"MATI AJA LO! GAK SA IDUP!! GEDEK LIAT MUKA LO LAMA LAMA PENGEN BERAK AJA BAWAANNYA!"
"EH KAMBING CONGEK! NGACA MUKA LO UDA KAYA TAUCO BASI!"
Maico melebarkan matanya kesal, cowok itu meraih batu dibawah ia berpijak lalu ingin melemparnya kearah cowok brengsek didepannya.
"Sabar co, anjir emosian lo jadi manusia. Gak usa diladenin emang kurang waras tuh bocah." Delvin meraih jaket bomber merah yang dikenakan Maico yang masih menahan kesal. Cowok itu menelan salivanya melihat Gary menunjukkan bokongnya sembari menjulurkan lidah tak lupa tawaan kecil lalu berlari menjauhi mereka.
"Perasaan Lo susah amat deh baikan sama Gery. Gue saranin sama lo, udahin dendam nya lebih baik temenan biar nambah pahala." Ceramah Delvin meneguk fanta botol yang baru ia bawa untuk menyegarkan tenggorokannya.
Maico menunjuk dirinya tidak salah, baikan? Cuih! " Lo nyuruh gue minta maaf? APAAN!! DIA YANG MULAI" maico kembali terbawa emosi, dadanya naik turun tidak beraturan. Ia masih membayangkan bagaimana nantinya jika ia dulu dulu meminta maaf, bagaimana harga dirinya yang ia topang selama ini? Hancur berantakan karena salah satu pemain kartun di RCTI yaitu Gary.
"Gue gak bilang minta maaf"
"Tapi kan baikan butuh minta maaf."
"Gak juga"
Maico berdecak melirik Delvin. Pokoknya ia tidak mau, masalahnya ini bermula karena dirinya tidak terima 'alika mantan pacarnya berpacaran dengan Gary setelah acara putusnya dua Minggu setelah itu.'
"MALVIN!" Teriak Delvin sembari melambaykan tangannya, ia tersenyum meringah menatap Malvin yang berjalan kearahnya.
"Abis dari mana Lo? Kelas Vika?"
"Hmm. Ngapain?" Malvin membuka satu kaleng fanta yang tergelatak didepannya lalu meneguknya. Jakun tajam milik Malvin bergerak maju mundur setelah itu berhenti ketika cowok itu menunduk.
" Kurangin PHP Vin. Kasihan"
"Ngapain Lo manggil gue? Minta serep? Banyak noh dikelas IPA." Malvin duduk sembari menegakkan badannya. Sudah lebih dari dua jam ia duduk dan sekarang harus kembali duduk.
"Boleh?" Tanya Delvin memastikan
"Boleh lah, mau siapa? Gysel ada, Mutia ada, wiska ada. Icha ada. Miranda ada. Kecuali Alana, She is my mine." Tegas Malvin mengeluarkan ponselnya, mengecek satu pesan yang baru masuk. Bibir manis dan tipis miliknya tiba tiba membentuk bulan sabit, ia terkekeh pelan sembari membiarkan jari jari panjang miliknya menari menari disana.
Alana:
Boleh, sekitar jam tiga aja kak soalnya sekalian mau beli buku.
Malvin:
Terserah, asal lo pergi nya sama gue.
Lima beras detik Malvin mengirim balasan nama Alana sudah muncul kembali diatas pesannya. Lagi lagi Malvin tersenyum, tidak salah ia memilih ternyata Alana contoh perempuan yang fast respon ditambah paras yang cantik salah satu target Malvin mendekati Alana, yah itu. Cantik dan kalem, tidak seperti perempuan lain yang ia dekati, terlalu bar bar dan sok cuek tapi mau atau biasanya bisa dibilang malu malu tapi mau.
Alana:
Kak Malvin Uda makan?
Entah setan dari mana Alana mengirim pesan seperti itu. Hatinya sedang berbunga bunga sekarang, didekati oleh Malvin yaitu salah satu cowok terkenal disekolahnya, walaupun ia tau bagaimana sifat Malvin yang membuat sebagian para wanita membenci nya sedikit, karena ke playboy an cowok itu. Bagaimanapun juga kebencian mereka bisa terkalahkan dengan ketampanan milik malvin, Termasuk gombalan yang membuat Alana sendiri mati kutu ketika mendengarnya.
YOU ARE READING
Playboy
Teen Fiction"percuma gue pilih satu cewek kalo akhirnya dia yang dua in" Malvin.
