My heart beats so fast,
'till i don't know how to stop it.
RUN
15 September 2005.
"Ivy, bawa Anne pergi!" Suara bariton seorang pria terdengar dari ruang tamu di sebuah rumah. Seorang gadis kecil yang sedang bergelung di dalam selimut menoleh ke arah ibunya. Ivy—sang ibu sedang memasukkan beberapa plastik sampel ke dalam ranselnya dan beberapa barang yang tidak pernah Anne lihat sebelumnya. "Mom, where are we going?" tanya Anne. "Safe place." jawab Ivy kemudian memasangkan masker pada Anne. "Tetap pegang tangan sama mama, okay?" ucap Ivy sambil tersenyum tipis. Anne mengangguk.
Ivy beranjak, mendorong rak buku di sebelah pintu kamar Anne untuk mengganjal pintu, kemudian menarik tangan Anne, menggeser tempat tidur Anne. Suprisingly, ada sebuah pintu rahasia di lantai kayu kamar Anne. Ivy membuka pintu itu kemudian menoleh ke arah Anne. "Masuk, Anne. Kita tidak punya waktu lama." perintah Ivy. Anne mengangguk dan turun ke dalam sana, ada sebuah tangga yang harus dipanjat ke bawah oleh Ivy dan Anne.
Sementara Ivy memasukkan badannya setengah setelah memastikan Anne sudah agak jauh, kemudian berusaha menarik tempat tidur seperti semula. "Sial," batin Ivy karena kesusahan. Ivy pasrah, kemudian mengunci pintu rahasia itu dari bawah tanah dan menuruni tangga, menyusul Anne yang hampir sampai di bawah.
Tidak lama, Anne dan Ivy pun tiba di sebuah ruangan, terdapat tiga pintu dengan masing-masing angka terdapat di pintu. Pintu bernomor 321, 412, 521. Ivy berjongkok, memegang kedua bahu Anne dengan tatapan dalam. "Anne, run. Lari sebisa kamu, sejauh mungkin, jangan lihat ke belakang, jangan ragu. Masuk ke pintu 521, kunci dari dalam. Jika kamu sampai di ujung lorong, akan ada panel angka. Pencet angka 5 dan nol sebanyak dua kali. Lari ke kanan, dan kamu bakal nemuin tangga ke atas.
When you reach the top, run to the nearest hospital. Said you are Doctor Aaron's niece. Do this for mommy and daddy, sweetheart. Okay?" tutur Ivy panjang lebar. Ivy mengeluarkan tas ransel kecil milik Anne dan memasangkan pada tubuh kecil Anne. "Di dalam ada semua yang kamu butuhkan, Anne. Mama tahu kamu anak pintar dan genius seperti papa kamu. Now, run." Ivy mengecup kening Anne dan melepaskan tangannya pada bahu Anne.
"Run." perintah Ivy.
Anne mengangguk dan segera memasuki pintu yang Ivy perintahkan, kemudian mengunci pintu itu dari sisinya. Anne adalah gadis kecil yang lincah, dia bisa berlari dengan cepat. Anne berlari hingga ke ujung lorong dan menemukan panel angka seperti yang ibunya katakan. Anne memencet angka yang dia ingat dan berlari ke sisi kanan.
Tiba-tiba saja Anne mendengar ledakan dari tempat cukup jauh dan bisa dia pastikan dari atas, dan mungkin saja pintu menuju ke sini langkahnya terhenti. "Mom." bisiknya. Jantungnya berpacu dengan cepat. Dan suara Ivy terngiang di otak Anne.
"Run, Anne!"
Anne menarik nafasnya panjang kemudian lanjut berlari hingga akhirnya menemukan tangga ke atas. Jantung Anne berpacu sangat kencang. Kemudian ia berlari secepat mungkin, menuju ke jalan besar yang ia tahu menuju rumah sakit yang disebut Ivy tadi.
Beberapa orang yang melihatnya memanggilnya atau berusaha bertanya karena Anne terlihat, hilang. Dia tidak peduli, Anne memikirkan keselamatannya sekarang walau dia tidak tahu apa yang terjadi.
Hingga pada akhirnya, Anne sampai di rumah sakit dan berjalan masuk. Menuju tempat yang dia tebak sebagai resepsionis. "Excuse me," ucapnya. Seorang suster menoleh dan terkesiap. "Anne? Where's Ivy and James?" Suster itu langsung menghampiri Anne dan memeluk Anne erat. "Mama suruh Anne berlari. Anne mau mencari Paman Aaron." jawab Anne.
Suster itu—Susan mengangguk. Ia menggenggam tangan Anne dan mengajak gadis itu ke dalam lift. "Paman Aaron sedang berada di ruang kerjanya sedari pagi. Mungkin dia sedang ada kesulitan." ucap Susan. Anne hanya manggut-manggut.
Ting!
Pintu lift terbuka, Susan dan Anne berjalan beriringan di lorong rumah sakit yang tidak terlalu ramai, ada beberapa suster dan dokter yang mondar-mandir. Mereka pun tiba di sebuah ruangan dengan sebuah tulisan tertera di pintu, 'Aaron Parker'.
"Masuk saja, Anne. Aku tinggal ya?" ujar Susan kemudian dibalas anggukan oleh Anne. Anne memasuki ruangan kantor Aaron, dan Aaron terlihat sedang memperhatikan komputer. "Paman," panggil Anne.
Aaron menoleh dan terkejut melihat Anne. "Anne? Mereka datang?" tanya Aaron dan berlari ke arah Anne sembari memastikan keadaan ponakannya baik-baik saja. "Mereka? Siapa?" tanya Anne balik. Aaron tersadar, Anne mana mungkin tahu mereka siapa. Aaron menggeleng, "Nothing." kemudian menarik Anne ke sebuah sofa empuk di ruangannya.
"Mulai hari ini, Anne akan tinggal dengan paman Aaron, Bibi Shanon, dan June. Mama dan papa sudah menitipkan segala keperluanmu." ucap Aaron kemudian mengusap lembut pucuk kepala Anne.
"Everything will be alright, Anne. Uncle can promise you." batin Aaron. Anne mengangguk dan menidurkan badannya. "Anne capek. Paman bekerja saja, Anne mau tidur." ucap Anne. Aaron tersenyum tipis kemudian kembali ke hadapan komputernya. Anne memejamkan matanya dan mulai mengistirahatkan tubuhnya.
On the other side.
"She's arrived at the hospital." ucap seseorang kepada lawan bicaranya di ponsel.
"Benarkah? Cari kesempatan kapan pun untuk menculik atau merampasnya. Kau pasti tahu dia dititipkan pada siapa 'kan?" sahut sang lawan bicara.
Orang tersebut menggigit bibir bagian bawahnya. "Tidak. Dia hanya menyapaku dan pergi begitu saja. Orangtuanya punya banyak kenalan di rumah sakit." ucap orang tersebut. "Wah, begitu ya. Baiklah kalau begitu, uangmu akan menyusul." sahut sang lawan bicara dan kemudian koneksi telepon itu terputus.
"Semoga dia tidak tahu." batin orang tersebut kemudian melangkah pergi.
RUN
Hai semuanyaaa! Akhirnya aku balik ke sini dengan cerita baru dan nuansa baru, out of my comfort zone. Terinspirasi dari Resident Evil, tentang Sherry Birkin yang orangtuanga sesama ilmuan, but alurnya akan berbeda kok! Hope you like this story, jangan lupa vote dan comment-nya! Terima kasih!
- S.
YOU ARE READING
RUN
Action[HIATUS] Adrenalin Anne terpacu saat suara ibunya terngiang dengan jelas di telinganya. Seperti sebuah teriakan langsung dan beresonansi tanpa henti di gendang telinganya. Seperti diperintahkan melalui sistem, Anne melangkah dengan cepat, seolah dia...
