"Kenapa memangnya? Apakah itu mengganggumu?"
"Ya! Itu jelas menganggu! Mengapa kau tidak meminta izin terlebih dahulu kepadaku kalau kau akan membawanya keluar? Kau tahu bukan, dia masih sakit!" balas sesosok laki-laki yang menggambil alih kemudi, dia masuk dengan kasar ke dalam mobil. Tapi dia seseorang yang memang dikenal dari lahir.
"Sudah... C-cu-kup.." lidah perempuan itu terasa lemah sekali. Wajahnya mulai memucat dan tinggal menunggu waktu datangnya hal itu.
"Lihatlah! Bahkan dia pucat!" Kata lelaki yang menyetir di depan.
"Kau tak mengerti.." sahut lelaki yang berada tepat di sebelahnya.
"Dia hanya mau menonton konser idolanya. Itu saja! Selagi masih ada waktu." sambungnya sambil memelankan kalimat terakhirnya. Tapi dia masih dapat mendengarnya.
"Kau yang tidak mengerti akan keadaannya!" Sahut si pengemudi lagi.
"Aku mencoba menolongnya! Kenapa kau tidak mengerti juga?" Gertak lelaki di sebelahnya lagi. Masih memperdebatkan hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Perempuan berambut cokelat itu merasa bersalah. Membujuk kakaknya untuk ikut menonton konser bahkan membelikan tiket untuk menemaninya yang masih sakit ini untuk pergi malah membuat kemarahan ayahnya membludak, namun ternyata Ayahnya mengetahui itu semua. Dia menghadang keduanya di tengah jalan. Itu hampir saja membunuhnya jika kakak perempuan tidak mengerem medadak.
Zoe menggenggam sweaternya menjadi lebih rapat sambil nyaris seperti gumaman,"Su-sudahlah. K-ke-kenapa k-ka-kalian tidak saling meminta maaf?" Kepala Zoe terasa nyeri tak tertahankan. Bak seseorang tengah menusukkan beberapa pedang yang sebenarnya tak ingin dirasakan olehnya.
Bersamaan dengan itu bunyi klakson mobil dari arah lain memburu mereka yang berada di mobil ini. Di perempatan jalan yang cukup ramai entah siapa yang salah, beberapa decitan mobil terdengar. Termasuk decitan dari mobil dimana Zoe berada. Di rem mendadak. Sangat mendadak. Zoe terantuk jok depan mobil dimana itu adalah tempat duduk kakak laki-lakinya. Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi. Pandangan Zoe memburam.
"Syukurlah tidak terjadi kecelakaan yang fatal..." kata Ayah Zoe sambil memandang ke tempat duduk belakang. Tempat dimana anak perempuannya yang tengah sakit berada.
Zoe mengedarkan pandangan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Setelah dapat mengatasi pengelihatannya sendiri. Tepat di arah pukul tiga, sebuah truk besar nampak tidak bisa menghentikan lajunya.
"TIIINNNNN! TINNNNN! TIIIINNNNNN!"
Sorot lampu dari arah lain menyilaukan kedua matanya.
"BRRRAAKKKKKKKKKKKK!"
Semuanya terasa berputar. Zoe terpental dengan kepala serta punggung menyentuh atap mobil yang sudah terbalik terlebih dahulu. Menyebabkan rasa remuk di bagian tubuhnya. Tak lama terasa basah dan lebih hangat pada bagian belakang kepalanya serta beberapa bagian tubuhnya. Darah kental segar mengalir melewati lengan serta wajahnya. Pandangannya menatap ke bangku depan tempat dimana Kakak serta Ayahnya berada. Mereka tak sadarkan diri berlumur darah karena kaca depan serta samping yang pecah berserakan. Semua kejadian itu terasa cepat. Zoe bahkan dapat mendengar detak jantungnya yang lambat laun melemah.
Matanya terpejam dan dia mendengar suara-suara disekitarnya. Hingga Zoe rasa dia keluar dari dalam mobil rusak itu dalam keadaan setengah sadar. Suara-suara lain terdengar bahkan dia dapat merasakan salju mengenai wajahnya membuatnya berbisik, "Ayah..."
Seseorang berkata padanya, "Hei... hei... buka matamu. Jangan pingsan, hei..."
Dia tengah melakukan pengecekan terhadap Zoe, memastikan Zoe masih sadar atau tidak. "Ck.. darahnya banyak sekali..." kemudian terdengar bunyi telepon dan orang yang Zoe kira laki-laki itu mengatakan banyak hal.
Selang beberapa waktu Zoe merasa ada banyak orang yang berada di sekitarnya. Suhu sedikit menghangat setelah mereka berada di sekitar Zoe. Suhu itu berasal dari tubuh orang-orang penolongnya. Mereka mencoba menolongnya. Mengangkatnya ke sebuah tandu, memberikannya tambahan oksigen melalui selang dan memacu detak jantung berapa kali.
"Ini tergantung padamu nak, kau akan bisa jika kau ingin. Kau bisa nak! Kau bisa! Semua tergantung padamu! Tergantung padamu." kata suara perempuan berbisik. Kemudian orang itu mengecup keningnya. Dia tak mendengar lagi suara pertama yang mencoba menyelamatkannya.
Tapi dia tak dapat berbuat banyak, rasanya memiliki badan namun tak dapat digerakkan.
"Tiiiiiitttttttttt!" sebuah bunyi panjang melepas semuanya.
♠
(Cerita yang di posting kembali dari tahun 2015)
VOUS LISEZ
The Runner Games
AventureZoelyn Afrow bangkit dari kematiannya dengan wujud berbeda serta kemampuan di luar nalar. Di tempat yang berbeda dengan orang-orang yang mengistimewakannya. Namun apa yang sebenarnya dirinya hadapi? Ini tentang petualangan yang belum berujung, akank...
