Prologue : The day

64 8 4
                                        

Digenggamnya ikatan bunga mawar merah dan putih yang segar dan cukup bisa menjelaskan bagaimana suasana dalam ruangan tersebut. Terlebih lagi ada mempelai wanita yang berjalan ditengah kerumunan tamu menuju panggung. Lee Hea tersenyum kecil saat tidak sengaja mendengar percakapan sahabatnya—Kim Taehyung dengan sang kekasih, bahwa mereka juga sedang ingin merencanakan pernikahan dan bagaimana nanti tata panggung dan juga baju yang akan mereka kenakan. Hea menghela nafas, "Iya-iya kalau kalian juga mau menikah, tidak usah membahas dengan lantang di sampingku seperti itu."

Taehyung mengeryit. "Jadi kau menguping nona? Aduh maaf ya membuatmu tersinggung." Taehyung membungkukan badannya sembilan puluh derajat pada Hea dan membuat senyuman seramah waiters yang melayani pelanggan. Dasar tukang ejek.

Hari ini pernikahan sahabatnya juga, Park Jimin.

Hea, Taehyung, dan jimin. Mereka sudah bersahabat sejak di bangku kuliah, entah bagaimana mereka berakhir menjadi sahabat. Hea cukup bersyukur dengan adanya kedua sahabatnya itu, sebab disaat Hea dalam kesempitan merekalah yang selalu siap siaga menjaga Hea.

Setelah dilihat-lihat ia memiliki dua sahabat yang tampan, sebenarnya Hea tidak peduli dengan ketampanan mereka. Namun, dulu ia selalu didekati oleh wanita-wanita yang bisa dibilang cantiknya bukan kepalang, setara aktris. Tidak hanya satu atau dua bahkan—ah Hea tidak menghitungnya, terlalu banyak. Mereka semua datang hanya karena minta bantuan agar bisa kenal atau dekat dengan kedua sahabatnya.

Terkadang ada yang menitipkan gift box untuk diberikan kepada Jimin kalau tidak ya Taehyung. Ia sampai-sampai pernah hampir terkena masalah karena membawa banyak gift box dan terlalu berat, sementara Hea juga tidak memiliki otot yang bagus. Sangking beratnya ia bahkan berjalan tidak bisa seimbang dan menabrak salah satu dosen yang sedang berpapasan dengan Hea saat itu. Ia langsung bersujud meminta ampun, benar-benar takut jika nilainya tiba-tiba berubah. Untungnya dosen pada saat itu baik, dan memaafkan Hea.

Ugh. Kenangan yang menjengkelkan. Semenjak itu Hea sudah tidak peduli dan tidak akan menerima gift box atau semacamnya dari para penggila sahabatnya itu.

Jimin, dia itu yang paling peduli pada Hea daripada Taehyung. Jimin juga yang sebenarnya sejak awal sudah menyuruh Hea agar tidak merespon wanita-wanita yang datang. Sebab Jimin tau itu semua bakal merepotkan Hea.

Sementara Taehyung, dia cukup peduli namun tidak sepeduli Jimin. Jimin lebih sering menemani Hea saat menangis, kalau Taehyung tau Hea menangis malah diejek-ejek.

Hea tertawa kecil saat mengingat masa-masa bersama mereka dulu. Lamunannya dibubarkan oleh suara tepukan para tamu yang sangat amat meriah dan teriakan Taehyung disampingnya yang kelewat riang.

"GO JIMIN-SHI!! MALAM PERTAMA AKAN TIBA!!"

Gila. Memang gila. Hea dan Jinha tertawa malu.

Diatas sana Jimin dan istrinya tersenyum bahagia, ia juga merasakan hal yang sama dan sedikit lega

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Diatas sana Jimin dan istrinya tersenyum bahagia, ia juga merasakan hal yang sama dan sedikit lega.


Akhirnya.

***

halow!

aku buat cerita baru!! semoga suka dan happy reading!!

CredenceWhere stories live. Discover now