"Me e e.. Me e e... Ouuooo... Ouuu u u u.." Suara sember yang menyanyikan lagu berjudul Me dari Taylor Swift itu seolah memenuhi ruang udara yang ada dalam mobil keluaran tahun 2008 yang tengah melaju di jalan raya. Mobil itu tengah menembus jalanan kota yang agak sedikit macet. Hari ini sedikit macet dikarenakan hari ini merupakan hari pertama dimana sekolah memulai kegiatan belajar mengajar kembali setelah libur panjang beberapa waktu lalu. Di dalam mobil tersebut 2 orang perempuan tengah memburu waktu untuk segera sampai di tempat yang mereka ingin tuju. Seorang kakak yang terlihat gelisah dan sedikit panik karena takut telat untuk bekerja, merasa terganggu dengan si adik yang bernyanyi di dalam mobil.
"Dek, jangan berisik ah.. Makin buat mbak nggak karuan nih. Udah diem aja." Pinta si kakak.
"Apaan sih mbak, udahlah santai aja. Kalo panik malah stress lo. Me e e,,, Uuuu u u u...." Kata si adik sembari melanjutkan menyanyi.
"Haduuuh, kamu tuh ya polusi suara aja. Mana ada coba lagu yang ouuuoo oouuoo, ngaco banget, udah suara bikin sakit kuping lagi."
"Hiih, kaya suara mbak bagus aja. Wong sama-sama sember kok"
Kakak beradik tersebut terus berdebat sampai mereka tiba di depan sebuah gerbang sekolah.
"Ya udah cepet turun!" Perintah si kakak.
"Nggak ah, hehe."
"Heeeh, nanti mbak telat loh, cepetan turun dek!!"
"Tambahin uang jajannya dulu."
"Utiiii!!!! Turun nggak."
"Iya iya, galak amat." Ucap si adik sambil membuka pintu mobil.
"Hayoo, nggak salim!!"
"Hehe, iya, lupa."
Setelah si adik berpamitan dengan si kakak dia segera masuk ke wilayah lingkungan sekolah. Sambil menghirup udara, dia menikmati kebebasan yang baru saja dia dapatkan di sekolah ini. MPLS yang berlangsung selama seminggu di pekan lalu sungguh menyiksanya dan membuatnya berasa seperti tahanan yang tengah menerima hukuman di dalam bui. Dengan tibanya hari ini, dia merasa seperti tengah merasakan kelulusan yang sebenarnya. Sambil berjalan menuju kelasnya dia mengingat-ingat nama teman yang sempat berkenalan dengannya beberapa hati lalu.
"Yang tinggi putih itu kalo nggak salah Veo, trus yang pinter selalu jawab pertanyaan itu siapa ya? Trus yang bentuk badannya ideal, bagus, cantik siapa ya? Ih, kok lupa sih."
Dia terus mengingat ingat sampai tak sadar bahwa waktu bel bunyi masuk kurang 5 menit. Saat dia tengah melintas di depan kantor guru dia kaget karena melihat beberapa guru sudah mulai keluar kantor, lalu dia melihat sekeliling, dan dia juga melihat siswa siswi yang berada di luar kelas pun sudah mulai sedikit. Barulah dia melihat jam dan ternyata sebentar lagi masuk. Dengan berlari dia segera menuju kelas. Setelah sampai di dalam kelas dia melihat semua tempat duduk sudah diduduki siswa dan ditandai dengan tas. Dia pun berkeliling kelas untuk memastikan apakah semua bangku sudah terisi atau belum. Dan ternyata semua sudah terisi. Hanya satu tempat duduk yang masih kosong, tapi itu berada di pojok kanan paling depan tepat di depan meja guru. Dia pun dengan langkah ragu meletakkan tasnya di kursi tersebut. Tiba-tiba seorang siswa laki-laki yang berada di belakang tempat duduknya seolah memberi informasi horror kepadanya.
"Eh, hati-hati ya lu disitu. Gurunya galak banget." Ucap siswa laki-laki tersebut dengan mimik wajah seolah-olah takut.
"Eh, emang iya ya?" Tanyanya sedikit takut.
Tiba-tiba dari belakang ada yang menyentuh pundaknya.
"Halo, boleh kenalan?" Seorang siswi cantik dengan tampilan sederhana tapi tampak elegan menjulurkan tangannya tanda ingin mengajak salaman.
"Hai... Boleh kok"
"Aku Viviane, biasanya dipanggil Vini. Kalo kamu?" Tanya siswi yang bernama Vini tersebut.
