[PROLOG]

206 21 78
                                        

💤💛💤

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

💤💛💤

Kita berjumpa setelah sekian lama~~
Long time no see~~

💤💛💤

Aku mengembuskan napas berat, sembari mengerjap beberapa kali. Lagi, kufokuskan pandangan ke depan kelas. Di sana, berdiri seorang guru dengan gaya--yang menurutku--tidak cocok untuknya. Ah! Guru sejarah itu terus saja mengoceh di depan kelas tanpa henti. Apakah dia tidak menyadari bahwa ocehannya itu sungguh membosankan?

Ah, mungkin tidak!

Karena beberapa teman kelasku tampak serius menyimak penjelasannya. Misalnya, Reyhan yang beberapa kali tampak menulis di buku catatan. Barangkali, ia mencatat sesuatu yang penting saja. Lalu, cewek angkuh yang bernama Mayang itu juga terlihat fokus dengan pelajaran pagi ini.

Aku membuka mulut lebar-lebar. Menguap. Entah sudah berapa kali aku melakukan itu. Kuraih pulpen dan mulai menulis di kertas. Satu nama berhasil terukir di sana.

~Alvinandra Padmana~

Oh! Aku sungguh merindukanmu, Alvin. Kira-kira bagaimana rupamu sekarang? Mungkinkah, tinggimu telah melewatiku? Ah, barangkali tidak!

Banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadanya. Alvin, sahabatku. Sayangnya, tiga tahun sudah kami berpisah. Komunikasi antara kami tidak pernah terjalin setelah perpisahan itu. Sangat disayangkan! Waktu itu aku tidak pernah menyimpan nomor ponselnya.

Lagi-lagi, aku menguap!

Guru sejarah itu masih bertahan dengan penjelasan yang entah kapan berakhir.

Aku merindukan Alvin.

Aku juga merindukan Ayah.

Salah satu yang membuat aku suka terlelap adalah pertemuan yang tak disangka. Aku sering bermimpi tentang Ayah. Ia selalu datang dalam tidurku ketika aku tak sanggup lagi menghadapi masalah di dunia fana ini. Aku akan merasa baik-baik saja setelah bangun dari tidurku. Ya! Mungkin, hal itu membuat aku jadi suka tidur akhir-akhir ini.

"Selamat tidur, Fanya!" gumamku pada diri sendiri sebelum terlelap.

Pagi yang mendung. Seseorang datang mendekati yang sedang menanti bus. Kala ia makin dekat, aku merasa mengenalinya. "Alvin!" teriakku terkejut.

Dia tersenyum manis lalu berkata, "Apa kabar, Fanya?"

"Ah! Ini pasti hanya mimpi," gumamku lalu menatap Alvin lekat.

Wajahnya sedikit berubah. Ya, ia tampak lebih dewasa dari terakhir kali aku melihatnya. Kurang lebih tiga tahun yang lalu. Selain itu, ia tampak lebih tinggi.

"Fanya, gue boleh minta sesuatu?"

Aku mengerjap, mengerutkan dahi bingung. "Apa?"

"Buat gue yang lain menjadi dirinya sendiri."

CLYNOPHILEWhere stories live. Discover now