Selamat datang di cerita pertama gue yang berjudul ‘Gilang’. Gue berharap semoga lo pada suka sama cerita ini.
Jangan sider, sekali kali jadi readers yang baik bisa? Untung untung lo dapat pahala kalo ninggalin jejak di setiap bagian.
Lo bisa pencet icon bintang di samping kiri bawah. Kalo udah pencet, gue ucapin terimakasih banyak. Karena itu adalah hal yang membuat gue semangat buat lanjutin bagian-bagian cerita ini.
Udah cukup basa basi gue.
Selamat membaca!
...
Seorang gadis berkucir kuda sedang berjalan menuju Bandara Internasional Don Mueang. Awalnya ia tidak ingin berjalan kaki menuju bandara. Namun sepupunya, Chai Ratanarak menolak mentah-mentah untuk mengantarnya.
“Chai, please. Anterin gue ke bandara dong. Nggak kasihan lo lihat sepupu sendiri kesusahan?” tanya Nazil dengan tampang memelas andalannya. Biasanya dengan cara ini Chai akan luluh kepadanya lalu menuruti keinginannya.
Chai menyipitkan matanya, ia tidak bodoh. Sebelum Nazil menatapnya lebih dalam lagi, ia akhirnya mengalihkan pandangan menatap bintang-bintang di langit.
“Bandara dari sini cuma 750 meter, lo jalan kaki sampai sana paling 15 menitan.”
“Gue cewek, Chai. Ini udah malam juga.”
“Lo lihat tampang gue ini,” Chai menunjuk ke arah wajahnya, “ada rasa peduli? Nggak ada.”
“Kejam lo ah.”
“Ha?” Chai tersenyum miring menampakkan sebuah lesung di pipi kirinya, “selagi mamah sama papah nggak ada di rumah. Jangan harap gue mau ngebaikin lo. Ini semua itu cuma pencitraan.”
“Gitu ya? Jadi gue jalan kaki nih, sampai bandara?”
“Hm.”
“Serius?”
Chai menatap datar sepupunya itu. Tanpa rasa kasihan sedikit pun, ia langsung menutup pintu rumahnya dengan sangat kencang tepat dihadapan Nazil.
Blam!
“Bangsat emang si Chai!” umpat Nazil kesal.
Jika Chai bukan sepupunya mungkin Nazil sudah membuat pemuda itu terbaring tidak berdaya di atas bed hospital. Setidaknya ia juga harus menjaga imagenya seperti apa kata Chai, ini semua hanya pencitraan.
“Liat aja, gue nggak bakal balik ke Tha—Akkkhhh!”
Dengan tidak elitnya Nazil terjatuh dan membuat bibir serta jidatnya mencium mesra tanah.
Nazil melirik ke belakang, mendapati seorang pemuda jangkung tengah menselonjorkan kakinya. Pemuda itu hanya mengenakan sendal dan pakaian kas rumah sakit.
“Kurang ajar anjing!”
Pemuda itu menatap Nazil dengan muka polos, seakan-akan bodo amat dengan Nazil yang baru saja terjatuh.
“Hey, what are you doing? Thī̀din s̄kprk. (Heh, lo ngapain? Tanahnya kotor)” ujar pemuda itu.
“Ngomong apa kumur sih bangsat!”
“Xarị? Khuṇ phūd p̣hās̄ʹā xarị? (Apa? Lo ngomong pake bahasa apa?)”
“Listen, please use English because I don't understand your language. (Dengerin, coba lo make bahasa inggris gue sama sekali nggak paham lo ngomong apa)”
“Khuṇ kảlạng phūd xarị s̄unạk̄h! (Lo ngomong apaan, anjing!)”
Nazil mengusap wajahnya kasar. Ia sama sekali tidak tahu apa yang pemuda itu katakan. Andai saja dulu dia menyetujui permintaan ibunya untuk belajar bahasa Thai, mungkin ia tidak akan terlihat seperti orang bodoh saat ini.
“Terserah! Gue mau pulang!”
Pemuda itu menatap Nazil yang sudah berjalan menjauh menuju bandara di depan sana. Sebenarnya pemuda itu bisa berbahasa inggris. Bahkan seringaian jahilnya kini terpampang jelas di wajahnya.
Benar, pemuda itu sedang menjahili Nazil.
“Khuṇ xyāk pị h̄ịn? (Lo mau kemana?)” tanya pemuda itu dengan berteriak.
Terlihat Nazil yang menambah kecepatan berjalannya dan menghiraukan teriakan pemuda tadi ke arahnya. Pemuda itu mendengus kesal, ia lantas mengikuti kemana Nazil pergi.
“Dasar Gilang,” gumam Nazil pelan.
...
Gimana prolognya?
Bersambung...
YOU ARE READING
GILANG
Teen Fiction[FOLLOW ME AND VOTE, COMMENT THIS STORY] Nazil menamainya Gilang, terinspirasi dari kata Gila dan Anak hilang. Remaja laki-laki yang mengenakan pakaian kas pasien rumah sakit dan mengikutinya hingga ke Indonesia. Banyak hal yang ingin ia tanyakan p...