"A a akuu, aku Taluti, dipanggilnya bisa Uti atau kalo kakakku kadang manggilnya Tali, hehe" ucap Uti sedikit malu plus sedikit merasa minder dengan Vini. Karena Vini inilah yang Uti maksud temannya yang pintar dan berani itu. Yang selalu berani dan benar dalam menjawab pertanyaan. Ditambah lagi tampilan Vini yang sederhana tapi terkesan wah, membuat Uti semakin merasa tak percaya diri saat berada di samping Vini.
"Oh, unik ya nama kamu Uti. Kamu dari mana Uti?"
"Aku dari luar kota Vini, trus karena kakak aku kerja di kota ini, akhirnya aku ikut tinggal di kota ini dan SMA di sini."
"Oh gitu. Aku kenalin temen-temen aku yuk Uti! " Ajak Vini dengan menggandeng tangan Uti.
"Guys, aku ada temen baru nih." Ucap Vini kepada teman-temannya sambil menatap Uti dan sesekali mengarahkan pandangannya ke kelas bagian belakang.
"Ha ha aii" Sapa Uti malu-malu sedikit takut karena teman-teman Vini terlihat seperti tidak jauh dengan Vini.
"Nah, Uti yang ini namanya Tezhasyi kamu bisa panggil shezi dan ini Laveo kamu bisa panggil Veo." Ucap Vini memperkenalkan teman-temannya.
"Hai Shezi.."
Shezi hanya tersenyum datar.
"Hai Veo... Emm, Veo kamu masih inget aku kan? Aku yang kemarin minjem pulpen kamu."
"Hai, sorry ya.. Kayaknya aku nggak inget deh" ucap Veo dengan senyum paksanya.
Tok tok tok, di pintu seorang laki laki yang terlihat muda dan keren mengetok pintu seolah tengah memberi sinyal bahwa sudah saatnya siswa siswi duduk di tempat duduknya dikarenakan waktu masuk sudah tiba. Siswa siswi pun segera duduk di bangkunya masing-masing. Vini yang duduk agak jauh di samping kiri Uti tampak memberi kode kepada Uti, agar Uti tidak takut.
"Hai guys, wuzzup.." Ucap laki-laki itu.
Para siswa hanya diam bengong melihat laki-laki itu. Dalam hati Uti membatin "Guru gaul nih".
"Kenapa diam? Heran lihat guru model kaya gini? Hahaha"
Para siswa masih diam tak percaya melihat laki-laki itu.
"Oke, kenalkan saya Amzar kalian bisa panggil Mr. Ramz, jangan panggil saya pak karena saya tidak suka dipanggil pak, dan saya adalah wali kelas kalian." Mr. Ramz semakin membuat siswa siswi terdiam.
Mr. Ramz memperkenalkan serta bercerita sedikit tentang dirinya pada para siswa. Setelah itu dia mengabsen siswa satu persatu. Lalu tibalah saatnya untuk pemilihan pengelola inti kelas.
"Oke, ladies and gentle man ini saatnya untuk pemilihan para punggawa kelas. So, siapa saja nama yang akan kalian ajukan?"
"Mr, saya usul Junior" seorang siswi mengusulkan sebuah nama.
"Eh, no Mr... No, jangan saya.. Apaan si lo Ter" Ucap Junior geram pada siswi yang mengusulkan namanya.
"Okay, ada yang usul sebuah nama. Apakah kalian setuju dengan nama Junior?" tanya Mr. Ramz.
Dengan serentak semua menjawab "Setuju Mr..."
Mr. Ramz pun menulis nama itu di whiteboard.
"So, siapa lagi? Saya butuh 5 nama lagi"
"Mr. kalo gitu saya usul nama Tera Mr." Usul Junior.
"What? Me? Why?" Protes Tera pada Junior.
"Ya ngapain juga tadi lo ngusulin gue." Ucap Junior kesal.
Mr. Ramz menanyakan pada semua dan semua setuju dengan nama Tera.
"Then?"
"Saya mr. Saya Viviane" Vini mengajukan dirinya sendiri kepada Mr. Ramz.
Semua anak tampak tak percaya dengan kepercayaan diri Vini, terutama Uti yang tampak sangat kagum pada Vini.
Mr. Ramz bertanya ke semua siswa dan semua setuju dengan nama Vinez. Tiba-tiba seseorang mengangkat tangan.
"Selanjutnya saya mr." Seorang siswa berdiri dan mengajukan dirinya.
Sontak mata semua siswa tertuju padanya.
"Siapa namamu?" tanya Mr. Ramz.
"Saya Andrean mr." ucap Andrean sambil menatap Vini dengan tersenyum.
Vini yang menyadari itu langsung memalingkan wajahnya dari Andre.
Kembali lagi Mr. Ramz menanyakan pada seluruh siswa kelas dan semua siswa setuju dengan nama Andre. Untuk selanjutnya Vini mengusulkan nama Shezi dan disetujui semua siswa.
