#Prolog#

139 4 0
                                        

Sorry for typo

Ini hanyalah fiksi, kesamaan tokoh, nama, dan tempat kejadian tanpa unsur kesengajaan

Hargai penulis, and please vote 😉

//--~••••~--//

15 September....

Suara tangis bayi menggema disalah satu sudut ruangan rumah sakit. Sesosok perempuan tengah tergolek lemas diranjang usai delapan jam yang lalu berjuang antara hidup dan mati mengantarkan sesosok bayi laki-laki lahir.

Paras bayi yang begitu tampan kontras dengan warna kulit yang memerah. Bibir tipis dan hidung mancung menggeliat pelan di dekapan sesosok laki-laki. Kedua matanya berkaca-kaca. Mengecup pelan bayi mungil itu sebelum akhirnya meng-azani.

Tangisnya pun berhenti kalau bisikan itu merasuk diindra bayi itu untuk pertama kalinya. Dengan usapan lembut sosok itu berbisik sesaat.

"Hari ini, namamu Ardean Mikhail Azzmy. Bungsu sekaligus kado terindah dihari spesial ini my baby. "

Hingga sosok perempuan yang tengah menggendong bocah kecil berumur sekitar lima tahun ikut mendekat bersama seorang lelaki paruh baya. Menyambut sosok baru dikeluarga mereka. Pernikahan kedua dalam keluarga itu melahirkan kebahagian tak terkira. Bahkan sang suami tak berhenti mengucap terima kasih dan rasa syukur.

Bocah kecil itu tersenyum kalau melihat sosok bayi mungil itu menggeliat pelan dalam tidurnya. Tangannya mengepal gemas berusaha tak mencubit pipi gembil sang bayi yang baru berusia beberapa jam yang lalu. Bahkan ia sangat bahagia ketika sangat ayah akan memberinya kado spesial dihari ulang tahunnya. Dan ternyata kado itu adalah adik kecil yang menggemaskan.

"Ayah, itu adek kan?", tanyanya dengan ekspresi gemas. Pipinya menggembung menahan rasa gemas pada bayi mungil itu.

" Iya sayang, dia adik. Dan mulai sekarang kamu jadi kakak yang selalu melindungi adiknya", jawab sangat ibu. Sosok lelaki itu hanya tersenyum mengiyakan perkataan wanita itu.

Bocah kecil yang ada didekapnya berusaha turun dan berjalan menghampiri sosok perempuan lain yang tengah berbaring diatas ranjang. Tak lupa ia meraih tangan itu agar bisa menempelkan kedua pipinya disana.

"Mama, kakak janji, atan idungi adek. Bubun iyang kakak halus jadi kakak yang baik... "

Perempuan itu hanya tersenyum mengusak pelan surai bocah lima tahun itu. Memberi kode beberapa orang disana untuk membawa bocah kecil itu duduk disampingnya
"Janji sama mama, jagain adek ya Anggara.... " Yang diajak bicara pun mengangguk gemas dan memeluknya dengan erat.

"Janji!"

Dan janji adalah janji yang akan selalu dia kabulkan. Sampai dua sosok itu tumbuh dewasa. Merangkulnya ketika menangis, saling tertawa dalam bahagia, melindungi yang terluka dan mengusap setiap peluh yang jatuh.

"Kakak sangat baik"

"Adek jangan menangis lagi"

Hoppless (Please make me smile)Povești de care să fii obsedat. Descoperă acum