Prolog

7 5 4
                                        

"Awas kau, Moa!"

Cowok dengan perawakan kecil berlari. Menjulurkan lidahnya mengejek padaku. Dengan cokelat batang yang ia bawa, hasil curian atas kekalahannya yang tak mau ia akui.

Dia Moa.

Maure Orio Alana

Aku sering memanggilnya dengan nama Moa. Cukup terdengar lucu, namun tidak untukku. Dia cowok yang luar biasa menyebalkan. Tubuhnya yang kecil, pipi bulat dan gigi kelincinya terlihat bahwa dia benar-benar seperti anak kecil dimata siapa pun.

Jangan lupakan pula bahwa dia begitu cerewet. Setiap kali dia kesal, dia akan mengoceh. Tidak akan berhenti karena suruhan siapa pun. Tergantung jika dia sudah lelah. Dia hanya akan bergumam. Mengatakan semua, umpatannya dengan suara kecil.

Aku terkadang bingung. Umurnya yang sudah masuk Tujuh belas tahun tak membuatnya berpikir untuk bersikap dewasa. Memiliki pemikiran luas, tahu apa yang jadi tanggung jawabnya. Bukan memikirkan diri sendiri dan kesenangan yang terkadang membuang waktu. Juga membosankan.

Dan aku, Laina.

Kamu bisa memanggilku Lai. Sama seperti Moa memanggilku dengan nama itu. Cewek dengan perawakan tinggi. Berwajah bulat dengan rambut panjang kecokelatan yang selalu ku gerai.

Aku tidak terlalu pandai bergaul. Mungkin, alasan itu pula kenapa aku betah berteman dengan Moa selama ini. Tujuh tahun sudah kami berteman, kebanyakan orang-orang sering memanggil kami dengan sebutan,

'Bocah kembar yang tertukar'

"Gue berhasil!" Seruku, penuh kemenangan.

Moa memanyunkan bibirnya, merasa kesal. Saat aku berhasil menarik ujung bajunya untuk kembali ke rumah. Melanjutkan hukuman yang belum dia selesaikan dengan baik.

"Lai nyebelin."

MőAStories to obsess over. Discover now