Aku menatap pemandangan yang ada di hadapn ku ini. Sekarang, kami berada di pantai. Jelas saja, ini bukan kemauanku, tapi dia. Aku bahkan tak bisa menolaknya, dia selalu saja merayuku dengan senyuman mautnya. Tidak mengapa, kali ini saja, aku ingin melihatnya tertawa, tertawa bahagia bersamaku.
Semilir angin membuat sebagian rambutku terbang hingga menutupi sebelah mataku yang sedang mencuri pandang ke arahnya. Aku takut, bahwa kebahagiaan yang aku rasakan sekarang hanya sesat.
Merasa sedang di perhatikan, dia mulai menoleh ke arahku, menatap dengan teduh sambil menampilkan senyumannya yang telah menjadi bagian favourite dalam hidupku. Perlahan, tangannya tergerak, menyelipkan sebagian rambutku ke belakang telingaku.
Aku tersipu, aku masih saja gugup saat bersamanya.
"kamu cantik Lin", ungkapnya secara tiba-tiba
"baru tau kamu", ujarku menyombongkan diri sambil menutupi sedikit kegugupanku
Dia tertawa.
Manis sekali
"sayang aku gak bisa natap kamu lama-lama kaya gini",
Perkataannya barusan seolah menyadarkanku untuk kembali pada kenyataan.
Senyumnya memudar, namun matanya tak lepas memandangku. Mataku berlinang. Aku merasakan takut ini lagi dan lagi.
Ya Tuhan, jangan ambil dia.
"kalau ada aku, senyum kamu gak boleh di bagi sama orang.Karna aku gak suka milik aku di perhatiin intens sama orang lain, apalagi kalo cowok", ungkapnya sambil nyengir seakan-akan perkatannya lucu.
Aku tak berkutik, aku masih memberinya waktu untuk melanjutkan perkatannya.
"Lin, kamu tau aku sayang banget sama kamu. Kalo nanti seandainya Tuhan lebih dulu ngambil aku, kamu jangan nangis terus-terusan ya, aku gak suka, aku ngerasa jadi cowok jahat yang buat nangis kamu gak berhenti.",
Dia masih menatapku. hembusan nafas kasarnya terdengar jelas di telingaku.
Perlahan tangannya mulai menangkup wajahku. Matanya juga semakin dalam menatapku.
Air mataku perlahan menetes.
"Tuhan lebih sayang sama aku, makanya dia mau jumpa aku lebih dulu, makasih untuk semuanya, untuk pertemuan konyol kita yang berujung aku cinta sama kamu. Makasih udah ajari aku rasa bahagia yang gak pernah aku rasain selama aku hidup. kamu sadar gak sih, di hidup aku, cuma kamu yang mampu ngeluarin senyum ini.",
Dia memperlihatkan senyumannya.
Air mataku semakin menetes dengan derasnya.
Mendengar itu aku menggelengkan gelengkan kepalaku sambil melepaskan tangannya lalu mulai menarik dirinya ke dalam pelukanku.
Seakan tau bahwa ini akan menjadi pelukan terakhir untuk kisah kami.
"kamu ngomong apa sih? udah ya aku gak mau denger kamu ngomong kaya gini lagi.,"
Aku mengusap lembut punggungnya. Membenamkan wajahku di cerucuk lehernya.
Aku takut. Aku benar-benar takut.
Tuhan...
Jangan bawa dia pergi..
"Aku sayang sama kamu Aline",
Lagi-lagi perkataan yang di keluarkannya mampu membuat air mataku menetes dengan cepatnya.
"Aku juga, sayang banget, tolong jangan pergi",
Aku menunggunya membalas ucapanku. Namun dia juga tak kunjung berbicara. Ini semakin membuatku takut.
Perlahan, aku merasakan tubuhnya melemah, sekujur tubuhnya juga terasa dingin.
Air mataku semakin menetes dengan derasnya.
Aku tak pernah berharap ini akan terjadi..
Aku semakin mempererat pelukanku, menguatkan hatiku untuk kembali pada kenyataan bahwa ini sudah benar-benar berakhir.
Tidak, dia tidak boleh pergi.......
YOU ARE READING
Gibranaline
Teen FictionGue gak tau kenapa, rasanya begitu menyakitkan. Lo minta gue buat ngebahagiain lo. Lo bahagia, gue juga. Tapi kenapa? Kenapa lo pergi saat kebahagiaan udah kita rasakan. Gue sayang sama lo! Gue juga udah cinta sama lo! Tapi kenapa lo pergi? perg...
