annaparkz
~~~
BRAK!!
Salah satu dari mereka mengangkat dagu Anna yang tadinya sedang tertunduk merasa bersalah, Ia lalu mencengkram kedua pipi Anna dengan kencang.
"kalo jalan pake apa? Matanya taruh dimana!?"
Jujur, Anna sudah sangat biasa dengan keadaannya setiap hari yang dibully melalui perkataan. Tapi untuk permainan fisik seperti ini... Anna benar benar sangat ingin menangis sekarang.
"m-.. aku m-minta maaf s-sunbaenim". Gadis itu berkata tanpa menatap wajah wajah marah di depannya. Arah pandang Anna masih ke bawah.
Seseorang dengan seragam sekolah basah berdiri dari bangkunya, menyusul temannya yang masih mencengkram kedua pipi Anna dengan sangat keras.
Ugh, pria itu bahkan tidak ingin melihat muka gadis tersebut. Cengkraman Lee Taeyong benaran tidak main-main.
Lee Taeyong lalu melepas cengkramannya dan menyisakan goresan di pipi sang gadis, tercakar oleh kuku tajam. Lee Taeyong memberi tempat untuk Nakamoto Yuta, seseorang yang baju seragamnya tak sengaja tersiram minumannya.
Hey ayolah, Anna juga haus. Ia tidak mungkin menumpahkan begitu saja jika seseorang bernama Mark Lee tidak mendorong Anna. Lihatlah, sekarang pria itu sedang menertawakan Anna dari belakang Lee Taeyong.
"lo..." Yuta mendorong bahu kecil Anna, membuat Anna sedikit tersentak ke belakang.
~
Hey, kalian tahu apa yang lebih menyeramkan dari dikejar segerombolan angsa? Dikejar oleh segerombolan geng berandal sekolah bernama NCT127.
Gadis itu berhenti sejenak, tangannya bersandar pada tembok lusuh di sebelahnya. "Aku harus kemana?" kata Anna dengan napas tersengal. Geng 127 semakin dekat, Anna bisa mendengar derap kaki mereka.
Jumlah mereka 8 orang, bagaimana bisa Anna melawan mereka semua? 1 lawan 8? Kalian lucu sekali.
Ah! Tidak salah lagi, tembok yang ia buat bersandar adalah tembok Gudang sekolah.
Anna berjalan mendekati pintu Gudang yang tertutup rapat. Ia mendorong dengan pelan, berusaha membuat suara sekecil mungkin.
"oh?"
Pintunya tidak terkunci,
"Syukurlah"
Gadis tersebut lalu masuk ke Gudang, menutup pintunya dan mencari tempat bersembunyi.
Tetapi,
"Oit!"
Gadis itu mendadak diam, seperti patung. Matanya mendelisik kesana kemari. Apakah ia sudah ditemukan oleh 127?
"ada siapa hyung?"
"entahlah. Jen, Ada siapa?"
"siapa yang tau posisi kita?"
Anna jelas-jelas mendengar suara perbincangan mereka.
"..."
Sial!
Anna harus bergegas keluar dari ruangan ini sebelum-
"Hai cantik"
Kejutan! Saat Anna sedang berlari menuju pintu keluar, sudah ada seseorang berdiri disana. Yatuhan, gudang ini besar tetapi mengapa hanya memiliki satu pintu!?
Tidak, Anna tidak salah lihat. Ia adalah Lee Jeno, ketua geng berandal tahun kedua di SMA ini. Dia adalah anggota geng NCT Dream, adik dari NCT 127.
Sungguh! Anna baru saja berpikir tidak ada hal yang lebih buruk daripada menjadi buronan geng berandal tahun ketiga alias NCT 127. Ternyata ia salah.
"lo... buronan Yuta hyung kan?"
~
"aw perih!"
Sekarang Anna sudah pulang ke rumahnya, ia sedang diobati lukanya oleh teman dekatnya, Lee Eunsang. Lee Eunsang selalu menjadi orang pertama yang mendatangi Anna saat ia memerlukan bantuan. Tidak aneh, karena ibu Anna harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Anna adalah anak tunggal, ia tidak memiliki siapapun kecuali ibunya. Ayahnya meninggal karena serangan jantung pada saat ia berumur 10 tahun.
"ya, siapa suruh ngebut di jalan? Kan jadi jatoh"
Anna berbohong pada Eunsang. Ya kalian tahu sendiri, pipinya lecet karena tercakar Lee Taeyong. Gadis itu tak ingin merepotkan Eunsang.
"ya Namanya juga buru-buru!" jawab gadis itu dengan nada marah namun wajahnya tertekuk.
Eunsang hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya ini. Ia lalu menjauhkan obat merahnya dan mencari handsaplast di kotak, "kan kamu bisa ajak aku pulang bareng. Lihat nih, lukanya udah mengering. Kamu jatuhnya kapan sih? Sewaktu berangkat sekolah?"
"ih! apa bedanya kamu ajak aku pulang bareng sama enggak!?" gadis itu kesal karena Eunsang terlihat lebih cerewet daripada biasanya.
Eunsang yang sedang berkutat dengan kotak p3k menoleh sebentar pada Anna, "kan aku bisa langsung obati lukamu di pinggir jalan, aku selalu bawa handsaplast tahu. Apa yang membuatmu yakin bisa berangkat dan pulang dengan selamat setiap harinya? Tidak pernah ada yang menjamin hal seperti itu kau tahu?"
Eunsang benar. Ah! Biarkan. Lagipula dia tidak benar-benar jatuh dari sepeda. Bahkan sepedanya terlihat baik-baik saja, Eunsang sangat polos.
Eunsang lalu memasangkan handsaplast ke pipi Anna yang terluka, "jangan terluka lagi, aku tidak suka. Apalagi kau tidak bisa merawat dirimu sendiri. Cih".
Anna terdiam, Eunsang tidak tahu bahwa perlakuannya kepada Anna menyebabkan jantung Anna berdebar 10 kali lebih cepat dari biasanya.
~~~
annaparkz
Halohaloo, ini adalah ceritaku yang kesekian kalinya hehehe.
Sebenernya aku udah publish beberapa cerita cuma aku unpub semua karna aku insecure.
Aku selalu open untuk kritik dan saran.
Jangan malu untuk spam komen, dan kalian bisa dukung author dengan pencet tombol bintang kalo kalian suka ceritanya^^
Supaya lebih akrab, kalian bisa panggil aku Na / kak Na terserah. Aku 03' liner ^^
Selamat membaca dan terima kasih~~
YOU ARE READING
Him. | Lee Eunsang
Teen Fiction"apa yang kamu lakukan?" -Anna "menjagamu" -Eunsang "tidak perlu" -Anna "tentu saja perlu" -Eunsang > annaparkz
