"Sena Aafreeda". Begitulah nama yang tertulis di kertas yang ditempel pada jendela kelas. Ini sudah menginjak tahun ketiga dan kini Sena berada di kelas XII IPA-2. Teman-teman kelas nya setiap tahun akan berganti dan tahun ini Sena akan bertemu dengan orang-orang baru lagi yang akan mengisi masa-masa terakhir putih abu nya.
Sebenarnya Sena kurang bisa beradaptasi dengan orang baru bukan karena dia anti sosial tapi Sena hanya terlalu malas berkenalan, ia juga memiliki teman walaupun tidak banyak.Sena bukan termasuk golongan wanita hits di sekolah nya, dia kurang suka menjadi pusat perhatian banyak orang dengan hal-hal yang tidak berguna.
"Sena!" tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dan Sena pun terlonjak kaget.
"lu ngagetin gua cin"
"ehehehe abis lu ngelamun aja, gua bawa kejutan nih" Cindy duduk di sebelah Sena dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya
"apaan tuh?" Sena tampak penasaran.
"ini daftar nama kelas kita se, dan lu tau? Kita sekelas sama Arkan" Cindy tampak begitu bersemangat saat memberi tahu Sena.
"jadi maksudnya gua sekelas sama lu terus sama Arkan juga?
"iyaaa se, gua yakin lu seneng kan sekelas sama gua 3 tahun hahha apalagi sekarang sama Arkan, masa sekelas sama gebetan ga seneng sih"
"udah lah cin ga usah di bahas lagian dia udah punya pacar"
Sena membuka tas nya dan mengeluarkan novel kesayangannya "Garis Waktu" karya fiersa besari.
Melihat Sena yang membaca novel Cindy tau, suasana hati sahabat sedang tidak baik saat ini.
Arkan,Arkan,Arkan mendengar namanya saja sudah membuat hati Sena berdegub sekaligus sakit, cinta tanpa balasan memang sangat menyakitkan, entah kapan cinta dalam diam nya akan terbalas oleh Arkan mungkin tidak akan pernah.
Arkan tahu kalau Sena menyukai nya, tapi sudah beberapa kali Arkan secara tidak langsung telah menolak Sena
Arkan hanya ingin berteman dengan Sena, ya hanya teman.
Ketika Cindy mengatakan mereka sekelas dengan Arkan entah Sena harus bereaksi seperti apa, disisi lain dia merasa senang tapi disisi lain dia merasa tidak mempunyai hak untuk merasa senang. Rumit memang bila sudah menyangkut urusan hati. Sejujurnya Sena tidak mau berurusan dengan cinta, Tapi mau bagaimana dia sudah tenggelam dan hanya terdapat dua pilihan ia harus tetap menyelam atau memilih mati.
Akhirnya sosok itu datang, Arkan mulai memasuki kelas dan duduk di kursinya sebelum itu ia sempat bersitatap dengan Sena, hanya 3 detik karena Arkan memutuskan nya. Sena hanya tersenyum miring menanggapinya beruntung dia hanya sekelas dengan Arkan tidak dengan kekasihnya juga, karena hal itu bisa membuat hati Sena semakin panas melihat kedekatan keduanya.
Kelas belum juga di mulai Sena tetap memilih membaca novel nya walaupun sebenarnya pikirannya tidak pada tulisan di depan nya pikiran nya melayang kemana mana, Sena terus berpikir dan mencerna hal-hal yang tidak masuk akal ini, kenapa dia mencintai Arkan? Jika di pikirkan Sena selalu ada jika Arkan membutuhkan nya dan Arkan akan menghilang bila dia sudah memiliki hal yang ingin dia punya, dan saat dia bosan Arkan akan kembali pada Sena dan Sena akan dengan senang hati menerima nya. Berawal dari olimpiade sains kelas X lalu Arkan dan Sena menjadi dekat, sebuah kebetulan karena mereka menjadi satu tim. Perhatian yang Arkan berikan pada Sena membuat nya salah paham dan membuat hubungan kedua nya menjadi renggang sampai sekarang.
"jadi gimana nih se, masih mau nungguin dilan putus ama milea? Gini aja deh gua cariin penggantinya, nanti gua kenalin lo ke cogan serius" Cindy mencoba mengalihkan perhatian Sena dari bukunya, Sena pun menoleh dan memberikan tatapan tajam pada Cindy bahwa dia tidak ingin di ganggu.
"yaelaah judes amat mba" Cindy masih tidak menyerah dan malah mencolek pinggang Sena, dengan kesal Sena menutup novel nya dan menatap Cindy,
"kenapa sih cin lu ganggu gua aja tau gak?"
YOU ARE READING
DREAMS~
Teen FictionCinta rasanya tidak bisa lepas dari manusia. Saat kau berjalan di tempat yang ramai kau pasti akan menemukan orang-orang dengan pasangan nya berlalu-lalang, mereka tertawa bersama seolah dunia ini milik mereka berdua, lucu memang bila kita hanya bi...
