Dia berbaring di atas kasurnya. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Bosan. Dia sungguh bosan. Harta berharganya baru saja lenyap karena kebodohannya. Kebodohannya streaming film yang baru-baru ini booming. Dia mau membeli lagi harta itu. Tapi jika dia membelinya maka dia tak akan bisa menyenangkan perutnya untuk beberapa hari ke depan. Mau meminta ke papa nya, namanya sudah pasti di coret dari kartu keluarga. Miris
"Gua harus apa" dia berbicara pada bohlam di atasnya
"Apa minta sama Kikan ya"
"Tapi si Kikan juga nolep"
"Apa sama Mega?"
"Tapi Mega kan wifian"
Matanya membulat "Oiya. Sama si Dirga aja"
Dia berguling mengambil ponsel nya di lantai.
"Untung masih mulus"
Dia membuka ponselnya, mencari kontak dengan nama 'Si autis'. Jahat
Telepon itu tersambung. Tapi tak di angkat oleh orang di seberang.
"Ck. Sok sibuk bet sih"
Lagi. Dia terus menelpon. Hingga percobaan yang entah ke berapa, telepon itu di angkat.
"APAAN BEGO" Suara khas cowok itu terdengar jengkel
"Selow dong"
"BURU! GUA MATIIN NIH"
"Iya, iya. Gua minta pulsa woi. Abis nih gara-gara nonton Dahlan"
"TOLOL. GAK" dan di detik itu pula sambungan terputus
"Jahat"
Dia kembali ke kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya. Dan berbicara dengan bohlam kamarnya. Lagi.
"Tok tok tok" pintu kamarnya di ketuk.
Dia tak menggubris ketukan itu. Memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur. Malas sekali untuk bergerak.
"Rei. Ada temen mu tuh" suara itu, suara papanya.
Dia tetap diam. Malas sekali mengeluarkan suara hanya untuk membalas panggilan papanya.
"Rei, itu temennya nunggu dari tadi"
Yang di panggil-panggil tetap tak ingin mengeluarkan suara sedikit pun atau bergerak barang semili.
"Reina William, mau papa dobrak apa gimana, hm?" Suara papanya tidak meninggi, namun terdengar begitu horror untuk di dengar.
Dia menghembuskan napas kasar. Beringsut duduk.
"Rei?" Papanya kembali memanggil
"Iya pa, bentar lagi turun"
Dia bergerak malas. Turun dari kasurnya. Berjalan menuju pintu. Menatap dirinya yang masih menggunakan piyama biru dengan gambar awan. Yang tak dia ganti berhari-hari.
Dia menuju keluar. Sudah berapa lama dia tak keluar dari kamarnya? Tak tau.
Dia turun. Lelah di tengah-tengah tangga, dia duduk. Menyandarkan kepalanya ke tembok dan memejamkan matanya. Semenjak karantina ini, dia tak pernah lagi bergerak selain hal-hal penting.
"Rei. Sini" lagi. Suara yang memanggilnya tadi kini sungguh sangat menjengkelkan tuk di dengar.
"Hmmm" dia hanya bergumam tak jelas.
"Reina, ini ada tamu loh" jengkel. Dia jengkel dengan suara papanya.
"Rei!" Suara papanya meninggi.
"Papa bawel tau gak?" Ucapnya datar tanpa bergerak sedikitpun.
"Kamu tuh udah di tungguin dari tadi. Gak baik bikin tamu nunggu" Papanya menghampirinya dan mengomel layaknya burung yang berkicau
"Kamu masih make piyama gitu hah?" Papanya melotot
"Gak malu apa? Kamu itu cewek. Jaim dikit dong" kicauan papanya bisa-bisa menang di ajang kontes kicauan burung.
"Pa? Yang penting aku imut"
"Badas sekali jawaban anda nona" papanya tersenyum miring
Dan alhasil tamu pun terabaikan oleh pertengkaran tidak penting papa dan anak ini.
Papanya menarik dia paksa.
"Tamu sialan."
"Tamu sialan"
"Tamu sialan"
Gumamnya selama di tarik papanya.
"Maaf lama ya" ucap papanya ke tamu sialan itu.
Tarik tarik tarik bukan sialan. Ucapnya dalam hati saat melihat tamu itu. Ramzy
Dengan cepat dia duduk manis seperti anak anjing yang menunggu di beri makan.
"Papa mau ke kantor. Jangan macem-macem kalian"
"Loh om? Masih ngantor ya? Kan quarantine"
"Kua, apa?"
"Dasar bapak-bapak" ucap Rei mengejek. Di saat itu pula kepalanya terkena hantaman tangan bapak-bapak.
"Sakit tau pa!" Dia melototi papanya
"Lah bodo amat" papanya tertawa puas.
"Sudah ya. Om telat" papanya keluar dari rumah.
"Um..."
"Um..."
Sama-sama canggung. Gimana mau maju?
"Rei, ini. Aku bawain bakso. Hehe" kaku sekali caranya berbicara.
"Oke makasih"
"Ya udah deh Rei. Aku balik ya"
"JANGAN!" Dia berdiri tiba-tiba
"Beliin kuota dulu please" Tidak ada akhlak
"Hahaha. Okey okey. Aku beliin. Abis ya? Makanya jangan di pake streaming"
Rei mematung. Matanya membulat.
"Kamu... Peramal ya?"
"Ngaco Rei" Ramzy semakin terbahak
"Ya udah aku balik dulu, di jalan aku mampir beli kuota oke" Ramzy mengeluarkan kunci motornya dari saku.
Ramzy keluar. Menyalakan motornya. Dia kecewa Rei tak mengantarnya keluar. Atau setidaknya melihatnya di ambang pintu pun tidak.
"Dah lah sabar aja, zy" Dia menghela napas perlahan
Sementara cewek yang membuat kecewa itu masih mematung di tempat dengan ekspresi wajah bingung.
"KOK DIA TAU GUA ABIS STREAMING SIH"
Jadi itulah yang membuatnya mematung.
