BTS
Main cast Kim taehyung
Age 15
Other cast Jungkook and jimin
Age 10
Klo ada tanda (*) itu berarti ada keterangan nya di bawah.
Enjoy the story
***
Aku menatap tulisan di jendela yang kutulis dari uap panas mulutku. Titik-titik hujan di luar yang menetes ke jendela seolah memberi latar yang suram untuk tulisan itu. Menambah suram suasana hatiku.
Aku menatap ruang putih yang mengurungku selama seminggu terakhir ini. Dinding-dindingnya pucat, hanya berhias jam besar dari besi yang mengeluarkan satu-satunya bunyi di ruangan ini dan TV yang jarang kunyalakan. Beberapa sofa di simpan di dekat pintu masuk, yang berukuran sedang cukup besar untuk seorang dewasa tidur.
Aku menoleh, dan menatap tirai berwarna hijau muda yang mengelilingiku, kadang ditutup kalau sudah malam dan dibuka pada pagi hari. Tak terlalu berpengaruh menurutku, karena toh tak ada yang ingin kulihat, atau kudengar. Di hadapanku berdiri tegak sebuah pintu menuju kamar mandi. Untuk alasan yang aku sendiri tak mengerti, aku tak menyukai keberadaan pintu itu. Apalagi letaknya tepat di depan tempat tidurku. Kurasa kau mengerti maksudku.
Intinya tempat ini hanyalah sebuah ruang kosong yang bersih, terlalu bersih sampai nyaris tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Kecuali aku, kalau aku masih hidup beberapa hari lagi.
Suara pintu diketuk membuyarkan lamunanku. Dengan cepat kuhapus tulisan suram di jendela tadi, dan dengan enggan menatap wanita berbaju putih yang kini memasuki kamarku sambil tersenyum.
“Selamat pagi Tae. Bagaimana keadaanmu hari ini?”tanyanya sambil meletakkan baki abu-abu kecil yang sedari tadi ia bawa
Aku memaksakan diriku untuk tersenyum, “Baik” jawabku singkat.
Sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Napasku agak sesak ketika bangun tadi, dan kepalaku pening sekali. Tapi aku tahu, kalau aku mengakui itu, mungkin hari ini akan aku habiskan dengan selang-selang dan sekian tes lagi.
Pandanganku beralih ke piring putih mini yang berisi pil dan tablet berwarna- warni di atas baki abu-abu tadi. “Masih belum berkurang ya?”tanyaku sambil mengernyit.
Suster itu tersenyum pahit. “Kan biar cepat sembuh”.
Setelah sarapan pagi yang luar biasa hambar tadi, rasanya sepasukan obat-obatan ini bisa kuanggap sebagai pencuci mulut. Setidaknya obat yang berwarna merah itu rasanya mirip-mirip stroberi. Atau aku ingin menganggapnya begitu.
Aku adalah seorang pengidap jantung koroner. Sejak kecil aku memang sudah terbiasa bolak balik rumah sakit untuk perawatan, dan sampai sekarang aku belum menemukan donor yang tepat. Jadi beginilah nasibku, istirahat di rumah kalau aku berbohong tentang sesak yang semakin sering aku rasakan, dan kembali masuk rumah sakit kalau aku bahkan sudah tak sanggup lagi berbicara.
Setelah memastikan aku menegak semua obat yang diberikan, suster itu membuka tirai hijauku lalu membuka jendela. Katanya cuaca sedang bagus, dan aku perlu menghirup udara segar. Sebenarnya aku lebih suka menghirup udara rumah sakit yang bau alkohol. Tapi setelah udara berbau pinus dan air hujan itu menghambur masuk kamarku, kurasa aku akan membiarkannya sebentar lagi.
Tak lama kemudian suster itu memeriksa temperaturku, dan akhirnya keluar dari kamar setelah untuk keseribu kalinya mengingatkanku untuk menekan tombol darurat kalau aku merasa ada yang salah. Iya, ada yang salah dengan TV-nya. Tidak ada saluran TV kabel. Dan koki rumah sakit ini jelas bermasalah dengan indra pengecapnya. Apa mereka mau membereskan itu?
YOU ARE READING
Oneshot Horor ||BTS||
Horrorkumpulan cerita oneshot BTS. Genre horor, update random. Moga suka ya readers, Jangan lupa voment nya;)
