Part 1

14 1 0
                                        

"Aku gak suka liat kamu terlalu deket sama Wira. Aku ngerti kalian sahabatan, tapi sahabat juga ada batasannya, Krystal."

Rasanya sudah terlalu sering baginya mendengar kalimat di atas. Gadis yang bernama Krystal itu menggigit bibirnya kecil. Sedari dulu, dengan siapapun ia berpacaran, kalimat tersebut selalu ada di tengah hubungannya. Seolah kalimat tersebut sudah menjadi suatu pertanda akan berakhirnya hubungan yang ia jalani.

Dan, Krystal sudah bisa menebak selanjutnya kekasih -eerr yang mungkin akan menjadi mantan kekasih sebentar lagi- itu akan berbicara. "Sekarang aku tanya, kamu lebih milih aku atau Wira?"

Bagai matahari yang berpasangan dengan bulan, siang dengan malam, hitam dengan putih, kalimat tersebut merupakan pasangan dari kalimat pertama. Ketika kekasihnya protes akan kedekatannya dengan Wira, ujung-ujungnya mereka akan memberi pilihan yang tentu saja bisa dengan cepat Krystal putuskan.

Krytal memilih Wira.

Bukan tanpa alasan.

Bukan karena dia suka Wira.

Tidak.

Karena Krystal tidak cukup bodoh dengan memilih seseorang yang baru dia kenal dibanding Wira yang sudah menemaninya dari jaman orok. Dari Krystal yang kerjaannya suka makan upil sampe jadi Ning yang ngewakilin Jakarta pas hari Kartini.

Iya, Krystal dan Wira sudah bersahabat sejak mereka masih kecil. Bahkan, ketika mereka masih berada di dalam kandungan, kedua orangtuanya sudah dekat. Alasan itulah yang membuat Krystal dan Wira sebegitu dekatnya layaknya pasangan.

Well sebenarnya tidak hanya Wira, Krystal juga dekat dengan Samudera, adik Wira. Hanya saja karena Wira dan Krystal seumuran makanya orang-orang banyak menganggap kalau mereka pacaran.

Dan itu juga yang jadi alasan Krystal putus dengan para pacarnya.

Dari awal Krystal pacaran, sampai sekarang ia duduk berdua di mobil bersama Raka -pacarnya- ujung dari hubungannya tak lain dan tak bukan karena seorang Wira Adhitama. Mereka dibuat cemburu akan persahabatan Krystal dan Wira, juga memang mereka seolah tak mengenal batas dalam hal sekadar bersahabat.

Krystal pun menyadari itu. Tapi ia tidak ambil pusing. Ia tetap akan memilih Wira lalu mencari pria yang lain.

Lalu kenapa Krystal tidak pacaran saja dengan Wira?

Itu adalah hal yang berbeda.

Sejatinya mereka hanyalah bersahabat, jika dipaksa untuk berpacaran rasanya berbeda.

Krystal memang sangat menyayangi Wira, namun rasa Krystal kepada pacarnya berbeda dengan rasa Krystal kepada Wira. Jika memang mereka tidak mau mengerti dan tetap ngotot agar Krystal menjauhi Wira, Krystal tak segan mengakhiri hubungannya walau jauh di sana ia merasakan sakit hati yang luar biasa.

Tenang, ada Wira yang jadi penawar.

"Gak bisa jawab kan, kamu?" Raka kembali berbicara setelah suasana hening akibat Krystal yang diam tak bersuara.

"Kamu jangan jadiin Wira sebagai pembelaan kamu dari perselingkuhan kamu sama Jennie."

Omong-omong, selain karena Wira, alasan pertengkaran mereka kali ini juga karena Raka yang bermain di belakang Krystal.

"Aku selingkuh sama Jennie juga karena kamu gak pernah mau nurut sama omongan aku."

Krystal tertohok, merasa sebagian dirinya hancur. Raka mengatakan itu dengan entengnya seolah perselingkuhannya dengan Jennie bukan masalah yang besar.

Padahal, se deket-deketnya dia dengan Wira, tidak sama sekali terlintas dipikiran Krystal buat selingkuh.

"Gak pernah nurut yang mana sih, Ka? Yang masalah Wira? Kita cuma temenan, gak lebih." Krystal menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang bisa kapan saja tumpah. Ia kemudian berkata secara lirih, "i just loved you."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 24, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hurt RoadCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang