"Terjebak dalam mimpi. Mengejar segala ambisi. Terkuras emosi. Yang di dapat, hanya frustasi"
•••••
Pertikaian orangtuanya yang sedang mempertahankan prinsip masing masing, membuat anak berusia 8 tahun, hanya bisa menunduk diam, dengan air yang mulai menetes dari kedua matanya yang berwarna biru tersebut.
Laju mobil yang di kemudikan ayahnya pun mulai tidak terkendali. Kecepatan mobil semakin cepat dan cepat, sementara kedua orangtuanya berseteru.
BRAK!!!
Semua terjadi begitu saja, dan tidak bisa di hindari. Mobil menabrak kencang pembatas jalan dan membuat mobil mereka terguling masuk ke dalam jurang.
DUAR!!!
DEG!
BRAK!
Terjatuh quirin dari tempat tidurnya dengan napas yang tidak teratur, bak sudah berlari sejauh 5 km. Pikirannya mencoba mencerna kembali apa yang terjadi dengannya.
"Sialan!! Mimpi tidak jelas itu lagi, tidak pernahkah kalian dewa mimpi membiarkan aku tenang? Bahkan saat tidur pun aku harus menerima ini? Aku benci kalian." Gerutu Quirin dalam kamarnya yang gelap dan sepi.
Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Masih terlalu pagi untuknya bersiap ke sekolah.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar kunci motor yang tergantung di kamarnya dan langsung pergi begitu saja.
Mungkin angin malam dapat menenangkan pikirannya.
Memang sejak kematian orang tua dan adiknya, Quirin menjadi anak yang terbilang bengal. Sampai-sampai ia pernah di skors satu bulan dari sekolahnya.
Menurut para psikolog yang menanganinya, ia mengalami trauma berat, karena kehilangan anggota keluarga nya secara bersamaan.
••••
Warmindo Pak Slamet, tempat tongkrongan paling di senangi oleh quirin dan teman temannya.
Pak Slamet sendiri sudah menganggap Quirin sebagai anaknya sendiri, karena sejak di tinggal kedua orang tuanya Quirin sering menginap di rumah pak Slamet.
"SPARK!!!" Teriak seseorang dari dalam Warmindo.
Quirin hanya menoleh, mengeluarkan senyum simpulnya dan bergegas masuk ke dalam Warmindo.
Spark, begitulah panggilan teman-temannya kepada Quirin. Entah siapa yang memulainya namun nama itu seakan melekat pada Quirin, hingga nama Quirin Tyaga Uhtred seakan tidak pernah ada di dunia ini.
"Bangun lu Spark jam segini? Biasa ngebo di rumah." Canda Guetta yang memang sahabat akrab Quirin dari sd.
"Kaga, ni arwah nya doang nemuin lu, mau nagih utang." Canda Quirin.
"Ngapa lu, tumbenan amat jam segini dateng? Mimpi lagi lu?" Tanya Guetta.
"Iye tau aja lu, kaga tenang lah gua tidur" curhat Quirin pada sahabatnya.
3 jam terlewati dengan mudahnya, obrolan panjang yang malang melintang ngawur kemana mana pun akhirnya berakhir.
Karena Quirin akan kembali bersekolah, setelah 1 bulan lamanya ia di skors dari sekolahnya, bahkan mungkin ia sekarang sudah lupa 1+1 hasilnya 2. Sementara Guetta memutuskan membolos di hari Senin, tentu saja ia malas mengikuti upacara.
••••
Pesan penulis:
Ya segitu dulu ceritanya maaf kalo berantakan maklum baru pertama kali.
See you di bagian 2 byeeeee semuanya.
YOU ARE READING
SPARK!!!
RomanceBila kau berpikir bunga itu indah, dan menawan. Kamu belum kenal spark. Inilah perjalanannya
