Satu

1.2K 54 7
                                        

"Mama udah telepon Tante Jani, biar nanti kamu sama Emily ketemu akhir pekan ini."

Revan mengernyit.

"Ma, gamauu," dengan nada dibuat-buat.

Plakkk

"Aduh, itu tas Mama bisa gak sih jangan nakal."

"Kamu ngatain Mama nakal? Kamu yang nakal dasar!"

Plakkk

"Duh Mama!"

Revan mengaduh kesakitan saat lagi-lagi Dina memukulnya dengan tas.

"Nakal! Udah tua masih aja kayak anak kecil! Disuruh nikah gak mau, disuruh kawin mau!"

Revan meringis.

"Kan Revan belum ada calon ma."

"Nah itu!!" Dina menggebu-gebu.

Revan mendelik, gak usah ngegas kali.

"Kamu dicariin sama Mama calonnya, gak mau. Nolak mulu. Terakhir kemarin, katanya kamu makan sama Nada cuman diem doang. Ga ngomong apa-apa. Mau kamu apa sih?!"

Revan teringat insiden minggu lalu, mamanya kembali mengatur kencan buta untuknya. Revan datang tentu saja, sudah beberapa kali ia mangkir dan selalu berujung kemarahan Dina. Kemudian, ia sengaja datang untuk menuruti keinginan Dina, tapi hanya sekadar hadir. Ngobrol? Enggaklah. Ngapain? Gak penting banget.

Dina masih tidak habis pikir dengan anak tertuanya ini. Sudah empat tahun ini dia main-main dan menurut Dina itu sudah cukup. Sudah waktunya untuk Revan mencari pendamping untuk seumur hidup. Bukan semalam suntuk.

"Mau Revan, Mama gak usah ngatur kencan buta buat Revan."

"Mama gak bakal ngatur kalau kamu punya calon sendiri!"

Dina masih emosi dan gemas terhadap anaknya ini. Udah tua tapi kok susah diatur ngalahin cucunya.

"Giliran bawa orang, aneh semua. Motong bawang aja dadu. Pakaian ketat. Wajah menor. Kamu bisa cari sendiri gak sih?! Yang beneran gitu, jangan asal-asalan! Jangan cuman buat alibi biar gak ikut kencan yang Mama atur kamu seenaknya bawa siapa aja ke rumah. Katanya gandengan, gandengan kok kamu lupa nama-nama mereka!"

Revan kembali meringis.

"Ma, udah malam tau." Revan mengeluarkan jurusnya.

"Ya terus kenapa kalau udah malam?! Mau ngusir Mama kamu???!"

"Ih enggak lah Ma. Astaghfirullah, Revan gak kayak gitu lah. Dosa. Apalagi Mama sendiri. Harus Revan jabanin dengan sepenuh hati, bukan?" Revan terkikik dalam hati.

Sebentar lagi, mamanya akan menyerah dan keluar dari apartemennya ini. Revan sudah tidak sabar menanti.

Astaghfirullah, durhaka gak ya.

Dina geleng-geleng kepala.

"Yaudah, Mama pamit! Awas kamu kalau minggu depan gak dateng!" Dina beranjak dari duduknya.

Sedangkan Revan mendengus dan mengangguk pasrah. Kali ini, apa ya yang akan dia perbuat?

Ngajak gandengan gitu kali ya, biar seru.

~~~

"Dan! Aldan!! Bangun udah siang dek, nanti kamu telat ke sekolah." Seorang gadis muda berusaha membangunkan adiknya. Adiknya masih kelas 11, wajar bila begadang karena bermain smartphone membuatnya susah bangun di pagi hari.

"Udah kak, kak Aldan biar Alya aja yang bangunin. Kakak langsung berangkat aja sekarang, bangunin kak Aldan biar ga telat nanti malah kak Rani yang jadinya telat." Gadis yang lebih muda muncul di pintu kamar Kakak laki lakinya, sudah lengkap dengan seragam SMP nya.

Fake Girlfriend And The Bad BossStories to obsess over. Discover now