan. Untuk gadis itu dan untuk dirinya.

******

ZOMBIE.ZIPStories to obsess over. Discover now