Menemani Hujan

28 2 0
                                        

Aku menunggu dibawah hujan

Ingin menemui yang sulit ditemui di saat – saat lain

Saat langit malam berbintang ia menerawang semesta

Saat fajar terbit ia masih terlelap

Saat petang cerah terik surya, ia pergi kepantai untuk berjemur

Menggelapkan kulit putihnya yang bening

Yang padahal ia seorang pria

Toh tidak ada salahnya seorang pria berkulit putih

Putih atau hitam jenis kulit kan bukan hak manusia,

Semesta yang bekerja

Saat senja ia duduk dibawah pohon ditengah persawahan pak lurah

Disana teduh katanya

Dapat membungkam jeritan – jeritan duka yang menyeruak

Apalagi saat berangin, dia sangat aktif

Ia bisa tersenyum lepas, tapi tidak padaku

Menyapa setiap ilalang di padang lalang yang kian ia datangi

Seolah ilalang – ilalang adalah penenang

Pembuat senyum mengembang

Dia kata, ilalang saat berangin adalah wajah semesta yang palng ceria

Aku hanya menelisik makna semesta baginya

Saat hujan begini, ia paling berdiam diri dirumah

Sebab itu aku menunggu dibawah hujan

Untuk menemui rumahnya yang selalu berpindah

Aku berjalan meraba mencari mana rumah yang tepat

Tanpa fikir panjang aku buka sebuah pintu menyelonong saja

Toh tebakan ku benar, itu rumah ia

Dimana ia berdiam diri di kursi kayu sembari menelisik kelopak mawar yang biasa ia petik saat senja

"Mawar dari mana lagi ? Dan tidakah salah seorang pria menyukai bunga ?"

Aku bertanya sambil berdiri di depan pintu dengan baju basah, tubuh basah, hati basah

"Hmmm, mawar ku, aku meyukai nya, yang ku lihat adalah mawarku. Yang ku pegang adalah mawarku, semua mawar adalah mawarku. Meski tidak semua bisa aku miliki, namun semua mawar adalah mawarku. Tidak ada yang salah tentang menyukai, karena kau tidak bisa memilih, kau dipilih untuk menyukai apa yang telah semesta gariskan."

Dia tidak mempersilahkan ku duduk

Aku bersandar saja pada dinding , yang membayangkan bayang setiap bayang – bayang

"Kau senang hujan ya ?"

Aku Tanya saat wajahnya masih memandang mawar dengan tenang

"Ya"

jawabnya sambil tersebyum kecil, namun tidak dengan menatap atau sekedar sekilas saja melirikku.

"Aku melihat kau takut sekali kehilangan hujan walau sebentar"

"Bukan takut, aku hanya ingin memenuhi hujan dengan tenang."

"Bukankah hujan yang memenuhi mu ? sampai kau tenang ?"

"Bukan, aku selalu tenang selalu riang, meski hingar bingar. Makanya aku harus tenang, agar hujan juga tenang. Aku hanya menemani hujan jatuh, karena aku tahu jatuh itu meremukkan apapun. Kau tau langit ?"

"Langit mana yang kau maksud ? Langit mulut ku ?"

"Langit yang banyak digandrungi harapan. Selalu saja hujan yang mengalah pada kita bung. Langit terlalu malu menjatuhkan harapan yang kita gantungkan padanya. Tapi tidak dengan hujan. Hujan dan harapannya selalu dilepaskan begitu saja, sampai jatuh dan meremuk. Hujan selalu mengalah. Hujan selalu tabah. Aku ingin menemaninya"

"Bagaimana dengan pembunuh yang sering masuk dari pintu belakang gubuk mu ini saat hujan?"

"Kau tidak akan pernah tahu bung, kau mencoba mencari aku? atau kebenaran ku ?"

"Ah maaf, satu lagi"

"Bisakah kau menghidup dihidupku"

"Pergilah aku ingin menemani hujan, berikan kami ruang untuk saling menghangati hati. Pergilah."

Aku pun kembali menunggu dibawah hujan melangkah keluar,

Merasai apa yang ada sebenarnya tiada bagiku.

_ Siapa yang mengenalnya ? Kenalkan padaku_

Siapa yang kenal? Kenalkan PadakuDes histoires addictives. Découvrez maintenant