"Oek... Oek... Oek..."
Terdengar suara bayi menangis dari lorong koridor Rumah Sakit yang sepi. Bertepatan pada saat itu tanggal 24 Oktober 1963 pukul 02.00 WIB.
"Mah, anak kita perempuan", sambil menunjukkan sang putri kepada pasutrinya.
Sang Istri masih merasa capek setelah mengeluarkan semua tenaganya untuk sang jabang bayi namun, dalam se detik rasa itu hilang seketika ketika melihat sang putri telah datang ke dunia ini.
"Mau di kasih apa namanya pak?", sembari tersenyum dan memandang sang bayi di sampingnya.
"Terserah mama welah.."*
"Kiera Anastasya?atau..Kiera Vanisma?"
Merasa bingung lebih baik digabungkan atau tidak, yang kebetulan nama dari sang Ibu Vanisma dan sang Bapak Kimardi.
"Kiera van Grabonic", menatap pasti ke sang istri.
"Kiera Selamat Datang sayang.. semoga jadi anak yang sholehah ya nak.."
Setelah berdiskusi atas pemberian nama, sang Bapa lalu mengadzani sembari menggendongnya dengan erat dan penuh kasih sayang.
***
2 hari berlalu dari hari kelahiran Kiera, mereka pun kembali ke rumah sederhana yang tak jauh dari Rumah Sakit SUKMA, Sukabumi, Jawa Barat.
"Assalamu'alaikum..", sambil menaiki tangga kecil dan pendek.
"Wa'alaikumsalam.."
"eh, emak udah balik sakeudeung geuningan..", sang anak sulung menghampiri dan memapih badannya yang terlihat masih lemas.*
"Heuh, emak ngerasa udah bisa jalan jadi pulang aja daripada makin mahal biaya nya nanti."
"Nyai, bikinin bapa dulu kopi..", menghampiri koran baru yang selalu jadi pusat perhatiannya setiap pagi.*
"Mana si Gahya disuruh betulin sepeda malah dikerjain setengah"
"Mancing sama si Biban", menyimak omongan dari sang Bapa sembari mengaduk kopi.
"Awas kalo balik minta duit, sekolah ga bener mancing terus, bener mancing ikan atau mancing lainnya.. hari-hari cuma dapat satu."
selagi mengomel, sang anak kedua datang dengan temannya.
"Heh, siah nya disuruh SUSAH kali.. cuma ngebetulin sepeda itu ring rodanya kan lepas mulu bahaya kalo ngga di betulin, katanya kamu bisa.."*
Menahan rasa malu dan sesegera mungkin mengeluarkan trik-trik jitu ngelesnya, secara spontan ia mengatakan, "Itutuh.. masih setengah karena ngebantuin si Ipah tadi tiang jemurannya lepas.."
sembari duduk menghampiri sang bapa,
".. tau sendiri kan tiangnya keras asli aluminium terus lubangnya kecil ngga masuk-masuk, sedangkan dia mau ngejemur.."
sang bapa mengeleskan tatapannya dan langsung menatap tv.
"..udah itu dikasih sarapan kan di teras, lupa lah mana enak lagi kan kue apem buatan ipah mah, lewat la si Biban ngajak mancing pake pancingan dia katanya baru biar nyobain."
Biban merasa tidak enak dalam situasi tersebut. Dan merasa bingung apa ia harus pulang atau tetap di rumah temannya yang sudah ia janjikan 15 menit lagi untuk nonton pertandingan voli di lapangan tentara.
***
YOU ARE READING
Tears
Teen FictionSiapa sangka Kiera dilahirkan ke Dunia ini seperti mimpi buruk namun nyata adanya. Dan siapa sangka, keluarga yang menjadi harapan utama malah membuat dia harus merasakan dinginnya pelukan, dinginnya kelembutan, penuh dengan ke egoisan dan kedengkia...
