"Papah berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Katanya sambil mengecup keningku. Itulah kebiasaanya setiap akan pergi. Romantis dan menyentuh.
"Iya pah. Waalaikum salam. Hati-hati, Pah. Gak ada yang ketinggalan kan?"
"Gak ada."
Suamiku seperti sedang terburu-buru, dia melangkah pergi menuju pintu pagar rumahku di mana motor Vespa matic-nya sudah dipanaskan beberapa menit yang lalu, suara motornya halus dan terdengar sampai ke dalam. Jika bepergian, suamiku lebih suka naik motor, bahkan pergi ke kantor. Lumayan sedikit mengurangi macet, katanya. Padahal dia sendiri membelikanku mobil.
Karena ini adalah musim kemarau, matahari di langit Bekasi pun cukup menyengat meskipun masih pukul 09.03 WIB. Spektrum cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang sudah mulai berguguran daunnya. Dan panasnya cukup reccomended bagi siapa saja yang ingin mempunyai kulit eksotis. Pagi ini, suamiku sudah tidak ada di rumah untuk pergi bekerja. Suamiku merupakan seorang tenaga pengajar di salah satu perguruan tinggi di Bekasi. Sekarang, tugasku hanya tinggal mengantar anakku pergi ke sekolah yang berjarak 301.014 sentimeter dari rumahku. Cukup jauh jika ditempuh dengan cara merangkak.
Sambil menunggu Kirana yang sedang mandi, aku membereskan meja makan dari piring dan gelas bekas sarapan. Akan aku cuci nanti setelah pulang mengantar Kirana ke sekolahnya.
Nah ini dia Kirana anakku, baru selesai mandi dan cantik. Berumur 14 tahun dan duduk di kelas 2 SMP. Tak terasa dia sudah besar. Padahal rasanya baru kemarin aku mengajari dia berjalan, mengajarinya mengenal huruf pada poster abjad yang tertempel di dinding, mengajari dia mewarnai. Sekarang, tiba-tiba aku harus mengajarinya menjalani kehidupan dunia remaja. Kirana yang sudah beranjak remaja ini harus benar-benar aku perhatikan agar tidak terjerumus pergaulan bebas. Apalagi sekarang, aku melihat remaja zaman sekarang kelakuannya aneh-aneh. Masih kecil sudah pacaran, sudah mulai merokok, tawuran, dan lain-lain. Sedangkan yang anak perempuan sudah jarang yang mempunyai alis orisinil. Yaitu, alis aslinya dikerok lalu digambar ulang dengan menggunakan pensil alis. Supaya apa? Pipi dibuat merah. Supaya apa? Menurutku itu lebih mirip istri korban KDRT yang ditampar habis oleh suaminya.
"Papah udah jalan, Mah?" Tanyanya.
"Udah." Jawabku. "Ayo berangkat, takut telat." Kataku. Hari ini Kirana masuk sekolah pukul 10.00 WIB.
"Baik mamah cuantiiiiiik…."
Di perjalanan yang tidak lain aku gunakan mobil untuk menempuhnya, aku sering mengajak Kirana mengobrol. Topiknya apa saja, mulai dari kesehariannya di sekolah, tentang pelajaran, atau aku hanya iseng bertanya apakah dia sudah punya pacar atau belum? Habisnya aku suka penasaran, sekalian memantau pergaulannya di sekolah.
"Gimana komentar Bu Nirma tentang puisi kamu?" Tanyaku sambil fokus memerhatikan jalan di depan. Bu Nirma adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia, beliau memberikan PR untuk membuat puisi.
"Dia memujiku, tapi aku gak seneng, aku biasa aja. Soalnya itu puisi buatan papah, bukan buatanku sendiri. Aku cuma senyum aja sambil bilang, makasih bu. Udah gitu aja." Jelasnya
"Oh gitu ya." Kataku. "Mama mau tanya, Dimas itu siapanya kamu?" Tanyaku sambil sesekali menoleh ke arah Kirana.
"Temen sekelas aku. Kenapa gitu?"
"Temen apa pacar?"
"Temen, Maaah."
"Bukan pacar?"
"Maaaah!!! Astagfirulloh." Tandasnya kesal sambil melipat kedua tangannya di dada. "Mama tau dari mana?"
