Manik mata berwarna amber miliknya seakan kehilangan cahaya saat mendapati pria yang dia cintai tergeletak di sudut jalan sempit dengan beberapa luka, bergeming tak bergerak layaknya sebuah patung. Terendam darahnya sendiri. Malam itu waktu terasa berhenti seketika dan dunia seakan runtuh. Tidak ada lagi ladang bunga yang akan muncul setiap melihat wajah kekasihnya. Semua tinggal memori, bahkan senyuman saat mereka pertama kali bertemu kembali teringat jelas di dalam angan, seolah menambah rasa sakit yang ada.
"Zeus ... " lirihnya berharap wajah itu menoleh dan tersenyum padanya, menunjukan gummy smile yang selalu membuatnya hatinya senang. Tenggorokannya terasa tercekat, oksigen menipis padahal atmosfer masih melapisi bumi. Angin dingin yang menerpa wajahnya terasa panas.
Pria itu enggan memanggil nama sang kekasih untuk kedua kali, lalu memilih mendekat cepat tidak perduli dengan keadaan sekitar. Dia tau betul bahwa tubuh itu milik kekasihnya, belahan jiwanya meskipun dia berada di tempat gelap sekalipun. Bahkan dia bisa mengenalinya hanya dengan meraba batang hidung yang lancip itu.
Direngkuh tubuhnya perlahan, tidak perduli pada bau anyir darah yang menyeruak begitu dirinya mendekat. Dia menangis pilu sadar tidak ada lagi jiwa di dalam sana yang bersemayam.
"Kau berbohong?" lirihnya terasa separuh jiwa ikut pergi bersama jasad sang kekasih. Bahkan suara isak tangisnya lebih keras, jika dibandingkan dengan suaranya sendiri.
Pria itu menatap wajah sang kekasih dalam-dalam, tidak menyangka bahwa dia pergi lebih cepat dari yang diperkirakan. Diusap wajah sang kekasih dengan lembut seraya mengecup bibir yang dingin dan telah berubah warna menjadi abu-abu. "Kenapa kau tidak bangun? Katakan bahwa kau kembali melakukan gurauan seperti waktu itu? Bangun, kumohon ... "
Tidak lama hujan turun deras membasahi bumi, seakan ikut merasakan kesedihan yang sedang dia alami, menyeka air matanya yang turun sejak tadi untuk menghapus lara. Semakin dipererat rengkuhan pada sang kekasih, bahkan jika bisa tidak akan dia lepaskan. Dia rapuh, takut, kecewa semua rasa yang ada menjadi satu, ingin dia mengakhiri hidupnya malam itu. Namun, dia urungkan saat melihat sepasang liontin milik mereka yang telah mengait satu sama lain.
"Hah!" Eros terperanjat dari tidur siang singkat di atas meja kerja sederhana miliknya yang ada di dalam kamar.
Matanya bergulir mendapati jam yang telah menunjukkan pukul satu. Pikirnya jika sekarang hari senin dia pasti akan terlambat datang ke kantor. Eros menoleh ke arah cermin mendapati bulir keringat mengalir di dahi.
"Aku-berkeringat?" gumamnya tanpa sadar. Dia kembali mencoba menelaah arti dari mimpi barusan, yang sudah beberapa hari ini dia dapatkan. Eros bergidik tidak mengerti. Jatuh cinta pada seorang pria adalah hal gila, tapi kenapa dia penasaran akan hal itu.
_
_
_
_
_
White Sakura.
Prolog. Selesai diketik. 28, maret 2021. 20:00.
Kyuraz.
YOU ARE READING
White sakura.
Action❌Mohon menjauh bagi anda yang homophobic. Cerita ini dapat menyebabkan mual, muntah, diare, ganguan kehamilan dan janin. (Blurb) Bertemu setelah dua puluh tahun dalam sebuah ketidaksengajaan membuat dua insan kembali memilih untuk memulai semua dari...
