BAB 10. Abadilah Engkau Dalam Keasingan

13.6K 1K 550
                                    

Hola Yorobundil 2838 kata

Jangan lupa untuk support author dengan cara vote dan komen

Kalian bisa membaca versi Alternative Universe-nya (AU) di instagram imradiobodol

selamat membaca

BAB 10. Abadilah Engkau Dalam Keasingan

“Aku pernah terluka parah, dalam keadaan berdarah-darah, tanganmu tidak bisa ku raba

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Aku pernah terluka parah, dalam keadaan berdarah-darah, tanganmu tidak bisa ku raba. Berjalan sendirian menebak arah, sedikit-sedikit aku mulai terbiasa, jika semesta mempertemukan kita, maka berbaliklah.”

*

*

*

Semesta selalu punya cara untuk mempertemukan mereka yang sengaja berjalan berlawanan arah. Seperti Nan yang memutuskan untuk melupakan Zivana meski selalu dibayang-bayangi oleh banyak rasa bersalah. Dalam duduk santainya di area taman fakultas kedokteran, dia melihat sepasang kekasih sedang berjalan sambil bersenda-gurau. Dalam deru tawa mereka, Nan mendengar tawa lain dari gulungan film hitam putih di kepalanya.

"Nan, hampir dua tahun kita bisa menepati janji untuk saling membersamai di atas dunia yang suka bercanda ini."

"Tentu saja. Kita bisa melewati hari demi hari sebagai kekasih karena kita jauh lebih lucu, Ziv. Makanya dunia tidak bisa bercanda karena kalah lucu sama kita."

"Hahaha ...."

"Ziv, mungkin kelihatannya cintaku tidak sebesar itu, but trust me I love you more than the universe."

"Nan, kenapa harus aku?"

"Karena kamu punya warna yang berbeda untuk melengkapi warna yang aku punya. Aku menjadi cukup jika bersama kamu, Ziv. Itulah kenapa harus kamu."

"Aku sedih."

"Kenapa?"

"Harus LDR, kamu mau ke Singapore untuk olimpiade."

"Hanya sebentar Kasihku. Toh kamu juga sebentar lagi akan bertanding bela diri. Bagaimana kalau kita bertemu sambil membawa medali emas, lalu kita rayakan lebih keras."

"Setuju."

"Semangat ya Kasihku. Latihannya jangan keras-keras. Kamu sudah sangat hebat."

"Kamu juga semangat, Nan. Tenang, ayah Lumi melatihku dengan sangat baik. Dia sudah menganggapku seperti anak sendiri Nan. Rasanya aku senang sekali."

Nan tersenyum lebar sampai mata indahnya ikut melengkung. Lelaki itu menggerakan tangan, mengelus puncak kepala Zivana penuh sayang. Mereka berjalan dengan tangan yang saling menggenggam.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

YuanfenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang