Shafana Maulie Arsyakayla
Panggil saja fana,fana sekarang sudah kelas 1 SMA,ia bersekolah di SMA merah putih. Dia sudah tidak sabar untuk masuk sekolah,bahkan semuanya sudah ia siapkan malam ini. Setelah mengecek semua media sosial nya,Fana berniat untuk tidur agar besok tidak terlambat ke sekolah.
Kringgg...kringg....kringgg..
Fana menggeliat mendengar suara alarm nya,ia meraba nakas samping tempat tidurnya untuk mematikan alarm tersebut. Setelah itu Fana tidak langsung bangun,ia diam dan mengerjapkan matanya,sambil mengumpulkan nyawa nya.Kemudian ia pun bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan solat. Setelah selesai dia melihat jam dan menunjukkan pukul 5.30,masih terlalu pagi untuk siap siap sekolah.Fana keluar kamar dan berjalan ke arah dapur masih dengan piayama tidurnya,di dapur sudah ada mama nya yang sedang siap siap akan masak untuk sarapan.
"Pagi ma,ada yang bisa Fana bantu?"
Mamanya menoleh "Ah iya,tolong iris bawang ini ya fan,kalo sudah buat susu dan kopi untuk kamu dan ayahmu." Ujar mama Fana.
Tanpa menjawab Fana langsung saja mengiris bawang yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Oh ya ma,papa mana?tumben belum keliatan." Tanya Fana sambil mengiris bawangnya.
"Di depan,mungkin lagi nyiram tanaman." Jawab mama nya yang masih melumuri ayam dengan tepung.
Setelah selesai mengiris bawang, Fana mengambil susu dan kopi serta gulaa.Fana tidak langsung menyeduhnya karena ini masih pagi,nanti malah dingin. Setelah itu ia pergi ke ruang keluarga untuk menonton kartun ke sukaanya. Katakan saja Fana bocah,tapi itu rutinitas nyaa, terserah mau mengatakan apa.Fana bukanlah keluarga kaya yang rumahnya seperti istana. Rumah Fana minimalis di sebuah perkomplekam sederhana yang asri. Ayahnya bekerja kantoran,dan mamanya diam di rumah sebagai ibu rumah tangga.Fana adalah anak satu satunya,sehingga semua kasih sayang orang tuanya fokus pada Fana. Keluarga nya harmonis, Fana lebih suka menghabiskan waktunya di rumah,dari pada pergi keluar main.
Saat sedang asik menonton papanya masuk kedalam rumah dan menghampirinya "Fana sudah siang,gamau siap siap sekolah?nanti terlambat loh." Ujar ayahnya.
Fana melirik jam yang ada di ruang keluarga tersebut, ternyata sudah jam6."Ah Fana keasikan pa,yauda Fana mau siap siap dulu yah,papa jangan lupa mandi juga ,ke kantor masa bau iler." Canda Fana.
"Enak aja kamu ini yah,yasudah sana siap siap,papa juga mau siap siap ke kantor." Ujar ayahnya sambil terkekeh.
"Ay ay captain."Fana segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan siap-siap pergi ke sekolah.
Sekarang jam menunjukkan pukul 6.45,Fana telah selesai sarapan. "Ayok pa,Fana udah selesai." Ayahnya mengangguk dan mereka berpamitan pada mama Fana. Sekolah Fana memang tidak jauh dari rumahnya hanya sekitar 15 menit sampai. Dan kebetulan jalan ke kantor papanya melewati sekolah Fana. Sebenarnya Fana sudah bisa mengendarai sepeda motor hanya saja dia belum punya sim, umurnya saja baru 15 tahun. Pulang sekolah mungkin dia bisa nebeng temannya atau naik taksi,atau pesan ojol.
