Hujan Dan Kenangan

13 1 0
                                        

ENTAH kenapa setiap rinai hujan selalu membawaku pada sebuah cerita tentangmu. Seperti tahun itu, tepatnya November. Masih selalu kuingat kala malam membawaku bertemu denganmu di tengah keramaian yang bahkan aku sendiri tak sadar bahwa kau salah satu orang yang akan membuatku jatuh cinta. Hujan deras yang tak pernah bisa menjelaskan iramanya, hanya menjadi saksi ketika pertama kali kau memijakkan kaki di kota kecilku. Mungkin kau berpikir tentang hujan yang menyebalkan di tempat asing yang kau kutuki. Kau sempat bilang kau ingin pulang saja. Kalau tak ada tugas dari kampus, bisa jadi kau sudah kembali ke kota besarmu. Lain denganku, yang selalu menganggap tempat ini adalah tempat terindah. Tempat yang memberiku banyak hal berharga. Tempat yang mengajariku banyak pelajaran hidup. Mempertemu-kanku dengan orang-orang yang luar biasa hingga cerita cerita baru muncul dalam hidupku termasuk kamu.

Tapi kini hujan tak seindah itu. Rinainya tak lagi senandungkan lagu. Mendungnya membuatku takut jika kenangan tentangmu enggan berlalu. Bahkan saat aku sadar kau sudah menjadi sebuah kisah, yang dijatuhi hujan bukan hanya tanah, tapi pipikupun ikut basah. Payung hanya sanggup melindungiku dari air, tapi tak sanggup membendung rindu yang terus mengalir. Aku sudah tak ingin bermain dengan hujan, karena aku pun takut bermain dengan kenangan. Hujan memberikan bekas yang tak bisa hilang meski airnya menggenang, entah dari ingatan yang terdalam atau luka yang kau goreskan. Bagaimana hujan bisa selalu turun sedangkan aku saja merasa jatuh itu sangat sakit?

Mengutuki hujan adalah hal yang kemudian kulakukan. Aku berlindung pada tempat tempat teduh untuk tidak terguyur kenangnya. Bukan hanya di kota kecil ini, tapi di tempat mana pun di mana air dari langit itu dijatuhkan, aku selalu mengutukinya. Bukan hujan tepatnya, tapi kenangan yang ada di dalamnya. Aku tau jalan pertemuan sudah digariskan, dengan siapa dan bagaimana ceritanya. Mungkin jika senja yang memisahkan kita, bisa jadi aku tak lagi menyukainya, jika pagi yang membuat kau pergi, mungkin saja aku tak pernah ingin terbangun dari tidurku untuk menyambut-nya. Sebegitu parah perasaanku. Tapi mana mungkin kau mau tau. Sebenarnya aku tak ingin menghapus kenangan di kala hujan, aku hanya ingin ketika mengingatnya aku tak merasakan sakit.

Di tempat ini di mana pertama kali kita dipertemukan, aku selalu terjebak hujan dan semua tentangmu. Kau bisa saja berada di sana di tempat yang kita tak pernah ada, sedangkan aku masih di sini hingga jejakmu tak ada lagi. Sepertinya baru kemarin kita bertemu, baru kemarin kau ucap rindu, baru kemarin kau buatku percaya, tapi nyatanya manusia mudah berbolak balik hatinya. Aku memaafkan hujan, karena bukan sepenuhnya sakitku berasal darinya. Dulu aku pernah berdoa agar hujan cepat reda dan kenangan kita lekas sirna, tapi saat aku rindu ternyata aku mau hujan tak segera berlalu. Karena nyatanya hujan yang jatuh lebih menyenangkan dari pada kau yang datang lalu pergi meninggalkan.






"
Payung hanya
Sanggup
melindungiku
dari air, tapi tak

sanggup
membendung rindu

yang terus
mengalir

"

Jalan PertemuanWhere stories live. Discover now