-Summer Time-

321 58 1
                                        

Musim panas menjadi waktu yang selalu kutunggu ...

"Kau akan pergi ke rumah nenekmu lagi?"

Hinata mengangguk. "Iya. Aku merindukan nenek."

Tenten meletakkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Wah, rasanya aku juga ingin pergi ke rumah nenekku deh ... tapi tak berani ah kalau sendiri ..."

"Aku juga selalu pergi sendiri kok. Cobalah. Itu mengasyikkan."

Matanya berbinar. "Benarkah? Kau ini senang sekali jalan-jalan sendiri sih, kenapa?" tanyanya penasaran.

Hinata berpaling. Senyum mengembang di wajahnya. Ia lalu kembali pada Tenten, tersenyum lebar sebelum setengah berlari meninggalkan gadis itu. "Aku duluan ya, Tenten! Dah!"

"Ah, Hei!"

.

Musim panas adalah musim kesukaanku ...

"Sudah semua? Tak ada yang ketinggalan?"

Hinata mengangguk mantap. "Ya. Kurasa sudah. Terima kasih, Nii-san sudah membantuku."

Neji membalas senyum adiknya. "Kau yakin tak mau kuantar?"

Hinata kembali mengangguk. "Iya. Aku 'kan selalu pergi sendiri. Lagipula Nii-san ada pekerjaan 'kan? Mana bisa aku merepotkanmu. Tapi terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku ..."

"Tentu saja. Kau 'kan adikku satu-satunya. Ayo, biar kuantar ke stasiun." Neji membawa koper adiknya, memasukkannya ke bagasi mobil sebelum mereka akhirnya pergi.

Kenapa ya ... Aku jadi begitu menyukai musim ini?

"Hati-hati ya. Beritahu aku kalau sudah sampai," ucap Neji begitu mereka sampai di stasiun dan Hinata siap menaiki keretanya.

"Tentu. Terima kasih, Nii-san ..."

Hinata membawa kopernya, melambaikan tangan sebelum berbalik meninggalkan Neji untuk masuk ke kereta tujuannya.

Hinata akan ke Hokkaido. Tempat nenek dan kakeknya berada. Ia selalu berkunjung saat liburan musim panas. Sejak kecil, orangtuanya selalu membawanya kesini. Sekarang, itu menjadi kebiasaan rutinnya tiap tahun.

Ah ... bagaimana aku bisa lupa ... kau lah yang membuatku menyukai musim panas ...

Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menghadap ke jendela. Melihat pemandangan luar. Senyumnya mengembang. Perasaan berdebar yang selalu ada tiap kereta ini menghapus jarak antara Tokyo dan Hokkaido semakin terasa.

Ia ingin cepat sampai.

Pertemuan pertama kita, di musim yang bergitu menguras keringat ini ...

"Aku merindukanmu, Naruto-kun ..."

.

"Nenek!" Hinata berhambur memeluk neneknya yang menyambutnya di depan pintu.

"Yaampun cucuku sudah besar rupanya. Bagaimana keadaanmu?" Sang nenek tersenyum, menepuk-nepuk pelan punggung cucunya.

"Aku baik. Kakek mana?" tanya gadis itu ketika ia sama sekali tak mendapati kehadiran kakeknya.

"Sedang memancing di sungai. Padahal nenek sudah bilang kau akan kemari. Dia itu memang!"

Hinata tersenyum melihat ekspresi kesal neneknya. "Apa aku boleh menyusulnya? Sekalian aku juga ingin jalan-jalan ..."

Nenek mengangguk. "Tentu. Hati-hati dijalan, Hinata ..."

Hinata menaruh kopernya ke dalam rumah sebelum pergi ke sungai, menyusul kakeknya. Ia tersenyum memandang pemandangan di sekitarnya. Suasana disini masih sama. Begitu tenang. Bagaimana mungkin ia tidak merindukan tempat ini, bukan? Tempat ini selalu menenangkannya.

Summer TimeWhere stories live. Discover now