Pintu

20 2 0
                                        


"Assalamualaikum, pakett mbaa massss!" teriak Galih di depan pintu itu.

Dia, Galih Mahendra. Laki-laki yang tua usianya, namun bocah kelakuannya. Dia berusia 23 tahun, namun tidak banyak menunjukkan sikap dewasa yang sepatutnya dia miliki di umurnya sekarang. Parasnya tinggi, putih, rambut hitam tebal yang sering dia naikkan ke atas, membuat sedikit bertambah kegantengannya. Selain itu, Galih memiliki badan yang banyak disukai para wanita sekarang.

Saya pilih dokter Aditya Surya Pratama sebagai Roleplayernya.

Galih kuliah di salah satu Universitas terkenal di Jawa tengah dan mengambil jurusan Tata Boga. Sudah semester tua. Namun sama sekali belum mengubah sikap kekanak-kanakannya. Malahan, dia menjadi lebih aneh sekarang ini. Tugas dan mata kuliah yang bergantian selalu antri di kehidupannya menjadi alasan.

"Waalaikum salam," jawab Hana, ibu galih dari balik pintu dan membuka pintu itu.

"Ya ampun Galih, ibu kira paket beneran. Emang minta disunat lagi ya kamu" sambung Hana sambil membenarkan kerudungnya.

"Jangan dong Buk, hehe. Emang Ibuk pesan apa tho?"

"Nggak pesan apa-apa, Ibu menang give away peralatan masak dari Chef Juna tau Lih, tapi nggak tau belum sampe sini" jelas Hana.

"Ibuk, ibuk. Kalo pengen beli bilang aja sama Galih, Galih bisa ko beliin. Lagian, ibuk kan sudah banyak noh di dapur. Emang kaya apa sih?"

Di samping berkuliah, Galih juga bekerja di salah satu restoran dekat kampusnya. Untuk membiayai kuliahnya. Ya walaupun keluarganya terkenal kaya, galih tidak sepenuhnya bergantung pada keluarganya. Sebelumnya Hana juga melarang Galih untuk bekerja, namun seperti itulah Galih. Tidak dapat ditentang. Selama itu baik, dan tidak merepotkan yang lain, maka akan dia perjuangkan. Lagian juga dia bosan jika terus-terusan belajar. Memasak itu hidup Galih. Jadi Galih menganggapnya bukan sebagai pekerjaan. Namun hiburan.

"Ibu nggak pengen sebenernya Lih, tapi asal iku-ikutan aja. Emang dewi fortuna ada di pihak ibu aja"

Mereka berbincang sejak di pintu tadi, dan sekarang mereka ada di dapur. Hana membuatkan cokelat panas kesukaan Galih.

Setelah jadi, Hana memberikannya pada Galih.

"Gimana kuliahmu? Lancar? Oh iya, gimana sama Rindu?"

"Apaan tho Buk nanyain Rindu, orang ndak ada apa-apa. Kuliah lancar Buk, doain ya biar bisa cepet sidang skripsi"

"Ndak usah kamu minta ibu yo pasti doain Lih, kamu ndak usah kerja dulu aja, fokus sama kuliahmu"

"La malah kalo Galih ndak kerja jadi ndak semangat kuliah tho Buk,"

"Wes lah sakkarepmu"

"Ibuk ngegas tho" jawab Galih dengan tawa kecilnya.

Itulah Galih, jarang bisa serius.
Ngeselin.
Tapi,
Ngangenin.
Wkwk

HP Galih berbunyi.

"Hallo, dengan siapa di mana? Luwak White Coffe passwordnya?" candaan Galih yang langsung membuat tawa seorang di seberang sana.

"Waalaikum salam,"

"Eh Iya Assalamualaikum Ukhti," jawab galih setelah melihat nama Tata. Adik perempuan Galih satu-satunya yang tinggal di pondok pesantren.

"Mas sibuk nggak?" tanya Tata. Panggilan Mas menunjukkan seorang kakak laki-laki, namun bisa juga untuk yang lain.

"Tidak Ta, kenapa?"

"Tata nanti beliin kerudung yang warna-warni sama gamis ya Mas, ndak tau itu kerudung tata kok pada ilang"

"Iya Ta, butuh buat kapan?"

"Lusa Mas kesini ya,"

"Oke Ta, tapi pake ongkir ya,"

"Ongkir yang bayar Ibuk. Bulanan Tata abis nanti"

"Yo ndak bisa tho,"

"Sudah ya Mas, Tata mau siap-siap buat setoran, salam buat Ibuk. Assalamualaikum muaaaahhh"

Tutt

Tata mematikan telfonnya.

"Waalaikum salam"

Qonita Hanania Maharani, dipanggil Tata. Adik Galih yang ingin menjadi penghafal Al-Quran. Ia ingin memberihkan mahkota untuk kedua orang tuanya kelak di surga. Tata sedikit berbeda dengan Galih, lebih cuek dan jarang bercanda. Apalagi dengan orang yang tak ia kenal.

Galih menikmati cokelat panas bikinan Hana.
Tiba-tiba HPnya bunyi lagi.

Rindu

"Assalamualaikum Rin, ada apa"

"Waalaikum salam, kamu sibuk ndak?"

"Tidak. Lagi di rumah Ibu"

"Itu lih, Ibuku pingin ketemu kamu, dan ini amanah buat ngasih tau ke kamu"

Rindu Alisa Qotrunnada. TEMAN Galih. Tapi..
Udah pokoknya teman.

"Oh iya Rin, nanti pulang dari rumah ibu aku ke rumah kamu, sediain jajan yang banyak ya. Aku laper soalnya"

Mereka berteman namun sudah saling mengenal keluarga.

"Kalem Lih, udah tak siapin mangkok kotor sama piring kotor nanti cuciin ya"

"Iya nanti tak pecahin semua"

"Udah ah, edan kamu. Assalamualaikum"

"Waalaikum salam"

Tutt

Bibir galih melengkung. Hana melihatnya.

"Telfon sama Rindu pasti" tebak Hana.

"Ish Ibuk pengen tau aja kayak Dora the explorer"

"Yo tau wong Ibu kan Ibumu"

"Berarti Tata anak siapa Buk?"

Emang Galih minta dilempar vas bunga.

"Sini Lih tak masukin ke perut ibu lagi"

"Ampun Buk. Hahaha
Buk Galih mau pergi dulu ya," pamit Galih sambil mencium tangan Hana dan langsung lari.

"Mau kemana?" teriak Hana.

"Rumahnya Rindu"

"Oalah bener kan"

"Assalamualaikum"

"Waalaikum salam" jawab Hana dengan senyuman.

"Anak kok aneh" sambung Hana.

~~

"Assalamualaikum"

Tak lama kemudian, pintu yang Galih ketuk terbuka.

"Ehh, waalaikum salam. Ayo masuk" jawab Ani, ibu dari Rindu yang mengharapkan kedatangan Galih.

"Kenapa kamu Lih, kok jarang ke sini?"

"Ndak papa Mah, diancem sama Rindu katanya nggak akan dibukain pintu"

"Biasah kamu. Udah ayok nyuci piring"

"Ehh jadi Rindu serius Mah?" jawab Galih panik.

Panggilan Mah sudah melekat pada Galih untuk ibu Rindu. Sudah seperti anak sendiri. Ibu galih memang tak mempunyai anak laki-laki.

°~°

Hallo readers!
Semoga suka karya pertamaku yaaa

-HelloSS♡

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 05, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Be MineWhere stories live. Discover now