"Okay, ini nama terakhir. Siapa yang akan diusulkan?" tanya Mr. Ramz.
Dengan yakin Vini mengusulkan seorang siswa.
"Mr. saya mengusulkan Erlangga" Ucap Vini dengan yakin tapi terlihat agak malu-malu. Vini juga berjanji di dalam hati bahwa dia akan memberikan suara untuk Erlangga.
Sontak beberapa siswa langsung berkata "Ciee" dengan volume lirih.
"Erlangga.. Semua setuju?"
"Setuju mr..."
Lalu Mr. Ramz menulis nama Erlangga. Andrean tampak terdiam sejenak, lalu dia berbisik pada salah satu temannya dan meminta agar dia memilih Andrean. Andrean juga menyuruh siswa tersebut untuk meminta semua siswa laki-laki lain memilih Andrean dan jangan memilih Erlangga. Dikarenakan Andrean dari SMP secara tidak langsung dianggap pimpinan oleh teman-temannya, semua siswa laki-laki pun mematuhi perkataan Andrean.
"Guys, kita mulai ya.. Jadi nanti saya akan menerapkan sistem bagi yang mendapat suara terbanyak pertama akan menjadi ketua kelas, terbanyak kedua akan menjadi wakil, terbanyak ketiga akan menjadi sekretaris I, dan terbanyak selanjutnya Sekretaris II, Bendahara I dan Bendahara II. Okay semua pasti paham."
"Mr. saya ijin ke toilet." Izin Uti pada Mr. Ramz.
"Oke." Ucap Mr. Ramz mengijinkan.
"Baik saya mulai ya.. Untuk nama Junior?"
Beberapa anak mengangkat tangan.
"3 orang siswi memilih. Lalu Tera? 2 orang siswi yang memilih. Vini?"
Terlihat beberapa siswi tampak mengangkat tangannya untuk Vini. Vini yang menoleh ke bangku Erlangga berharap mendapat suara dari Erlangga, malah mendapati Erlangga setengah tertidur di atas bangku.
"Okay, Vini 4 suara dari siswi dan 1 suara dari siswa ya."
Vini kaget, siswa? Karena tempat duduk Vini paling depan, dia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memilihnya. Dan ternyata
"1 siswa, Andrean ya." Ucap Mr. Ramz.
"Selanjutnya, berapa suara untuk Andrean?"
Saat Mr. Ramz menanyakan itu, semua siswa laki-laki, termasuk Erlangga mengangkat tangan, memilih Andrean. Vini agak kaget melihat semua siswa laki-laki memilih Andrean, termasuk Erlangga, Vini kecewa karena Erlangga memilih Andrean. Padahal Vini menginginkan Erlangga lah yang menjadi ketua, dengan Vini wakilnya. Tapi setelah melihat banyak yang memilih Andrean dan sudah pasti bahwa Andreanlah yang akan menjadi ketua kelas, Vini hanya berharap semoga dirinya tidak menjadi wakil nantinya.
"Untuk selanjutnya, Shezi berapa suara?"
Beberapa siswi mengangkat tangan. Vini dengan mata terpejam berharap lebih banyak suara untuk Shezi dari pada suara untuk dirinya.
"Untuk Shezi, 1.. 2..3...4..?"
Vini mulai gelisah dan sedikit kecewa. Terjadi pergolakan dalam batinnya. Akankah dia akan tetap memilih Erlan yang sudah tidak mungkin menang atau Shezi agar Shezi mempunyai suara lebih banyak darinya. Tapi Vini berpikir, dialah yang mengusulkan nama Erlangga, dan jika dia tidak memilih Erlangga untuk apa dia mengusulkan Erlangga. Dan setelah dihitung-hitung mungkin Erlangga lah yang akan mendapat sedikit suara, dan Vini ingin menjadi bagian dari sedikit suara tersebut. Pada akhirnya Vini memutuskan untuk tetap memilih Erlangga dan benar-benar pasrah dengan apa yang terjadi.
"Sudah? Cukup 4 suara untuk Shezi? Atau ada lagi? Okay cukup 4 ya.."
"Saya sudah kehitung Mr?" Celetuk seorang siswi.
"Sebentar saya hitung lagi. 1.. 2....3..4.. Oh iya, kamu belum. Iya, jadi 5 kamu ya."
Vini kaget sekaligus merasa sedikit lega. Dia berharap walaupun masih seri itu akan membantunya.
"Yang terakhir untuk Erlangga. Siapa yang akan memberikan suara untuk Erlangga?"
"Saya Mr " Vini mengangkat tangannya. Dia sedikit menoleh kebelakang melihat ekspresi Erlangga.
