AM I ? [Prolog]

745 38 6
                                        

AM I ?


---oo---

Kilatan lampu kamera yang bertubi-tubi menyilaukan matanya, lelah untuk menepis, tak tergoda untuk terlihat sempurna, yang ia harapkan bisa kembali ke mobil tahanan dan menyudahi sesi pertanyaan wartawan-wartawan media dengan cepat. Hal terpenting hari ini baru akan dimulai di pengadilan. Dia menatap langit pagi yang cerah dengan sinar mentari kekuningan, lalu tersenyum kecut ke arah sana seraya berkata di dalam hati, 'mungkin ini pagi terakhir sebelum kerumitan sidang demi sidang melelahkan berakhir, atau mungkin ini pagi terakhir sebelum kematian menjemput jiwanya yang lelah.'

Matanya kuyu, seolah ingin lepas dan membiarkan sesuatu yang lain mengisi raganya, mengalir kekosongan yang damai.

"Kakakmu mati terbunuh, kenyataan itu benar atau sekedar omong kosong Penuntut Umum?"

Gadis itu tersenyum. "Dia memang dibunuh."

"Kenapa kau melakukan itu? Apa yang membuatmu membenci kakakmu?" suara sinis reporter televisi mencoba menyulutnya.

"Pertanyaan bodoh, tentu saja aku menyayanginya."

"Tadi kau mengatakan kalau kakakmu memang mati terbunuh."

Dia tak langsung menjawab, menatap kedalam mata reporter lelaki itu, lalu bersuara dengan sunggingan senyum mencela.

"Kau memang wartawan yang idiot! Maksudku dia memang dibunuh, tapi bukan kami yang melakukannya!"

"Kami? Kami itu anda dan siapa?"

"Tak ada waktu untuk menjelaskannya, aku cukup lelah, terlalu banyak suara-suara bising ditelingaku."

"Kau yang membunuhnya!!!" sergah wanita tua yang tiba-tiba muncul di antara kerumunan.

Gadis itu menjawab dengan intonasi yang sama tenangnya. "Sudah kubilang, itu bukan aku."

"Lalu siapa pelakunya? Coba sebutkan satu nama!" pinta sebuah suara di dekatnya dan juga beberapa suara lain yang memberondong dengan pertanyaan sejenis.

"Kalian bisa lihat nama-nama itu di koran dua hari lalu. Foto-foto mereka memenuhi halaman pertama."

"Siapa yang kau maksud?" Suara-suara wartawan makin gencar bagai selongsong peluru yang menyerbu.

Dia tak menjawab, mengalihkan pandangan dengan ekspresi malas.

"Kenapa kau tidak mau keluarga, teman dan orang-orang yang peduli mengunjungimu? Apa kau memang anak perempuan yang membenci sosialisasi?" celetuk sebuah suara dari barisan paling belakang.

"Kalian tidak tau apa-apa, aku tidak membenci sosialisasi, tetapi sosialisasi selalu menjebakku." Gadis itu terkikik.

"Apa maksudmu?"

"Biar aku jelaskan...," nada suaranya berubah bijak. "Manusia terlalu banyak bercerita dan mengeluh tentang kemalangannya, tapi tidak mau berbuat untuk mencoba memperbaiki keadaan. Solusi dan niat baikku tidak pernah ditanggapi. Setiap cerita dan keluhan menyeretku dalam duka dan luka hati yang sama seperti mereka. Kami mengetahui semua tetapi dipaksa diam dan jadi penonton kehancuran orang-orang itu. Ingin mengacuhkan, tapi mereka adalah temanku, mereka adalah keluargaku."

"Yang kedua, mereka terlalu banyak bicara dan memaksakan norma kesopanan dan ajaran agama yang ketat. Menakut-nakutiku tentang cerita hari kiamat dan kematian yang menyakitkan sewaktu aku kecil dan baru mengerti arti dunia, hingga aku tidak bisa menikmati hidup dan seringkali terkucil dalam rasa takut yang samar. Intinya aku benci pembicaraan." Ucapnya tetap tenang.

"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Kau bicara tidak seperti usiamu yang belasan dan kau terlalu sinis mengartikan segala hal anak muda. Tapi apapun itu, bukan alasan tepat untuk membenarkanmu mengambil nyawa manusia secara paksa."

Gadis itu diam, lalu menunduk ke permukaan meja. Kedua tangannya mulai mencengkram erat rambut-rambut di kepalanya.

"Apa yang kau rasakan di kepalamu? Kau merasa sakit?"

"Aku tidak pernah merasa sakit. Sakit bukan bagian dari diriku, yang aku punya cuma kemarahan!" suara itu berubah parau.

"Kemarahan dan kebencian akan menghancurkan manusia dari dalam." Tukas seorang wartawan pria berbadan kurus.

"Kau tidak tahu apa-apa ceking, jangan berfalsafah dihadapanku!" suaranya lantang dengan sorot mata yang bengis.

"Kau sepertinya benar-benar tidak menyesal dengan perbuatanmu, kau akan merasakan neraka di penjara. Di sana kau akan terdiam dan tak sanggup lagi memelihara keangkuhanmu. Siksaan dan kurungan akan membuat kau merenungi waktu-waktu kehidupanmu selama ini gadis kecil."

Kemarahan di matanya redup secepat kilat, ekspresinya kembali terlihat tenang. "Penjara adalah kemungkinan terbaik, teman! Orang-orang itu akan mengirimku keliang lahat sebelum kalian menyadarinya."

"Lagi-lagi anak ini mulai berkhayal seperti yang dilakukannya di ruang sidang." Celoteh sebuah suara manusia yang entah darimana asalnya.

"Anggap saja aku tukang khayal jika itu membuat kalian senang. Satu pesanku! Aku mungkin akan kalah di kehidupan ini, tapi rasa bersalah akan menghukum mereka yang menyakitiku."

Beberapa orang menggeleng-gelengkan kepala. Sebagian lagi mendecak tanpa arah, selebihnya tetap serius merekam percakapan.

"Dasar anak gila!" beberapa suara gumaman terdengar hampir serentak.

"Siapa orang-orang yang akan membunuhmu itu?"

"Pasti kutunjukkan nanti bila saatnya tiba." Gadis itu berdiri dari tempat duduknya. "Dan waktunya hanya beberapa jam lagi dari sekarang, bersabarlah." Sambungnya seraya melempar senyum.

"Jihyun, ibumu terlihat menderita. Tetangga-tetangga melempari dia dan adikmu dengan batu karena memiliki anak pembunuh. Apa kau tahu itu?" seorang reporter kembali memancing emosinya.

Senyum di wajah Jihyun menipis, kemudian perlahan menghilang. Gadis itu kembali terduduk, kali ini dengan menutup telinga. Suaranya terdengar meringis seperti menahan rasa sakit yang sangat hebat. Sepasang tangan polisi memaksanya dengan kasar untuk berdiri, kemudian menggiringnya ke sebuah mobil berkaca gelap yang di parkir dua puluh meter dari keramaian. Ia berjalan melewati kerumunan dengan dikawal setengah lusin polisi berseragam dengan langkah terseok-seok, masih dengan posisi tangan menekan erat kedua telinga.

'Tetangga-tetangga melempari dia dan adikmu dengan batu karena memiliki anak pembunuh....'

"Hei.. Jihyun!!! Apa kau tidak kasihan melihat keluargamu menderita karena dosamu?" reporter yang sama menarik lengan sweaternya dari belakang.

Gadis itu menoleh dengan tatapan sekelam malam. "Jangan bicara denganku!" suaranya parau berbaur dengan desisan seperti ular.

TBC

AM I ?Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora