Harizu melirik arloji sekali lagi dan menghela napas penuh kekecewaan. Meski alunan musik di kafe yang dikunjunginya terdengar nyaman, itu sama sekali tak mampu meredakan perasaannya yang kacau.
Lagi. Gadis itu tak menepati janjinya lagi. Ini sudah kesembilan kalinya dalam bulan ini dan Harizu sudah mencapai batas toleransinya. Ia merasa ini sudah waktunya berhenti.
Seperti biasa, Harizu mulai menghitung dalam hati, meletakkan harapan terakhirnya dalam setiap hitungan. Juga pertanyaan untuk setiap kekecewaannya.
Satu.
Apa gunanya aku menunggu?
Dua.
Apa bahkan dia ingat kalau aku nungguin dia?
Tiga.
Bukan, apa bahkan dia ingat kalau dia yang minta ketemuan?
Empat.
Apa aku harus benar-benar berhenti?
Lima.
Lucu amat. Udah berapa kali dia begini? Berkali-kali! Bukannya udah jelas kalau itu tandanya dia mau aku berhenti?
Enam.
Tapi dia nggak pernah bilang apa-apa, bahkan masih minta ketemuan. Apa salah kalau aku masih mau menunggu?
Tujuh.
Sekali aja. Tolong hargai aku. Tolong anggap aku ada. Tolong, tolong ....
Dela—
"Mas Angkasa Harizu?"
Harizu mendongak, menatap bingung pada pelayan di hadapannya. "Y-ya?"
"Ini, barusan ada yang minta ngasih ini untuk Mas." Pelayan itu menyerahkan sebuah bungkusan serta sebuah amplop kecil.
Harizu menerimanya dengan perasaan campur aduk. Ia menatap amplop cokelat pucat itu dan mulai membukanya. Isinya hanya selembar surat dengan tulisan tangan yang amat dikenalnya.
Setiap angsa memiliki bulu yang indah, tetapi kau tidak. Kau terlihat sangat buruk dan mengganggu pandangan. Hanya saja, mengapa kau selalu menjadi objek yang sempurna untuk penglihatanku?
Bentuk tak sempurnamu menyilaukanku, memberiku hasrat untuk bisa bersamamu. Namun, sayangnya, aku tak bisa menyentuhmu.
Pun memilikimu.
Jantung Harizu berdetak kencang setelah membacanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok yang sejak tadi ia tunggu.
Tidak ada.
Harizu meraih pergelangan tangan pelayan di hadapannya. "Di mana orang yang tadi ngasih ini?" Pertanyaannya hampir mirip bentakan.
"Udah pergi, Mas. Tadi abis ngasih ini dia langsung pergi." Sang pelayan bergidik ngeri seraya mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Harizu. Bukan takut karena perlakuan aneh Harizu, melainkan tatapannya yang seolah akan menelannya seketika.
Tanpa menunggu, Harizu berlari keluar kafe, berputar mengelilingi area kafe seraya menatap liar ke jalanan di sekitar.
Tetap, ia tak menemukannya.
Mengusap wajah putus asa, Harizu kembali menuju kafe dengan langkah gontai. Ia meraih bungkusan di atas meja dan melihat isinya.
Sebuah buku. Novel. Dengan judul yang sama dengan namanya.
HARIZU.
Nama penulisnya adalah CanaryFish.
Harizu membeku.
❀❀❀
Hi!
Saya baru nyoba mulai nulis. Lagi. Hehehe ....
Uh ... rasanya ... canggung. I mean, udah 2 tahun lebih ga nulis dan banyak kosakata yang terlupakan. Itu cukup ngebuat saya kewalahan.
Jadi ... mmmm ... kalau teman-teman pembaca nemuin banyak kalimat yang berantakan dan jadi ga menikmati tulisan saya, tolong sampaikan, biar saya bisa jadi lebih baik lagi.
Maacih! :*
-Ara-
VOUS LISEZ
KANA
Fiction généraleSetiap ikan kenari hias memiliki corak yang indah, sama sepertimu. Kau terlihat indah dan menyilaukan mata. Hanya saja, mengapa kau selalu menjadi objek yang mengganggu penglihatanku? Bentuk sempurnamu menyesakkanku, membuatku tak pernah ingin bersa...
