3

180 65 11
                                    


"Semuanya, angkat kaki diatas kepala!"

"Lawak ego, dasar kumis"

"Aresta! Saya dengar ya kamu ngomong apa!"

"Lagian Pak, yang jelas instruksi nya, panas nih." Keluh Ares.

Berhubung Ares, Kala, dan juga Daren mengenai di apartemen milik kakek Daren, alhasil mereka pun telat pergi ke sekolah karena kesiangan.

Setiap sekolah memiliki peraturan, apalagi ini Megantara, sekolah favorit di Bandung, juga cabang nya pun tidak sedikit. Bagi siswa yang datang telat, wajib hukumnya untuk berdiri di lapangan selama 1 jam pelajaran, lalu mereka pun harus membersihkan area yang akan dipilih oleh guru paket hari itu.

Kebetulan, guru piket hari ini adalah Pak Manaf, guru yang mempunyai kumis hitam tebal juga ada beberapa rambut putih yang membuatnya lebih berwarna.

"Jangan bercanda, jangan ngobrol, awas ya kamu, Aresta." Pak Manaf memperingati mereka sebelum beliau masuk kedalam kantor.

"Kita kan bertiga, kenapa nama aing doang coba yang disebut?" Dumel Ares, tak lupa dengan alis tebalnya yang mengernyit karena kepanasan.

"Res, kalo lo ngomong terus, bisa-bisa kita jadi 3 jam pelajaran di jemurnya." Kata Daren pelan.

*****

"Kalandra Damian"

"Gak ada Bu, lagi di jemur di lapangan"

'Lho? telat?' batin Hazel.

"Memang kebiasaan trio ini, ganteng ganteng bangunnya siang!" Sindir Bu Citra, lalu melanjutkan kegiatan mengabsennya.

"Baik, untuk semuanya saja, dibuka halaman 54, hari ini kita membahas tentang apa saja gizi yang diperlukan oleh manusia." Jelas guru itu, lalu semua murid mengeluarkan buku biologi mereka masing-masing. Di jam pelajaran pertama, baru kali ini Hazel belum mendengar kicauan Kalandra.

45 menit mereka habiskan untuk mempelajari 2 lembar materi biologi, bel yang menandakan jam pelajaran selanjutnya akan mulai baru saja berbunyi. Tak lama, 3 orang laki-laki bertubuh tegap memasuki kelas XII MIPA 2.

"Pagi Hazel." Sapa Kalandra manis, walaupun keringat bercucuran di dahi nya.

Alih-alih menanggapi sapaan Kala, Hazel malah membuka ranselnya, lalu mengambil sapu tangan berwarna pink yang bertanda bordiran loopy di sisi kanan atas nya.

"Nih lap dulu, lo keringetan tuh." Hazel meyodorkan sapu tangan nya, dan Kala langsung menerima dengan senang hati.

"Hanupis Hazel"

"Hanupis?" Hazel mengernyit kebingungan.

"Muhun, Hanupis, Hatur nuhun pisan."

Hazel tertawa, baru kali ini ia tahu bahwa bahasa sunda pun punya singkatan seperti itu. Berbeda dengan Kalandra, cowok itu malah gagal fokus dan salah tingkah melihat Hazel tertawa.

'Gue bikin Hazel ketawa'
'GUE.BIKIN.HAZEL.KETAWA'

Kalandra menoleh ke arah Ares dan Daren dengan muka sombong, ia memamerkan sapu tangan Hazel seraya berkata 'gue dapet nih'.

"Kok bisa telat?"

"Hah?, Kenapa Zel?" Jawab Kala yang fokus nya terbagi.

"Kok bisa telat?"

"Kesiangan. Semalem kita begadang di apart nya Daren, main uno, order makanan, main tod juga."

"Tapi Lo gak minum kan?" Tanya Hazel pelan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kazel (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang