Naira masih terisak di kamarnya. Setelah tadi siang dia menerima sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal, yang menyuruhnya untuk mendatangi sebuah restoran malam tadi. Entah mengapa dia mengikuti apa isi pesan tersebut. Dia mendatangi restoran itu, tapi apa yang didapat, dia melihat suami tercintanya berpelukan dengan seorang wanita_cinta pertama suaminya, bahkan wanita yang sampai saat ini masih merajai hati suaminya itu.
Ya, dia dan Narendra_suaminya memang menikah karena perjodohan.
Orang tua Narendra memaksanya untuk menerima perjodohan itu, dengan dalih balas budi atas jasa almarhum ayah Naira, saat usaha mereka sedang terpuruk.
Naira tentu saja ingin menolak, karena dia tahu kalau Narendra waktu itu sudah memiliki kekasih, walaupun tidak pernah direstui oleh kedua orang tuanya, entah karena apa.
"Aku masih nggak ngerti kenapa kamu tega ngelakuin ini mas, hiks.." Naira masih saja terisak.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka, Naira tahu suaminya pulang, dengan cepat dia menghapus air matanya.
Saat suaminya membuka pintu kamar, suaminya hanya meliriknya sekilas, sambil meletakkan tas kerja di atas sofa di dekat tempat tidur.
"Baru pulang mas?" Tanya Naira
"Hmm.." Hanya jawaban singkat seperti biasa yang dia dapatkan.
Walaupun mereka sudah 6 tahun menikah, dan dikaruniai seorang putra berusia 5 tahun, tapi pernikahan mereka tetap dingin, seakan Narendra tetap membangun benteng tinggi agar Naira tak mampu memasuki kehidupan pribadinya.
Naira bahkan masih mengingat dengan jelas, setelah mereka sah menjadi pasangan suami istri, suaminya hanya menyentuhnya satu kali. Itupun dilakukan saat suaminya sedang mabuk, bahkan saat mencapai puncak, sang suami menyebut nama wanita lain_kekasih suaminya. Betapa hancur hati Naira saat itu.
Tapi Tuhan memberikan dia hadiah yang indah, satu bulan setelah kejadian itu, Naira dinyatakan hamil oleh dokter.
Betapa bahagianya dia ditengah kesedihan hati yang melandanya, Tuhan menitipkan kepadanya janin, anak yang kelak akan menjadi orang yang akan mencintainya tanpa syarat.
Naira hanya menunduk dalam, walaupun suaminya begitu dingin, tetapi selama pernikahan mereka dia tetap berperan menjadi istri yang baik.
"Aku siapin air hangat dulu untuk mas mandi ya?" Naira masih bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa.
"Gak usah!" Narendra berlalu ke kamar mandi yang ada di ruang kamar tidur mereka.
Naira menghela nafas berat.
"Aku harus bicara, aku harus menyelesaikan semua ini." Naira bertekad untuk menanyakan apa yang dilihatnya di restoran tadi, walaupun dia tahu hatinya lagi-lagi akan terluka.
Walaupun ini bukan kejadian pertama namun selama ini dia hanya diam, berharap suaminya suatu saat nanti akan berubah.
Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, sang suami tetap tidak mau membuka hati untuknya.
Lima belas menit berlalu, Narendra keluar dari kamar mandi, dia berlalu begitu saja melewati Naira, ke walk in closet.
Naira menunggu dengan gelisah.
"Mas.." dengan pelan dia memanggil suaminya.
"Boleh kita bicara sebentar?" Tanya Naira gugup.
"Kita sedang bicara." Narendra menjawab dengan dingin.
Lagi-lagi Naira menghela nafas berat.
"M..mas tadi pergi ke restoran dengan siapa?" Tanyanya takut.
"Darimana kamu tahu?" Nada suara Narendra meninggi.
"Apa mas masih sering bertemu sama Mbak Nesha?"
Netra Narendra memicing tajam.
"Kamu menguntit saya?" Nada suara suaminya meninggi.
Perlahan air mata Naira menetes, sakit hatinya mendengar suaminya begitu marah mendapatinya sedang berdua dengan wanita lain.
"Itu bukan urusan kamu." Jawab suaminya dingin.
