"Ehemm, Hai guys gue Rylie. Rylie Abigail Santoso. Salam kenal." Ucap seorang gadis di depan kampus dengan santainya.
"Woy anjirt, lo tau nggak dia, dia, dia itu, " Bisik seorang anak perempuan kepada kedua teman nya disamping.
"Parah, gue tau dia anak tunggal dari Konglomerat tajir! Bapak Rudy Santoso dan istrinya ibu Daniah Santoso
, pemilik perusahaan terbesar se - Asia Tenggara." Sahut temannya disamping.
"Guys mendidih darah missquen gue." Sahutnya lagi.
"Woy sama anjirt lemes gue bayangin nya aja." Sahut temannya.
"Woy gila! Kenapa sih lo pada? Biasa aja kali!" Ujar seseorang di samping mereka.
"Gimana mau biasa aja, bayangin aja anak dari pemilik perusahaan terbesar se-Asia Tenggara nyangkut di kampus kita!" Sahut nya.
"Astaga, santai aja kali Vin. Kampus kita ini kampus paling terbaik. Lo mau nyuruh dia kemana lagi hah?" Jawab teman nya.
"Ya gue tau, tapi biasanya kan anak anak orang kaya itu sekolah nya di Oxford gitu atau Stanford pokoknya yang diluar negeri gitu deh." Sahutnya.
"Ceilah, pake ke luar negeri segala. Eh dengerin gue ya kita itu harus mencintai produk produk dalam negeri!" Jawab temannya lagi.
Tiba - tiba..
"Heh itu yang di belakang kenapa ribut - ribut! Mau saya keluarkan dari kelas!!" Sahut seorang wanita berkacamata dari sisi kiri.
"Mampus lo berdua, makanya diem diem bae dah. Mau lo dikeluarin mapel Mrs. Azkia? Berabe lo kaga di lulus in lo!" Sahut teman mereka yang daritadi memperhatikan kedua wanita itu berdebat.
"Sudah, Rylie, kamu bisa duduk di sebelah Davira ya!" Tegur Mrs. Azkia
"Dimana?" Jawab Rylie.
"Astaga! Itu yang Mrs tegur tadi." Ujar Mrs. Azkia sambil menunjuk ke arah mereka bertiga.
"Ooh." Jawab Rylie singkat.
Disaat Rylie menuju bangku yang ditunjuk oleh Mrs. Azkia tadi semua orang di kelas itu memperhatikan Rylie sambil tersenyum. Bahkan ada yang mengajak nya dinner secara tidak sopan. Tetapi Rylie tetap pada ke elegan an nya.
YOU ARE READING
Mindset
Teen FictionRylie, Putri tunggal dari pasangan Rudy dan Daniah. Keluarga mereka adalah orang orang yang berpengaruh. Tetapi kurangnya kasih sayang dari orangtua nya membuat Rylie memutuskan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