Saat Fana sampai di sekolah ternyata sudah ramai. Fana sedikit kikuk karena dia tidak menemukan orang yang ia kenal. Fana pun berjalan ke arah Mading untuk melihat dimana kelas dia. Dan ternyata dia masuk X MIPA 2, sialnya dia tidak tahu dimana kelas tersebut,Fana menghela nafas dan celingukan siapa tau dia menemukan orang yang ia kenal untuk bertanya.
Fana terkejut ada yang menepuk bahunya,iya berbalik dan menemukan kakak kelasnya? Sepertinya iyaa,ahh sepertinya dia juga ketua osis di liat dari almamater nya. "Kenapa dek,belum ke kelas?udah mau bel." Tanya nya.
"Ah gue ga tau letak kelas gue kak hehe." Jawab gue malu.
"Lo ga ikut mpls?"
"Ngga kak hehe,gue Ada urusan soalnyaa."
"Yauda lo kelas apa?biar gue anter."
"X MIPA 2."
"Yauda yuk,gue anterin ntar lo malah nyasar kalo pergi sendiri terus telat." Ujarnya. Gue mengagguk dan mengikuti kakak kelasnya ini di belakang nya. Fana berjalan menunduk karena banyak kakak kelas yang berlalu lalang,Fana heran padahal ini koridor kelas X MIPA.Ah mungkin hanya untuk melihat adik kelas barunya. Sangking terlarut dengan pikirannya Fana sampai menabrak punggung kakak kelasnya itu.
"Aww.." Fana mengelus jidatnya.
Kakak kelasnya itu terkekeh "Mangkanya kalo jalan jangan nunduk,ini kelas lo."
"Oiya,thanks ya kak..?"
"Nama gue Dani,nama lo siapa?" Tanya ketua osis itu, ternyata namanya Dani.
"Thanks kak Dani. Nama gue Shefana Maulie Arsyakayla,panggil aja Fana." Jawab gue.
"Oke gue duluan kalo gitu." Ujarnya kemudian berlalu pergi.
Gue masuk kelas dan mengedarkan pandangan gue,dapat! Ternyata sahabat gue masuk kelas yang sama dia Callu sahabat gue dari TK. Namanya Calluella Mounira Abyaksa. "Fanaa".teriak dia melambaikan tangan,kadang Fana suka heran Callu itu suka sekali teriak teriak seperti sekarang, sehingga banyak yang memperhatikan mereka berdua. Gue berjalan menghampiri dia,dan duduk di situ kebetulan bangkunya kosong. "Lo dateng siang banget deh,gue udah jamuran dari tadi nungguin lo." Ujar Callu dengan wajah bete.
"Ya mana gue tau kalo gue sekelas sama lo. Tadi gue aja bingung ke kelas,gue kan ga ikut mpls." Jawab fana santai,ya memang Fana tidak ikut mpls karena ada urusan keluarga.
"Ye mngkannya ngikut mpls lo, terus barusan lo ke kelas nya gimana?"tanya nya kepo.
"Gue di anterin kakel,keknya osis deh, namanya Dani."
"Whatt??.. Lo di anterin kak Dani? Yang ga terlalu ganteng tapi manis itu?" Tanyanya. Fana hanya mengangguk dia tidak munafik Dani memang manis.
"Wah beruntung banget lo,baru masuk udah ketemu cogan."
"Biasa aja,btw Kiya di kelas mana?" Tanya gue karena ga liat kiya di kelas ini.Kiya adalah sahabatnya juga,Fana kenal Kiya saat masuk SMP. Nama lengkap Kiya adalah Felysia Adzkiya Malvina.
"Yee mangkanya lo cek hp kek,org dia bilang di grup dia kelas X MIPA 1."
Fana hanya mengangguk ,memang di antara Fana,Callu,dan Kiya. Kiya yang paling pintar,jadi ia tidak heran.
YOU ARE READING
Charmolipi
Teen FictionIni bukan tentang mostwanted yang menyukai gadis cupu. Ini kisah SMA seorang gadis yang bernama Fana.
