Matahari baru menampakkan sebagian wajahnya. Menyisakan semburat merah yang mulai menyebar di permukaan langit. Membuat cahaya keunguan sebab merah bercampur dengan biru. Indah, sangat indah jika andai aku melihatnya bersama dia.
Aku duduk di kursi buatan yang dibuat tepat di bawah pohon kenangan itu. Menghadap kearah bendungan. Menikmati gemuruh air. Menarik nafas berat. Aku diam dalam tangisku. Membiarkan suara gemuruh air, kicauan burung, dan sikembar yang bermain dibelakangku. Sungguh, aku sangat rindu.
Jam menunjukan pukul 05:30. Terlalu pagi untuk mengantar sikembar ke sekolah. Aku memilih singgah sejenak di bendingan ini. Bendungan, pohon, dan kenangan. Mereka bersatu di fikiranku dan menetap di hatiku. Entah kapan rindu ini akan bersua. Padanya, yang jauh disana. Ingatanku kembali membuka memori-memori itu.
21 tahun yang lalu
Jam 11:15, matahari sudah mulai tinggi. Panas membakar kulit. Aku berada di barisan terakhir dari antrian tes pemilihan jurusan. Banyak yang sudah mulai mengeluh. Jongkok, tapi tidak sampai keluar dari barisan. Takut kehilangan antrian. Ratusan calon kelas 1 berbaris di depan 5 ruangan. Satu persatu masuk. Tes lisan.
Aku menunduk, lebih karena menahan panas. Sesaat kemudian matahari meredup. Anehnya, hanya ditempatku berdiri redupan itu ada. Aku mengangkat kepalaku. Menoleh kebelakang. Mendapati seorang lelaki tinggi semampai disana. Aku menatapnya.
"Kenapa?" Ucapnya sambil menaikan kedua alisnya. Aku menggeleng. "Bukan apa-apa" sahutku, kembali menunduk.
"Mau!??" Ia menyodorkan sebotol air mineral.
Matahari yang terik, panas yang menyengat. Itu sudah bisa mebuatku dehidrasi. Demi gengsi aku menggelengkan kepala.
"Oh!..ya sudah" ia pun membuka tutup botol. Meneguknya dan sengaja diperlihatkan padaku. Aku menelan salivaku yang sudah mulai kering.
Ia meliriku sebentar. Lalu melemparkan sebotol air mineral dingin. Akupun meminumnya. Melupakan tentang gengsi tadi.
"Terima kasih" ucapku. Ia mengangkat sebelah alisnya.
"Ngomong-ngomong namaku Angkasa. Panggil saja aksa. Lengkapnya Angkasa putra bapak"
Aku menyerngitkan dahi.
"Kamu tidak sedang bercanda bukan?"
Ia tertawa renyah.
"Aku bercanda. Namaku Angkasa darsyah. Siapa namamu?"
"Nova. Nova mentari"
Keheningan tercipta diantara kami. Aksa menghabiskan air mineralnya. Aku menyimpan air mineral ditasku. Awan menutupi matahari. Mambuat sejuk walau sesaat. Kita maju selangkah. Seorang calon siswi keluar dari ruangan ujian. Tersenyum senang.
" mungkin dia berhasil menjawab semua soalnya" celetuk aksa. Aku mengangguk.
"Kamu mau masuk jurusan apa?" tanya aksa kemudian.
"Entah. Aku berserah pada hasilnya nanti"
Aksa mengangguk tanda mengerti.
Pesawat lewat jauh di atas kami. Aksa melihat keatas
"Aku punya teka-teki buat kamu mentari"
"Tunggu!!"potongku. "Nama panggilanku nova bukan mentari"
"Aku lebih suka memanggilmu mentari"
"Ok. Jadi apa teka-tekimu tadi Angkasa?"
"Hey... namaku Aksa!"
"Aku lebih suka memanggilmu Angkasa"
Angkasa tertawa.
"Kau meniruku!" protesnya. Aku ikut tertawa.
"Okay. Jadi apa teka-tekimu?" tanyaku mulai serius.
"Kenapa pesawat jika sedang mengudara, tidak bisa mundur?" Wajahnya sangat antusias saat melihat wajahku yang sedang berfikir.
Aku mengerutkan kening. Berfikir sejenak, lalu menggeleng tanda tak tahu.akupun menyerah.
"Karna pesawat nggak ada kaca spionnya"
Aku tergelak aksa tertawa hingga tertunduk.
Matahari boleh terik, panas boleh menyangat. Tapi tak ada yang bisa menghentikan aksa dan aku kala itu. Ia selalu melontarkan teka-teki konyol. Hingga tak sadar sudah giliranku untuk masuk ruangan tes. Dia melambai.
"Semoga sukses" ucapnya memberi semangat.
"Semoga kita sekelas" batinku.
Siang itu, di bawah teriknya matahari. Aksa, orang yang baru kukenal, telah memikatku. Kehumorisanya, segala tentang dia, aku suka. Dan siang itu, aksa telah menanamkan bibit-bibit dihatiku. Aku menggenggam bibit itu. Aku akan menjaganya. janji.
Si kembar menarik kedua tanganku. Kenan dan Kinan. Membuat lamunanku buyar.
"Kita harus kesekolah sekarang bunda" ucap kenan sambil menunjuk jalanan yang mulai ramai dengan siswa berseragam sama dengan sikembar.
Aku mengangguk. Menggiring si kembar masuk ke mobil. Kenan berlarian mendahului kami. Kinan mengejar kakaknya. Membuat rambutnya yang dikuncir dua melambai-lambai.
Di perjalanan, mereka sibuk mengoceh. Melambai pada teman-teman mereka. Baru dua bulan si kembar masuk sekolah dasar. Sifat mereka yang mudah bergaul membuat mereka memiliki banyak teman.
Seharusnya aku tidak merasa sedih. Begitu banyak nikmat yang belum aku syukuri. Contohnya si kembar yang selalu ceria. Wajah polos, senyum riang, dan mata jenaka, siapa yang tidak akan tersentuh. Aku mengelus kepala kenan dan kinan.
"Kita sudah sampai" ucapku.
🌱 🌱 🌱
Klik⭐
In here [Thank you 😀]
⬇️
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa tanpa mentari (Hiatus)
General FictionHubungan bertahun - tahun yang lalu masih bisa dirasakan hingga sekarang. Mentari tahu angkasa tak bisa hidup tanpanya. Akan tetapi angkasa maninggalkannya sebelum ia sadar bahwa mentari adalah hidupnya. Angkasa tanpa mentari. Kesedihan yang penuh...
