Bab 1

17 1 0
                                        

Hari ini masih seperti biasa. Matahari masih bersinar terang, bumi masih berputar sesuai porosnya, bintang dan bulan masih bersinar di malam hari.

Alyssa, gadis berparas biasa, berambut sebahu dan bermata coklat muda itu duduk di halte menunggu bus yang biasanya ia naiki untuk pulang. Di sana ada satu wanita lagi yang juga sama seperti dirinya, menunggu bus datang.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kendaraan yang berlalu lalang tidak lagi begitu ramai. Alyssa masih duduk dengan raut wajah harap-harap cemas, takut tidak ada lagi bus yang menuju rumahnya lewat, dan juga sekarang ia hanya berdua saja menunggu di halte yang cukup sepi ini, sedikit membuat bulu kuduknya meremang.

Hampir sekitar lima belas menit Alyssa menunggu serta terus merapalkan doa didalam hati semoga bus yang ia tunggu cepat tiba. Seperti sebuah keberuntungan, bus itu datang dan membuat wajah gadis itu kembali cerah, ia sungguh tidak ingin lagi menunggu di halte pada malam hari seperti ini. Apalagi dari tadi ia merasa selalu saja ada yang mengawasinya.

Terkutuklah bos sekaligus temannya itu yang memberikan banyak sekali tugas untuk ia kerjakan hingga larut malam seperti sekarang ini. Alyssa tidak suka pulang malam, ah tidak lebih tepatnya lagi semenjak sebulan yang lalu gadis itu sudah tidak suka pulang terlalu malam seperti saat ini.

Suasana didalam Bus juga sudah tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang saja di dalam bus itu, dan kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Tapi Alyssa masih tetap bersyukur karena masih ada penumpang wanita selain hanya mereka berdua, ia dan wanita yang sama-sama menunggu bus dengan nya tadi.

Bus melaju dengan cepat dan tanpa hambatan. Jalanan yang biasanya macet dan selalu penuh sesak oleh berbagai macam kendaraan, malam ini terlihat lengang. Tak sampai satu jam, Alyssa sudah sampai di depan gang menuju rumahnya.

Dengan cepat ia turun dari bus iu. Gadis itu kembali melirik jam tangan mungil yang melekat indah di tangan rampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit.

Alyssa menyusuri jalan yang sudah lengang itu dengan perasaan was was, sesekali ia berhenti berjalan dan melirik ke belakang. Tidak ada apapun, tapi perasaannya mengatakan lain.

Langkahnya semakin cepat, perasaan takut mulai merayap didalam pikirannya. Ia yakin saat ini ada seseorang yang sedang mengikutinya.

Ah ia sangat menyesal tidak menerima tawaran itu, seharusnya ia terima saja kalau tau akan seperti ini.

Merasa semakin tidak nyaman, gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat bahkan sedikit berlari, sesekali matanya menoleh kebelakang dan ‘BRUUK’ gadis itu tersungkur karena tanpa sengaja tersandung batu yang berada di tengah jalan.

“Aiish... siapa lagi yang menaruh batu di sini” gadis itu merutuk sambil meringis dan mengusap kakinya. Sudah tau saat ini ia sedang terburu-buru malah pakai tersandung pula. Dengan cepat ia kembali berdiri dan melangkahkan kakinya lebar lebar agar cepat sampai kerumah.

Padahal jika tidak tersandung, ia pasti sudah sampai dirumah dan mengurung diri didalam kamarnya.
Masih dengan perasaan khawatir, gadis itu terus melangkah dan akhirnya pintu pagar rumahnya sudah terlihat. Ada perasaan lega dihatinya, dengan sedikit berlari gadis itu sampai di depan pagar dan secepat kilat ia membuka pagar serta membuka kunci pintu rumah dan masuk kedalamnya.

“huuhf, akhirnya sampai” katanya sambil kembali mengunci pintu rumah, namun tangannya terhenti ketika ia merasakan ada tangan dingin yang memegang pundaknya.. Ruangan itu masih gelap karena lampu yang memang dimatikan, untuk menghemat uang listrik katanya. Jantungnya masih berdebar tidak karuan.

“Kenapa lo kak”
Satu suara itu sukses membuat debaran di jantungnya mulai normal.

“adeeekk” sambil menangis gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan adik laki-laki satu-satunya itu.

“iiiihh kenapa sih lo kak?” merasa risih dipeluk seerat itu dan dengan usaha yang keras akhirnya ia bisa melapaskan diri dari kakak perempuan cengengnya itu.

“Ken, gue ngerasa ada yang nguntit gue.. lo tau kan maksud gue” tangannya masih memeluk erat tangan Kenzo.

Mendengar kakaknya berkata seperti itu, Kenzo berjalan menuju jendela dengan langkah terseok seok karena kakak cengengnya itu masih belum mau melepas tangannya.

“Mana? Gak ada orang kok di luar” dengan sangat teliti mata setajam elang itu melihat keseluruh jalan yang terlihat remang-remang itu. Setelah merasa yakin memang tidak ada apa-apa dan siapa-siapa di jalan, Kenzo kembali meutup tirai jendela rumah mereka.

Sedangkan disudut jalan sepi yang tidak ada lampu penerang seseorang dengan hodie yang menutupi wajahnya tersenyum menyeringai, sorot matanya begitu menakutkan, kini didalam otaknya sudah tersusun sebuah rencana.

TO BE CONTINUE

HAI HAI.. INI CERITA MISTERI PERTAMAKU, AKU HARAP KALIAN MAU MEMBACA DAN MEMBERIKAN KOMENTAR SERTA VOTE NYA..

MAAF KALAU MENURUT KALAIN TIDAK BAGUS, TIDAK USAH DI BACA YA.. BIAR TIDAK ADA HATI YANG TERLUKA WKWKWK




THE PENStories to obsess over. Discover now