Turun hujan yang deras. Jalanan yang bolong itu memuat genangan air yang akan membentuk gelombang air saat dijatuhi tetesan air hujan. Orang-orang sibuk berlalu lalang dengan payung mereka masing-masing.
Hana frustasi malam ini. Skripsi yang ia buat dengan susah payah belum juga diterima oleh dosennya. Ditambah malam ini turun hujan yang lumayan deras sementara Hana tidak membawa persediaan payung. Betapa sialnya Hana.
Hari semakin larut tapi ia terpaksa berteduh di pinggiran minimarket. Sambil menunggu reda, ia berniat akan memasuki minimarket untuk membeli sesuatu yang bisa mengisi perutnya, tapi belum sampai ia melangkahkan kakinya kedalam ada seorang namja menabraknya yang membuat barang belanjaannya jatuh satu persatu.
"Aduh, maafkan aku." Namja itu buru-buru memasukkan barang belanjaan itu kedalam paper bag dibantu oleh Hana. Sampai pada pergerakan tangan mereka saling bertemu saat akan mengambil sekotak bubuk kopi. Otomatis tatapan mereka pun bertemu. Namja itu buru-buru mengambil kotak itu agar tidak berlama-lama dalam keadaan yang awkward.
Mereka perlahan berdiri masih dengan mata yang saling bertatapan.
"Aku Jimin. Dan kau.."
"Aku Hana." Hana menunjukkan senyum manisnya.
"Aku punya dua payung. Mau kubawa ke cafe ku?"
▪︎▪︎▪︎
"Cafe seharusnya sudah tutup. Tapi, anggaplah ini sebagai ucapan terima kasihku." Jelas Jimin sembari meletakkan vanilla latte hangat keatas meja pesanan Hana.
"Bagaimana kau tahu aku menyukai vanilla?" Heran Hana sambil menyeruput latte yang ada di depannya.
"Entahlah. Kurasa karena senyumanmu."
"Hm? Bagaimana bisa?"
"Senyummu manis dan hangat. Aku jadi teringat dengan vanilla."
"Sudah berapa wanita yang luluh dengan kata-katamu?"
"Tidak ada. Mungkin kau yang pertama."
Tatapan mereka saling bertemu. Apa ini? Hana belum pernah merasakan jantungnya berdetak lebih kencang saat bertatapan dengan seorang namja.
"Apa kau luluh?" Goda Jimin
"Huh? T-tidak." Jantung Hana mulai dirasa tidak aman bila ketahuan bahwa ia sebenarnya luluh. Siapa sih yang tidak terbawa perasaan saat mendengar kata-kata Jimin tadi?
"Yang benar? Bicaramu terbata-bata, 'tuh." Jimin terkekeh pelan. Hana hanya bisa mengalihkan pemandangannya dari Jimin. Takut jantungnya berdetak semakin kencang.
"Aku hanya bercanda. Tidak usah tegang begitu." Hana bernapas lega. Jimin hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Hana.
"Hujan belum berhenti. Haruskah kuantar pulang?"
"Tidak perlu. Cukup pinjamkan payung saja."
Jimin pun pergi mengambil salah satu payung yang berada di belakang meja kasir.
"Ngomong-ngomong, berapa vanilla latte-nya?
"Untukmu kuberi gratis. Asal jangan beri tahu siapapun ya?"
"Huh? Kenapa?"
"Kau pelanggan spesialku hari ini." Jimin pun tersenyum sambil mengedipkan satu matanya yang lagi lagi berhasil membuat jantung Hana mulai bereaksi.
"B-begitu ya? T-terima kasih." Buru-buru Hana membungkuk, mengambil payung dari tangan Jimin, lalu buru-buru pergi.
"Eh, tunggu! Ini kupon---nya."
Hana sengaja buru-buru pergi agar tidak dibuat luluh lagi oleh Jimin.
'Ah, tidak sopan sekali. Tidak membantu beres-beres dan langsung pergi itu tidak sopan. Haduh..' begitu batin Hana.
Bahkan Hana bimbang, haruskah ia kembali ke cafe atau tidak? Tapi, buru-buru Hana menepis pemikiran itu. Kenapa tiba-tiba Hana jadi peduli dengan Jimin? Begitu pikirnya.
Jangan-jangan Hana menyukai Jimin..?
YOU ARE READING
PLUVIOPHILE
Romance[SLOW UPDATE] Mungkin dimana-mana hujan adalah hal yang paling dibenci orang. Tapi, tidak bagi Hana. Justru karena hujan pada malam itu, ia bisa bertemu dengan orang yang bisa membuat Hana merasakan kembali kasmaran seperti remaja SMA. #8 - rintik (...
