Menikmati coklat panas ditemani semilir angin yang membuat rambut Rani melambai-lambai dibalkon kamar villanya. Ia mencium aroma coklat panas itu sekali lagi kemudian menyeruputnya. Sungguh nikmat coklat panas dengan pemandangan laut biru berpasir putih didepannya, semilir angin bergitu membelai membuat nyiur melambai-lambai. Rani menarik nafas dalam-dalam menikmati miniatur indah cipataan Yang Maha Agung. Keelokannya ciptaan-Nya mampu membuat mu merasa makhluk yang paling beruntung karena berkesempatan menikmati ciptaan-Nya. Rani bersyukur atas semua itu, tidak mudah baginya untuk sampai dimana dititik ia berada sekarang. Ribuan luka sudah berhasil ia sembuhkan, ribuan air mata sudah berlalu darinya. Sebuah pepatah mengatakan ‘badai pasti berlalu’, pepatah yang sudah Rani buktikan sendiri. Namun satu hal yang pasti, badai hari ini pasti berlalu dan badai-badai selanjutnya akan segera datang. Ia memejamkan matanya sekali lagi, membiarkan angin menerpa wajah eloknya, meresapi segala nestapa yang pernah dihadapi wajah itu.
Hatinya sakit setiap kali mengingat masa lalunya, air matanya tak pernah sukses terbendung jika sudah berada di saat seperti ini. Hatinya mencolos jatuh kala memori pahitnya terulang.
“bunda” suara seorang anak menghentikannya dari aktivitasnya, dengan memamerkan gigi mungilnnya dengan gaya khas lucu anak itu memeluknya dari belakang membuat setiap orang yang mampu merasa gemas.
“bunda, Sue sudah mandi sore, sue sudah wangikan?”tanya anak itu manja, Rani menunduk memeluk pria kecil yang berada tepat dihadapannya kini.
“sini peluk bunda nak, hmmm wangi sekali pria kecil bunda, tampan sekali. Sudah siap jalan-jalan sayang?” anak itu mengangguk dengan penuh antusias tak lupa senyum andalannya selalu ia bubuhkan untuk meluluhkan hati orang yang berbicara dengannya..
“tapi sebelum itu, kamu harus sisir rambut dulu , llihat tu rambut kamu acak-acakan” Rani mengamit tangan anaknnya kedepan meja rias untuk merapikan rambutnya. Setelah sampai kedepaan cermin. Anak itu terduduk didepan cermin, cemberut.
“tapi bunda, sue terlihat keren jika seperti ini. Lihat bunda...” katanya sambil merapikan rambutnya dengan tangannya seperti gaya gaya anak yang tengah remaja.
Rani geleng-geleng dibuatnya. Apakah Sue sudah beranjak remaja secepat itu?. Rani tetap menyisir rambut sue meski raut wajahnya tampak tak bersahabat. Rani memandangi Sue dari pantulan cermin didepannya. anak ini semakin hari tumbuh semakin mirip dengan seseorang.
“bunda... kenapa sekarang bunda suka menung? Bunda... sue tau kalau sue ini tampan, tapi sue ini anak bunda. Bunda tidak boleh jatuh cinta dengan sue” anak itu berkicau dengan lincahnya, geram melihat tingkah bundannya.
“eh siapa bilang bunda tidak boleh jatuh cinta sama kamu, lagian wanita mana yang tidak jatuh cinta dengan anak bunda satu-satuuny yang paling tammmmmmmmpan ini, hmmm?” tanya rani jahil kepada anaknya dengan memainkan hidung mancung Sue.
Alexander Sue adalah malaikat kecil yang dimiliki Rani, satu-satunya harta yang dimiliki Rani dan paling berharga untuk Rani. Sue tersenyum malu pada bundanya. Baginya, Rani adalah segala-galanya. Tangis rani adalah tanggung jawabnya. Dan bahagianya rani adalah kewajibannya. Sue selalu pandai membuat Rani tersenyum. Dan bagi Rani, Sue adalah satu-satuunya alasan yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Ia menjadi wanita tangguh hanya untuk malaikat kecil tak bersayapnya.
