"Aku suka sama kamu!"
Zahra mendongak kaget, dan langsung disambut oleh sepasang mata hijau tajam pemilik suara tadi. Wajahnya terasa panas dan diluar kesadarannya sudah berubah warna mirip kepiting rebus.
"Ckckck... Baperan banget, sih!" Aldo, remaja beriris mata hijau terkekeh melihat ekspresi kaget temannya. Semua anak yang mengelilingi meja nomor tiga di kantin tertawa seketika. Zahra bertambah salah tingkah. 'Apa-apaan ini? Kurang ajar!' batinnya kesal.
"Sorry sorry... Bercanda," Aldo kembali terkekeh begitu Zahra melotot sebal kepadanya.
"Udah, ah, aku balik kelas duluan, ya," Zahra beranjak dari bangku dan tanpa konfirmasi ulang langsung berlalu meninggalkan kantin.
"Ngambek, deh! Dasar Aldo sialan!" Rina, sahabat Zahra, melotot kesal kepada Aldo kemudian setengah berlari mengejar Zahra yang tidak sedikitpun menoleh ke belakang.
Sekali lagi Aldo terkekeh diikuti Ardi, tidak peduli. Setelah menghabiskan makanan yang dipesan, kedua anak remaja yang tersisa di meja itu kembali ke kelas.
Seperti biasanya, pelajaran sekolah selalu membosankan bagi keduanya. Sepanjang sisa jam sekolah hari ini, tak seorangpun antara Aldo dan Ardi yang serius mengikuti pembelajaran. Aldo terus sibuk mencorat-coret buku catatan, sedangkan Ardi sudah jalan-jalan di alam mimpi sejak jam pelajaran ke 8. Jika sudah begini, tak satu suarapun mampu membangunkan Ardi, kecuali bel tanda pulang sekolah. Dan benar saja, Ardi terbangun tepat saat bel berbunyi.
"Aaa... Ada tugas?" Ardi bertanya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
Aldo hanya mengangkat bahu, "Mana kutahu?"
"Hmm, kupikir kamu sedari tadi sibuk menulis pelajaran," Ardi menghela napas pelan, kemudian mengemasi buku yang digelarnya seperti karpet tidur.
Keduanya keluar kelas bersama menuju tempat parkir siswa. Setengah jalan, Aldo mendadak berhenti. Otomatis, Ardi turut berhenti.
"Kenapa?" Ardi menoleh heran.
"Aku lupa!"
"Hah?"
"Aku harus pulang bareng Andra!" tandas Aldo kemudian berjalan cepat menjauhi tempat parkir.
"Hahh... Anak payah!" Celetuk Ardi sambil membuntuti langkah sahabatnya.
Satu menit berikutnya, kedua remaja itu sudah sampai di kelas Andra, X MIPA 1. Satu langkah sebelum mencapai pintu kelas, seseorang lebih dulu keluar. Dan tak dapat dihindarkan, kedua orang bertabrakan tepat di pintu kelas.
"Kamuuu!!!! Kenapa sih kamu ada dimana-mana, hah?" pekik Zahra yang membuat Aldo dan Andra otomatis menutup telinga rapat-rapat.
"Woy! Kamu nabrak-nabrak nggak minta maaf malah komentar macam-macam, ya?" Aldo mundur satu langkah ke belakang, kemudian menyeringai.
"Huh, ngapain kalian kesini, sih? Salah kelas? Amnesia?" Cerocos Zahra meluapkan kekesalan.
"Hah? Anemia? Anemia apaan?" Ardi menggaruk kepalanya dengan ekspresi yang tak dapat didefinisikan.
"Amnesia, bodoh!" Aldo menyenggol lengan sahabatnya, menahan tawa akibat kesalahan Ardi.
"Nah... Itu maksudku! An.. Anesia.. Amnesia apa?" Ardi menoleh ke arah Aldo yang langsung dibalas gelengan oleh sahabatnya itu. Ardi ganti menoleh ke arah Zahra, meminta pencerahan.
"Amnesia itu semacam lupa ingatan, Kalo anemia itu penyakit kekurangan darah, jadi beda," Zahra menjelaskan.
Ardi mengangguk-angguk tanda paham, sedangkan Aldo tampak tidak memerhatikan penjelasan teman sekelas Andra yang masih berdiri di depannya.
YOU ARE READING
JEJAK
Fantasy"Aku suka sama kamu!" Sebuah awalan yang sederhana dan terlalu biasa untuk dikatakan istimewa. Permulaan yang terbilang amatir, namun jangan khawatir. Ada berpuluh kisah-entah kasih atau perih- yang akan membuatmu ketar-ketir dan sesekali tersenyum...
