"Sekar ... tolong kamu tuh percaya sama aku Kar? dia itu sayang banget sama kamu, bukan berarti aku tuh belain saudara ku sendiri, liat aku sebagai sahabat kamu. Kenapa sih kamu itu keras kepala dan percaya sama orang lain yang jelas-jelas pengen merusak kepercayaan kamu tentang dia? Buka mata kamu Kar, bukan begini," lirih Yusra yang ku anggap terus saja membela saudara tirinya.
Yusra memiliki saudara tiri dan kenyataan itu menyentakku yang selama ini ternyata aku gak sedekat itu dengan Yusra buktinya aku gak benar-benar kenal dengan keluarganya yang aku tahu Yusra punya kakak kandung laki-laki yang sudah menikah dan menetap di Depok, bukan saudara tiri. Kenapa dia gak pernah cerita sih? Apa yang sudah terlewatkan oleh diriku tentang sahabat ku sendiri?
Kulirik Yusra yang masih berdiri di depan pintu kamarku sambil menatap sendu ke arah ku.
Masih jelas kuingat saat Raihan memeluk seorang gadis tepat di saat aku hendak menemuinya di kantornya yang memang cukup jauh dari tempat kerjaku sekarang. Yang sempat ku curi dengar dari percakapan teman kantornya saat jam pulang kantor pada saat itu teman-temannya berpapasan denganku di tempat parkiran motor.
"Gilaa ... ya, si Rai bisa banget nyembunyiin yang seger begitu dari kita, pantes kalo tiap ditanyain tentang pasangan, bisa banget ngeles-nya, ekh ... taunya udah punya tunangan, bening bener tuh cewek. Sayang banget tuh cewek udah ada yang punya," ujar temannya sambil mengeluarkan kunci motor dari sakunya.
Tidak lama teman lainnya menimpali "kenapa ya? Rai gak jujur aja sama kita, jadi ngerasa bersalah gitu karena kita sempat jodoh-jodohin dia dengan cewek dari divisi purchasing. Soalnya kan dia selalu bilang belum saatnya, pinter bener dia kalau ngomong, wahh kita kalah saing nie sama Rai Hahaha," kekeh teman lainnya.
Dadaku sesak, aliran darahku langsung merespon cepat ke jantungku yang degupnya terasa kencang.
"Ekh ...." nafasku tersentak.
Dan tanpa kusadari mataku terpaku melihat raihan memeluk serta menggandeng tangan seorang perempuan yang tak ku kenal yang tadi di sempat di bicarakan temannya baru saja, hingga aku berusaha menahan air mataku yang tak tertolong lagi hingga bulir air mata jatuh turun dari mataku. Namun, tetap mencoba menguatkan diri.
Tiba-tiba temannya sengaja menyikut teman lainnya yang masih terkekeh kecil, saat mata mereka melihat ke arahku. Yang mungkin mereka merasa tak enak karena beberapa kali sempat berpapasan juga denganku saat aku tengah bersama beberapa waktu lalu.
Aku memang memakirkan motorku tak jauh dari motor mereka. Hingga kulihat mereka melemparkan senyuman tipis kearahku yang mungkin mereka sadar pembicaraan mereka tertangkap oleh pendengaranku.
Aku pun membalas dengan senyum tipis pula yang dipaksakan. Mencoba berpura-pura tidak mendengar pun tidak mungkin. Jadi selanjutnya yang ku lakukan kembali menaiki motorku dan mengendarainya secepat yang ku bisa. Menghilang dari sini.
Dan saat motorku berhenti di loket pembayaran karcis. Yang harusnya bisa lancar tanpa mengantri seperti ini apalagi ketika mataku bertatapan dengan sosok yang tengah menatapku dari dalam mobil yang beberapa hari ini kuhindari keberadaanya di kantor.
Mataku melebar karena kaget melihat keberadaannya disini dan belum sempat menyembunyikan wajahku dengan menutup kaca helmku, dia sudah memanggilku dengan panggilan biasanya dia yang selalu membuatku meradang mendengarnya.
"Yang ... Sayang," sapanya langsung saat merubah panggilan namaku.
"Aku sudah mencoba menghubungimu Yang, tapi sepertinya handphonemu tidak aktif, dan karena sekarang kita sudah bertemu disini, jadi balik ke kantor sekarang, dan jangan kabur lagi, kerjaan belum selesai udah main pulang aja, ya, sudah kutunggu ya sayang," tegurnya halus sambil mengedipkan satu matanya kearahku sambil melajukan mobilnya keluar dari pintu loket antrian parkiran.
Dia Atasanku di kantor yang ekstra keras melakukan pendekatan denganku.
"Astagfirullah, kenapa begini banget sih, apa dia melihat air mataku?" desahku yang cepat-cepat kuhapus saat kurasakan masih ada sisa-sisa air mata di pipiku, tak mau ada pertanyaan tambahan yang terlontar dari bibir pak abi tentang kejadian hari ini.
Saat tiba giliranku mengangsurkan tiket, langsung saja ku lajukan motorku cepat ke arah kantor.
"Tapi, apakah aku salah karena tak pernah jujur dari awal? Hingga seperti ini pada akhirnya? imbuhku dalam hati berharap waktu bisa di putar ulang.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Ramadhan 1441 H
Tinggalkan vote dan comment kalian ya 😎
YOU ARE READING
Lembayung Senja ✔
RomanceFollow dulu sebelum baca. Masukan ke reading list kalian ya guys Oya, next cerita ini akan aku revisi setelah Arsaka Terbit. Happy reading ~~ Sekar Mayang, optimis skripsinya lancar seperti jalan tol bebas hambatan dan tak berharap muluk-muluk deng...
