"Aku selalu mengkhawatirkan hal-hal yang paling kecil dan tidak berguna. Bagaimanapun, aku akan selalu ingin bertemu denganmu lagi."
Pagi itu terlihat begitu cerah. Suatu awal yang bagus untuk seseorang yang tak kalah ceria dengan mentari pagi. Di sini, kita akan melihat bagaimana keseharian seorang anak SMU bersama dengan teman-temannya. Tentang persahabatan dan gelak tawa. Bahkan mungkin sedikit tambahan di departemen cinta.
Seorang anak laki-laki mengayuh sepedanya dengan kencang. Bersemangat seperti biasa untuk pergi ke sekolah. Ia tahu, ujian semakin dekat, kelulusan sudah di ambang pintu. Tapi, apa salahnya bersemangat di hari-hari seperti ini? Ibunya sering mengingatkan senyuman adalah obat termanjur untuk kesehatan kita. Kita tidak pernah tahu jika seseorang sedang merasa kurang baik dan melihat senyuman ramah mungkin bisa sedikit menghibur orang itu. Karena itulah, senyuman adalah hal yang penting di keluarga Uzumaki. Siswa itu melihat dari kejauhan sosok siswa lain yang berjalan dengan santai menuju gerbang sekolah. Ia percepat kayuhannya. Ia dengan cekatan berhenti, melakukan ritual mengunci sepedanya dan bergegas menyapa figur yang sangat ia kenal itu
"Pagi, Sasuke!"
"Hmm. pagi," balas temannya.
Tidak puas dengan jawaban yang ia terima, ia angkat satu tangannya dan menepuk keras bagian punggung sahabatnya.
"Dobe! Kau mau mati!?"
"Hehehe, akhirnya kau bicara juga."
Mengerang kecil, si cowok berambut hitam itu menatap lurus ke depan sambil menggumam pelan kata-kata seperti 'dasar bodoh'.
Dia adalah Uchiha Sasuke. Mantan ketua OSIS yang saat ini memegang status ketua kelas di kelasnya sekaligus murid terpandai di sekolahnya. Di masa-masa aktif mereka, Sasuke tidak hanya menjadi ketua OSIS tapi juga menyempatkan dirinya untuk mengikuti beberapa lomba debat. Tentunya dia memenangkan lomba-lomba itu. Naruto sampai sekarang masih tidak percaya sahabatnya bisa bertahan hidup. Ia masih ingat betul suatu ketika Sasuke memintanya untuk menjadi alarm hidup karena Sasuke selalu mematikan alarm-nya. Saat itu Sasuke sedang mempelajari bahan debat dan mempersiapkan minggu budaya. Setiap pagi Naruto meneleponnya sampai Sasuke benar-benar bangun. Sesampai di sekolah, Naruto sudah menyiapkan permen kopi untuknya. Karena anak SMU tidak seharusnya minum kopi hitam, Uchiha! Tidak peduli jika jiwamu sudah hitam sepekat kopi hitam. Kopi tidak baik untuk anak muda yang sedang tumbuh dan mengalami pubertas!
Naruto tertawa geli mengingat masa-masa itu. Sasuke meliriknya dengan curiga.
Keduanya benar-benar kontras. Mulai dari status mereka di sekolah (sang ketua dan murid biasa), penampilan hingga sifat. Sementara yang satu dingin seperti es yang lainnya hangat seperti sinar matahari. Sakura pernah berkata mereka mirip seperti bulan dan matahari. Hah, Sakura-chan selalu saja terlalu romantis.
Bak dua ujung magnet yang berbeda, jika didekatkan dua ujung magnet itu tak akan mudah dilepaskan. Sama seperti keduanya. Sebenarnya Naruto sendiri masih bingung kenapa mereka bisa sedekat itu. Pertama kali mereka bertemu, yang mereka lakukan selalu saja bersaing. Tentunya Naruto hanya bisa bersaing dengan adil di pelajaran olahraga karena tak mungkin dia mengejar Sasuke di pelajaran yang lain. Ah, tapi dia selalu menang di pelajaran keterampilan dan tambahan. Misalnya, Sasuke agak buta nada dan dia bahkan tidak bisa mengikuti instruksi untuk menggambar wajah.
Mata gelap sang Uchiha tertuju pada sahabatnya yang beberapa senti lebih pendek darinya. Dia berhenti. Tentunya yang bersangkutan juga berhenti, "ada apa?"
YOU ARE READING
Laugh Away
Fanfiction[SasuNaru ff] Sebuah cerita tentang anak-anak SMU di tahun terakhir, kelas yang bodoh dan semua hal random yang bisa kau temukan di Konoha-High School. Dibawakan oleh seorang pemuda mantan prankster yang kemudian diberi 'title' Okaa-san dan sahabatn...
