"Pagiii!"
Kata sapaan yang hangat dan paling mengena dihati. Wanita yang memandang irta dengan penuh kasih sayang, menyapa irta dengan suara khasnya yang lembut, irta yang sedang fokus menikmati gorengan dan ketupat dari mang nanan, refleks menoleh ke arah wanita itu lalu tersenyum sejenak dan kembali mengunyah. Yaps, wanita ini adalah ibu irta. Tepatnya ibu kandung irta, yang akrab dipanggil bu wicaksono, dia sosok ibu yang amat sempurna untuk irta. Bagaimana tidak sempurna, bu wicaksono ini sedari kakak irta masih berumur 5 tahun, sudah bekerja keras, banting tulang sendirian untuk bertahan hidup demi anak dan suaminya agar bisa terpenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Suaminya sudah sakit semenjak masa remaja saat masih SMU dulu, sakit yang hanya diketahui oleh keluarga bu wicaksono tanpa diketahui orang lain. Fisik suaminya masih kuat tapi kejiwaannya sudah melemah. Itulah ayah irta, yang dianggap ayah paling istimewa oleh irta, memang ayahnya berbeda dengan ayah-ayah diluar sana, fisiknya seorang ayah tapi jiwanya seperti seorang anak 10 tahun. Irta tak pernah malu meski ayahnya tidak bekerja dan hanya bisa bantu-bantu ibu dirumah, karna setiap harinya yang irta rasa hanya bahagia entah mengapa, irta merasa hidup ini harus disyukuri bukan di ingkari sebab Sang Pencipta kehidupan menciptakan bumi dengan hadirnya matahari lebih sering dibandingkan dengan hadirnya hujan yang hanya diwaktu-waktu tertentu. Jadi untuk apa bersedih, jika kebahagian masih sering dihadirkan ^^
Selesai sarapan irta merapikan piring diatas meja makan, lalu berjalan menuju dapur, mencuci tangannya di wastafel dilanjutkan mencuci piring bekasnya tadi sarapan. Ia menghampiri ibunya dihalaman belakang yang sedang berjemur, ia memeluk perut ibunya dari belakang.
"Bu, irta berangkat sekolah dulu ya" tuturnya dengan pelukan hangat.
"Iya ta, hati hati ya dijalan, kalau kamu capek jalan kaki ke sekolah lebih baik naik angkot" jawab ibunya menoleh ke arah irta yg masih memeluk hangat dibelakangnya.
Lalu irta melepaskan pelukannya, dan ibu berbalik mengahadap irta, irta langsung meraih tangan kanan ibunya lalu menciuminya, sedang tangan kiri ibu mengusap-usap kepala irta, sambil berucap lembut,
"hati-hati ya sayang dijalannya"
"Iya bu, irta berangkat dulu assalamualaikum", ujar irta yg melepaskan tangan ibunya, lalu berlari kedepan rumah memakai sepatu dan berjalan menuju sekolahnya.
Irta sekarang sudah di bangku kelas 3, ia menempuh pendidikan di suatu sekolah favorit di kotanya. Irta bisa masuk sekolah inipun karna usahanya mati-matian dalam belajar dan terus minta doa restu kepada ibu serta ayahnya agar bisa masuk ke sekolah favorit. Meski teman-temannya memandang remeh irta, yg dianggap takkan mampu masuk sekolah favorit karna dalam hal ekonomi irta termasuk kategori tidak mampu juga dalam hal intelektual yaa standar tidak terlalu pintar. Tapi semangat membara dan keyakinannya mengalahkan cemoohan teman-temannya, sampai irta berhasil masuk sekolah menengah pertama terfavorit didesanya. Sungguh hal paling membanggakan bagi irta bisa masuk sekolah menengah pertama (SMP) favorit atas usahanya sendiri, karna irta percaya Allah pasti mengabulkan setiap pintanya. Irta memang anak yang terkenal pintar disekolah agamanya, ya sekolah agamanya hanya pengajian anak-anak sd dimushola dekat rumahnya tp bagi irta itu adalah sekolah agama. Jadi sedari sekolah dasar dia sudah bisa membaca Al quran dan khatam Al quran, bu wicaksono dan pak wicaksono lebih unggul memperhatikan keahlian anak-anaknya melalui pengenalan keyakinan terhadap agama yg dianutnya dulu, sebab menurut mereka itulah satu-satunya penolong hidup mereka. Keyakinan beragama islam, mengenalkan siapa tuhan pada anak-anaknya berhasil mereka tanamkan. Masyaa Allah...
Sekitar satu setengah kilo meter jarak dari rumah irta ke sekolahnya, jadi bagi irta sangat menyenangkan tiap hari berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki, karna irta bisa memandangi indahnya sinar matahari memantul ke awan, ditambah saat langitnya biru cerah seakan semuanya bernyanyi saat irta memandanginya. Sampai disekolah, edel mengucap salam di depan pintu masuk kelasnya,
YOU ARE READING
IRTAKILA
RomanceIrtakila Kaylista Angela menjalani dua ribu sembilan ratus Dua puluh harinya sebagai manusia normal dengan berbagai perasaan yang sesuai ekspektasinya, hingga di hari ke Dua ribu sembilan ratus dua puluh satu hari irta kehilangan semua hal yang di e...
