Pukul 21.00 WIB
22 April 2018, Jakarta Pusat.
Langit malam masih setia untuk menangis. Cahaya-cahaya lampu malam setia menerangi ditengah gelap dan gemuruhnya langit hari itu. Beberapa keluarga menikmati dinginnya malam sebab hujan deras dengan secangkir teh hangat dan sepotong biskuit. Mengabaikan suara hujan yang mengguyur kota Jakarta.
Berbeda dengan satu unit apartemen yang diisi oleh sepasang pengantin baru. Mereka menikmati suara hujan serta dinginnya malam dengan memasak hidangan untuk makan malam hari itu. Istrinya tampak bergembira memainkan spatula di atas wajan berisi makanan. Sedangkan suaminya setia memeluk pinggang istrinya, menikmati aroma tubuh wanita yang menyeruak masuk ke indra pernafasan.
"Mas, jangan ngusik dulu. Nanti masakannya gak jadi-jadi," protes istrinya diiringi gerakan bahu agar suaminya ingin berhenti menghirup aroma tubuhnya. Enggan untuk melepas, lelaki itu memilih tetap setia pada kegiatannya.
"Sst." Matanya terpejam. Kedua belah bibirnya menciumi pundak Sang istri penuh kasih. "Nggak mau. Lanjut aja itu masaknya."
Ting tong!
Wanita itu menoleh ke arah pintu masuk. Menyikut pinggang Si pria agar melepaskan pelukannya pada pinggang rampingnya.
"Ganggu aja suara belnya. Jangan dibukain, saya masih mau manja-manja sama kamu."
Ia berdecak kemudian memaksa agar tangan suaminya terlepas. Laki-laki tetaplah laki-laki, tenaganya jauh lebih besar daripada perempuan. Mau tak mau ia menurut lantas berkata, "Lima menit."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ★★★
"Maaf, Mas. Tapi kami tidak memesan apapun," elak wanita itu halus. Pengantar paket berpakaian serba ungu itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Tangan panjangnya mengulur untuk memberikan sebuah telfon genggam keluaran dulu. Berakhir dengan tatapan bingung, wanita itu lantas menutup pintu rumahnya ketika pengantar paket tersebut pergi.
"Mas, pesan sesuatu gak? Ini kok ada paket sama handphone, sih? Aneh banget." Wanita berambut hitam pekat tengah membolak-balik handphone misterius yang jelas-jelas tidak diketahui siapa pengirimnya.
Suaminya menepuk-nepuk ruang disampingnya agar ia duduk manis berniat membuka kotak paket tadi. "Sini duduk. Siapa tau hadiah dari orang tua saya," katanya diiringi lengkung manis disudut bibirnya.
Wanita cantik itu duduk di samping suaminya, menyenderkan kepalanya pada lengan gagah milik lelaki yang menyandang status sebagai suaminya beberapa hari lalu. Tangan lelaki itu membuka bungkus kertas dengan brutal. Tak sabar ketika melihat ukurannya. Berekspektasi bahwa isinya kemungkinan benda yang amat ia inginkan jauh-jauh hari.
Tinggal satu langkah lagi, maka kotak itu terbuka. Keduanya bersitatap memastikan isi kotak itu melalui tatapan mata. Istrinya mengangguk ragu.
Ia berteriak histeris lantas refleks memeluk erat tubuh suaminya ketika melihat isi kotak itu. Sedikit mengerikan—ah ralat, tampak mengerikan untuk siapa saja yang menerimanya. Boneka yang biasanya digunakan dukun untuk menyantet korbannya. Disertai dengan lumuran darah disekitarnya.
"Jangan nangis. Ada saya di sini," bisiknya lembut disebelah telinga istrinya. Belaian lembut dipunggung tangannya membuat dara itu perlahan tenang. Walaupun di lubuk hatinya merasakan hal yang sama.
PRANG!
Keduanya sama terkejutnya. Jendela bagian dapur mereka dilempari batu. Ia semakin kalut, menarik lengan suaminya ketika lelaki tinggi itu bangun dari posisinya. Menatap sendu ke arah matanya.
"Kamu tenang, ya. Mau ikut?" tawarnya.
Mereka berdua melangkah pelan bersama, kedua saling melindungi berjaga-jaga mungkin saja keadaan mereka terancam. Wanita itu memperhatikan sekitar ruangan serba pastel ini. Berharap semoga tidak ada suatu yang mengejutkan, lagi.
Sementara pria yang diketahui suaminya menatap sisi luar apartemen. Untung saja hujan yang mengguyur Jakarta sudah reda dan hanya menyisakan rintik hujan serta genangan air. Lelaki itu mengusap pelan rambut wanitanya. Menenangkan wanita yang masih saja meringkuk dalam pelukannya.
"Nggak ada apa-apa. Udah jangan takut."
Wanita itu mengangguk lesu, selanjutnya memilih tenggelam dalam pelukan hangat suaminya. Mengharapkan kehangatan di sana. Meskipun liquid bening terus mengalir membasahi kedua pipinya.
drrtt drrtt ....
Kedua menoleh ke arah ruang tamu bersamaan.
- to be continued -
YOU ARE READING
BIRAMA LARAS
Mystery / Thrillerini tentang saya yang berlari menghindari kematian, berharap Tuhan mendengar rintihan suara linu, berupaya dunia baru tampak bersinar terang.