"Mas, kita sudah enam tahun menikah, tidakkah sedikit saja mas membuka hati mas untukku? Tidak bisakah mas berhenti menemui wanita itu?" Tanyanya pilu.
"Dari awal kamu tahu saya tidak pernah mencintai kamu, yang saya cintai hanyalah Nesha, bukan kamu!" Bahkan kini suaminya membentaknya.
"Tidakkah mas memikirkan perasaanku? Perasaan Raihan, anak kita?"
"Kamu sudah tahu jawabannya, dan untuk Raihan, selama ini saya selalu bertanggung jawab atasnya, mencukupi segala kebutuhannya!" Jawabnya sedikit membentak seraya pergi meninggalkan Naira yang kini menangis tersedu-sedu.
Naira mengambil koper yang ada di lemari, mengisinya dengan beberapa pakaian miliknya.
Setelah itu dia pergi ke kamar Raihan_putranya, melakukan hal yang sama, mengemas beberapa baju dan keperluan sekolah sang anak.
Dia membangunkan sang anak yang sudah tertidur dengan hati-hati.
"Ada apa ma?" Tanya Raihan dengan suara parau.
Naira kembali terisak, sejujurnya dia tak tega membangunkan sang anak malam-malam begini.
"Maafin mama nak, tapi kita harus pergi." Jawabnya sedih.
Seakan tahu mamanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, Raihan hanya mengangguk. Naira sangat bersyukur, diusianya yang masih kecil, Raihan tahu bagaimana hubungannya dengan sang suami.
Padahal selama ini Naira mencoba menutupi dari sang anak, berusaha baik-baik saja, tapi sang anak beberapa kali melihat sang suami membentaknya.
Raihan pun tak pernah mendapat kasih sayang dari papanya, Narendra memang mencukupi semua kebutuhannya, tapi dia tak pernah meluangkan waktu untuk Raihan.
Untungnya, opa dan oma nya sangat menyayanginya, bahkan sering diajak untuk menginap di rumah mereka.
Naira sangat bersyukur mertuanya sangat menyayanginya dan anaknya, bahkan berkali-kali meminta maaf atas kelakuan Narendra.
Padahal selama ini Naira tak pernah bercerita tentang kelakuan suaminya.
Naira meninggalkan sepucuk surat di atas nakas tempat tidur anaknya.
Dengan masih mengantuk Raihan keluar dari rumah besar itu dengan Naira yang menggandeng tangannya.
Naira memesan taksi online, yang akan mengantarnya ke suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh suaminya.
Naira menoleh sejenak ke rumah besar itu, menyimpan baik-baik memori akan rumah itu.
Naira menghela nafas berat, tersenyum seraya bertekad dalam hati bahwa dia akan menemukan kebahagian bersama sang putra di tempat lain. Tanpa suaminya, ya.. tanpa Narendra.
Dia akan menata ulang hidupnya, menemukan kebahagiaan untuknya dan sang anak, berusaha membuang rasa sakit di hatinya, melupakan semua kenangan buruk di rumah itu.
Teruntuk Mas Naren..
Maafkan aku mas, maaf karena aku begitu lancang mencintaimu.
Maafkan aku yang membuatmu menderita dengan pernikahan kita,
Maafkan aku yang menerima perjodohan ini, membuatmu harus berpisah dengan wanita yang kamu cintai,
Terimakasih mas, terimakasih karena bersedia menjadi suamiku, walaupun kamu terpaksa,
Karena dengan pernikahan ini, aku mendapatkan anugerah terindah dalam hidupku_Raihan anak kita..
Aku serahkan urusan perceraian kita ke kamu mas,
Semoga dengan kami pergi dari hidupmu bisa sedikit menebus rasa bersalahku atas kehadiran kami di hidup mas, yang tidak pernah mas inginkan.
Aku pergi mas semoga kamu bahagia dengan wanita yang kamu cintai,
Semoga kami juga bisa menemukan kebahagiaan kami di tempat lain.
Tolong sampaikan maafku ke mama dan papa, karena tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk mereka.
Yang mencintaimu
Naira
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerita Pendek
Cerita PendekHanya berisi sekumpulan cerita pendek. Cerita mainstream, mohon sarannya ya.. Silahkan dibaca, jangan lupa vote dan komen yaa..