Didikan Rani membuat Sue tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, perhatian dan kritis. Ia tidak segan-segan mengomentari jika menurutnya ada yang salah. Seperti waktu itu, Sue dan Rani tengah berteduh di sebuah halte bis, berdesak-desakan dengan penumpang lain karna hujan turun. Sue digendong bundanya, agar ia tidak terhimpit oleh orang-orang dewasa kota yang kehujanan. Tak jauh dari mereka seorang pria tengah menikmati rokoknya. Asap rokok pria itu membuat sebagian wanita yang sedang sama-sama berteduh dihalte itu terganggu. Ada yang mengibas-ngibaskan tangannya didepan mukanya bermaksud menghalau dan memecah asap yang sedang terarah kepadanya. Ada juga yang sudah batuk-batuk, mungkin bermaksud untuk menyinggung pria itu, tapi nyatanya pria itu pekak sekali. Ia tidak mengubris kode-kode nyata dari orang-orang disekelilingnya. Rani juga menutup mulut Sue dengan tangannya bermaksud agar Sue sedikit banyak nya tidak berubah menjadi perokok pasif yang jauh lebih berbahaya dari pria si perokok aktif itu sendiri.
Lelah dan mungkin ia juga mulai sesak serta tak nyaman jika bundanya terus-terusan menutupi mulutnya, ia menarik tangan bundanya menjauh dari mulutnya. Rani yang kaget dengan perlakuan putranya tentu tidak bisa mengelak.
“aduhhh,, asap apa sih ini? Bau sekali. Paman,, asap itu berasal dari permen yang paman bakar itu” ucap Sue tiba-tiba.
Rani tidak kalah kagetnya dengan orang-orang disekitarnya. Pasalnya sedari tadi, tidak ada yang berani menggugat perokok itu. Tapi, Sue dengan lantang tanpa ada dosa ia mengatakan itu kepada pria yang berdiri tidak jauh darinya itu.
Tampak pria yang merasa itu berbalik memandangi Sue yang berada di gendongan Rani, tanpa ada ekspresi, mungkin juga karena ia sedang sibuk mencerna perkataan anak kecil didepannya kini.
“kau mengatakan itu kepada ku anak kecil?” tanya pria itu menatap Sue dan dibalas dengan anggukan oleh Sue
“iya paman, permen bakar paman asapnya sungguh tidak enak. Wanita-wanita dibelakang paman semua terganggu, Sue juga, karna bunda terus-terusan menutup mulut dan hidungku karna asap permen paman. Paman curang, paman menikmati permen bakar paman itu sendiri, sedangkan asapnya yang tidak enak itu paman bagi-bagi keorang lain. Paman boleh memakan permen bakar itu tapi asapnya juga sekalian paman makan, karna asap itu mengaganggu orang disekitar paman,” enteng , lancar dan jelas, jawaban Sue membuat orang disekitarnya membisu seakan waktu terhenti sejenak.
Pria itu memasang wajah yang tidak bisa ditebak, datar dan mengintimidasi.
Rani menegang karena tingkah putranya, pikirannya sibuk menyusun kata untuk menjawab semua kemungkinan yang bisa terjadi.
Sibuk merangkai kata pamungkas untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan putra semata wayangnya. Bukan kepalang gugupnya Rani saat itu.
Gimana gimana??
Hehe mohon maaf yakk kalau masih kurang kurang banget..
Please bantuan nya.. dan jangan bosen ya..
Cerita gak akan kalian duga.. twingggg...
YOU ARE READING
Alexander sue
RomanceHanya dia dan malaikat kecil nya. Rani menegarkan bahu melewati kehidupannya. sampai sebuah skenario Tuhan kembali mempertemukan nya dengan luka yang sudah lama ia tutupi. Terlena ketika dibawa terbang membuat nya jatuh sejatuh jatuhnya... Ketika ka...