Erlangga diam ekspresinya menunjukkan bahwa Erlangga tidak mengingikan Vini memberikan suara untuknya. Jika dia berkata mungkin dia akan mengatakan "Untuk apa kamu milih aku Vini? Percuma, kamu milih pun aku nggak akan menang" mungkin itu yang akan dikatakannya.
"Oke, semua sudah memberikan suara. Dan ini waktu untuk penentuan jabatan. Ada yang seri ya ini, tapi sebentar kok bisa ada yang seri?"
"Permisi pak" Uti masuk ke kelas disambut dengan tatapan berpasang-pasang mata.
"Pak? Ini yang dinamakan antara telinga, otak, dan mulut yang tidak kompak, hmm?" Ucap Mr. Ramz dengan sedikit nada gurau.
"Oh iya, maaf maaf Mr. Amzar, Mr. Ramz" Uti memohon maaf pada wali kelasnya.
"Oke, kamu tadi di toilet, sehingga menyebabkan kamu belum memberikan suaramu untuk para kandidat. Oke, tidak usah berlama-lama, siapa pilihanmu?"
Para kandidat, terutama Vini dan Andrean menatap tajam Uti. Dalam hati Vini berharap agar Uti tak memilihnya, sedangkan Andrean berharap Uti memilih Vini agar Vini dapat menjadi wakil Andrean. Uti yang sedikit gugup karena ditatap semua siswa kelas, terutama tatapan tajam kandidat dengan lantang menyebutkan sebuah nama
"Saya memilih teman saya Mr. Teman yang menurut saya sangat baik walaupun kami baru kenal. Dia... Viviane Mr. saya memilih Viviane" Ucap Uti sambil menoleh ke arah Vini dan tersenyum polos.
Vinez hanya pasrah dan membalas senyuman Uti dan menganggukkan kepala seolah berterimakasih karena Uti sudah memilihnya. Padahal sebenarnya dia tidak senang Uti memilihnya.
"Guys, oke. Jadi melalui seberapa banyak suara yang diperoleh maka saya tentukan bahwa untuk tugas ketua kelas akan diemban oleh Andrean, wakil oleh Viviane, sekretaris I oleh Shezi, sekretaris II oleh Junior, Bendahara I oleh Tera, dan terakhir karena hanya mendapat 1 suara dan itu suara terendah maka, kamu Erlangga, kamu menjabat sebagai Bendahara II" Ucap Mr. Ramz.
"Siap Mr." Balas Erlangga.
Dan akhirnya Vini lah yang menjadi wakil Andrean. Setelah proses pemilihan pengurus kelas tersebut tibalah waktu istirahat. Mr. Ramz keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi.
"See you guys" Ucap Mr. Ramz.
"See you too Mr." Ucap semua siswa.
Setelah itu sebagian besar siswa keluar kelas. Uti melihat ke arah Vini dan dia melihat Vini seperti orang tanpa harapan.
"Vini kenapa ya?" Batin Uti.
Para teman Vini pun menghampirinya dan memeluknya.
"Ulululu tuan putri Viviane." Ucap Shezi sambil memeluk Vini.
"Kenapa kamu She, aku nggak kenapa-napa kok" Ucap Vini.
"Sayang, aku sama She tahu kok kalo kamu sebenernya nggak mau kan jadi wakilnya Andrean, maunya jadi wakilnya si itu kaaan" Ucap Veo sambil melirik ke bangku Erlangga.
"Eh, nggak ya. Aku seneng kok jadi wakil siapa aja. Lagipula kenapa aku pengen banget jadi wakilnya Erlangga?" Ucap Vini membela dirinya.
Uti bingung dengan Vini. Sebenarnya Vini ini kenapa? Apakah Vini naksir siswa yang bernama Erlangga? Tapi kok sepertinya dia melakukan pembelaan bahwa dia tidak menyukai Erlangga? Di saat itu juga tiba-tiba datanglah seorang siswi dari luar kelas.
"Helo girls.. Heii ini kenapa si cantik dipeluk-peluk? Vini are you okay?" Tanya siswi itu.
"Yes. Aku baik-baik aja kok, Ca."
"Kamu pucet Viviane."
Shezi melirik ke arah whiteboard diikuti si siswi itu. Dan siswi itu langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Its okay Vini. Nggak papa"
"Apaan sih Ca, kaya aku kenapa-napa aja. Orang aku nggak kenapa-napa kok. Oh iya, Uti, kenalin ini Caca, sahabat aku juga. Kelasnya tetanggaan sama kita."
"Oh, halo Caca, aku Taluti, kamu bisa panggil Uti."
"Hai Uti, salam kenal ya. Kamu kok disitu sendiri, ayo gabung sini dong" Ajak Caca pada Uti.
Mereka pun ngobrol bersama.
