"Al, tuh ada yang nyariin lo!" Teriak salah satu teman sekelasku, seraya menunjuk pintu kelas. Tanpa banyak bertanya, aku segera menghampiri seseorang yang berada di depan pintu. Ah, ternyata adikku.
"Kak, pulang sekolah nanti gue mau ke toko buku dulu ya." Ucapnya.
"Sama siapa?" Tanyaku. Ia hanya menoleh ke arah seorang gadis disebelahnya, Nanda, sahabatnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu mereka berdua pergi kembali ke kelasnya.
Sebelumnya perkenalkan, namaku Aljabar Radita, siswa kelas 12 IPS 3. Dan adikku bernama Algoritma Radita, ia biasanya dipanggil Ritma. Usia kami terpaut 1 tahun. Orang tua kami -Radi dan Dita- memberi kami nama itu agar kami pintar dalam pelajaran matematika, katanya. Aneh memang, tapi kami berdua tak pernah mempermasalahkan hal itu.
---
Saat ini aku sedang berjalan menuju parkiran sekolah, bel pulang memang sudah berdering 15 menit yang lalu. Saat aku sudah sampai disamping motor kesayanganku, lagi-lagi aku menemukan sebuah kertas berisi sebuah kalimat yang ditempelkan di spion kanan.
'Langsung pulang, jangan kemana-mana dulu. Jangan lupa makan, minum, mandi, istirahat yang cukup. Jangan mikirin aku terus. Love you😘. -F-'
Ya, sudah 6 bulan lamanya kejadian ini terjadi padaku setiap pulang sekolah. Hampir sebulan ini aku mencarinya, namun lagi-lagi aku gagal untuk menemukannya.
"Cieee.. Ada yang dapat surat lagi." Sebuah tepukan dipundak membuatku tersadar. Aku menoleh dan mendapati Adit yang sedang menyeringai.
"Ngagetin aja lo!" Ucapku. Dia tak menjawab, namun menarik kertas yang masih menempel di spion itu.
"Waduhh, kalo kata-katanya sweet gini mah, gue juga mau punya secret admirer." Aku hanya mengedikkan bahu acuh saat mendengarnya.
Sebenarnya aku agak bingung pada secret admirer ku itu, apa yang ia lihat dariku? Aku memang tampan, itu yang dikatakan mama. Tapi selain itu, tak ada lagi yang membanggakan di dalam diriku. Aku bukanlah ketua OSIS, bukan pula ketua tim basket, bahkan kemampuan belajarku pun tidak lebih baik dari Adit.
Tapi jangan berpikir bahwa aku ini seorang bad boy, ketua geng perusuh sekolah, atau seorang pembalap liar. Tidak, aku benar-benar seorang murid biasa. Tidak berprestasi, tidak pula pembuat onar. Ditambah lagi sikapku yang cuek terhadap perempuan, membuatku tidak menyangka jika aku akan mempunyai seorang secret admirer.
Ah, sebenarnya sebulan ini aku cukup terkenal disekolahku, karena hampir setiap hari aku mengelilingi sekolah hanya untuk menemukan siswi berinisial F.
Siswi pertama yang kutemukan bernama Fitri, kelas 11 IPA 5. Aku yang memang selalu to the point, langsung menanyakan hal itu kepadanya. Saat itu ia langsung tertawa dan menjawab
"Emangnya lo siapa, sampe gue harus jadi secret admirer lo?"
Dan ya, reaksi dari siswi-siswi berinisial F lainnya tak jauh dari reaksi yang Fitri berikan. Mulai dari Fanya, Fera, Firda, Felly, dan masih banyak F lainnya.
---
"Ma, lo punya temen sekelas yang inisialnya F gak?" Tanyaku pada Ritma, bukan mama.
"Ada, Faro sama Fernando." Jawab Ritma tanpa mengalihkan atensinya dari novel ditangannya. Gadis itu baru saja pulang dari toko buku dan langsung masuk ke kamarku. Bukan untuk menemuiku melainkan untuk ikut tidur siang. Namun bukannya tidur siang, ia justru membaca novel yang baru saja dibelinya.
Sudah menjadi rahasia umum jika Ritma sering ikut tidur dikamarku. Ritma ini gadis pemalas, jadi kamarnyapun lebih pantas disebut kapal pecah. Berbanding terbalik denganku yang bahkan tak sanggup untuk tidak membawa sapu ketika melihat sedikit saja remah renginang yang berceceran.
