Pecahan kaca,bantal sofa,dan meja yang terbelah menjadi 2. Semua kekacuan di sebabkan oleh pemuda yang berada di sudut ruangan yang tengah menetralkan nafas nya yang memburu dengan pakaian yang acak acakan.
Dan di sudut lain terlihat seorang wanita yang terlihat tak jauh berbeda dengan pemuda di sana.
Wanita itu terus terisak dalam diam nya. Terhitung sudah 1 jam lebih ia menangis menyebabkan kepalanya yang mulai di serang pening.
"Sampai kapan..kita harus terus seperti ini?!" Ujar pemuds itu dengan suara frustasi nya.
Yang di tanya hanya terus terisak. Isakannya semakin terdengar hingga membuat dadanya merasa sesak.
Ruangan itu hening. Belum ada yang membuka mulut,setelah pemuda itu bertanya. Hanya terdengar isak dari sang wanita.
Terlalu lama saling berdiam diri hingga wanita itu mengangkat suara dengan suara paraunya yang masih di iringi isakan tentunya "aku..hiks..tidak tahu..hiks."
Pemuda itu menghela nafas panjang. Dan menatap kosong ke arah lantai yang terdapat serpihan kaca dan bercak darah.
Pemuda itu akhirnya mengangkat dirinya dan berjalan dengan langkah gontai ke arah wanita yang sedang terisak dan kepala yang menunduk.
Ia berjongkok agar menyetarakan tinggi nya dengan wanita itu. Lalu merengkuh tubuh rapuh itu dan mengangkat nya menuju kamar mereka.
Setelah di letakannya wanita itu. Pemuda tersebut lantas memasuki kamar mandi. Dan terdengat suara air dari arah kamar mandi di sertai dengan geraman rendah berasal dari pemuda tersebut.
Wanita tersebut sudah berhenti menangis dan terduduk di kasur dengan menyender di kepala kasur. Ia hanya menatap lurus dengan pandangan kosong.
Ia terus memikirkan kejadian yang mereka lakukan beberapa jam sebelum nya. Ia lelah dengan hubungan nya tetapi ia tidak ingin meninggalkan kekasihnya.
Jujur ia sudah sangat jenuh dan jengah tapi entah kenapa ia selalu takut kehilangan atau meninggalkan kekasih nya. Ia pernah mencoba untuk pergi darinya nyatanya ia kembali kepada pemuda itu.
Ia sudah mencoba menekan kan dirinya agar tidak memikirkan pemuda itu akan tetapi hati dan logika nya tidak berjalan seirama. Logika nya meminta untuk pergi dari pemuda itu karena sudah tidak sanggup. Sedangkan hatinya selalu berkata tetap bertahan semuanya akan baik baik saja.
Memang benar kata orang cinta itu mengalahkan semuanya. Walau hati nya terus tersakiti terus terusan tapi entah kenapa hatinya masih ingin mempertahankan hubungannya.
Lama ia melamun sehingga tak sadar bahwa pemuda itu sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Pemuda itu berjalan ke arah lemari baju dan mengambil kaus putih dengan celana selutut.
Setelah memakai baju nya pemuda itu berjalan ke arah kasurnya dan duduk di sisi ranjang dan meraih hp nya yang berada sisi ranjang sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"Lisa..umm.. Sebaiknya kau bersihkan diri mu dulu."ucap pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya pada layar hp nya. Lisa hanya berdehem dan turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.
Pemuda itu melihat punggung Lisa hingga menghilang dari balik pintu. Dan mengalihkan pandangannya pada hp nya lalu ia mengetikan suatu pesan kepada seseorang. Lalu meletakan hp nya di nakas.
Ia merebahkan dirinya dan menatap ke arah langit di kamar yang terdapat bintang bintang yang menyala. Bintang bintang yang di tempel oleh kekasihnya. Ia tersenyum tipis melihat bintang bintang di langit langit kamar.
YOU ARE READING
°·Boomerang·°
Short StoryHubungan yang gak pernah berubah hanya berulang ulang bagaikan boomerang Oneshoot story Sweet cherry