"Mama gak sengaja liat hp kamu, ada yg WA namanya Dimas."
"Enggak aku ladenin, Mah."
“Ya udah bagus. Kalau bisa, kamu jangan dulu pacaran ya, masih kecil.” Kataku sambil memokuskan kembali mataku ke arah jalan.
"Ih mamah apaan sih! Siapa juga sih yang pacaran?" Jawab Kirana dengan bibir cemberut.
"Hehehe. Iya mamah bercanda kok."
"Mama kali tuh suka pacaran pas sekolah."
"Tau dari mana kamu?"
"Bukan tau, tapi aku menebak."
"Ya itu dulu banget."
"Tuh kan ketahuan. Hahaha." Kirana tertawa. "Dulu emang mamah pertama kali pacaran sejak kapan?" Tanya Kirana.
"Ah kamu pengen tau aja sih." Kataku ngeles. "Hmmm tapi seinget mamah sih dulu pas waktu kelas 3 SMA, itu juga ngumpet-ngumpet takut dimarahin sama nenek kamu."
"Tuh kan mamah juga suka pacaran waktu sekolah. Hahaha."
"Itu kan dulu."
"Terus waktu kuliah, mamah punya pacar?" Tanya dia.
"Mamah pacarannya sama anak kampus lain."
"Emangnya di kampus mamah dulu gak punya pacar ya? Mamah kan cantik."
"Udah ah kamu ini pengen tau aja deh, masih kecil tau."
"Ayo dong cerita Mah ayo." Dia memaksa.
"Iya nanti aja ceritanya, buruan masuk ah udah nyampe nih, Kirana sayang."
"Janji ya mamah mau cerita, mamah kan penulis. Pasti seru dengerin cerita mamah."
"Udah sana belajar dulu yang pinter."
"Iya. Dadah mamah, assalamualaikum." Kirana mencium tanganku.
"Wa'alaikumsalam."
Dia pergi melewati gerbang dan masuk ke sekolah. Sedangkan aku langsung memutar balik mobilku untuk pulang kembali menuju rumahku. Aku memacu mobilku dengan kecepatan 8400km/minggu. Di perjalanan, ditemani lagu Adelle berjudul Make You Feel My Love yang diputar oleh radio Prambors FM aku jadi teringat masa-masa indah di kampusku dulu gara-gara Kirana terus bertanya tentang itu. Padahal kenangan itu seharusnya sudah aku kubur dalam-dalam, kenangan yang seharusnya tidak tertulis di hidupku, dan kenangan ini memang sengaja ditulis olehnya untukku. Dia adalah pria gila yang pernah membuatku hampir gila, pria aneh yang membuatku seakan-akan menjadi Miss Universe di hatinya, pria menyebalkan yang selalu bisa membuatku merasa spesial melebihi mie ayam spesial, dan seorang jenius yang selalu membuat aku heran dan penasaran.
Dengan helaan nafas yang panjang dan dalam, aku bergumam dalam hati. Topan, iya itu kamu. Masih ingatkah perlakuanmu kepadaku dulu? Masih ingatkah rasanya mencintaiku dulu? Masih ingatkah kamu kalau hari ini hari Senin? Seingatku, hari senin selalu menjadi hari yang paling kamu benci. Saking bencinya, bahkan kamu enggan menginjakkan kaki di Pasar Senin (Senen). Dasar kamu, manusia unik, spesies nokturnal, "dasar gak jelas", yang dengan seiring waktu berjalan menjadi jelas. Iya, jelas, kamu sudah membuat aku mencintaimu.
.
.
.
.
.
.
Semoga kalian suka ceritanya. Ini adalah cerita yang sudah lama ditulis, tapi baru sempat revisi karena penulis cenderung lebih memprioritaskan urusan duniawi daripada tulisaniawi.
Selamat membaca, Rasakan Sensasi ROLLER COASTER pada setiap bab-nya...
ESTÁS LEYENDO
Tentang Aku, Kau, dan Nostalgia
Romance"Sarash, kan sudah kubilang... Cape-capean, Repot-repotan, dan pusing-pusingan itu sudah tugasku. Sedangkan kamu jangan. Oleh sebab, tugas kamu cuma bahagia..." Ujar Topan, kepadaku. Begitulah dia, aneh, tapi aku suka. Namaku Sarash, dan aku adalah...
