🔻 Rang-Rang 🔺

3 0 0
                                        

Lo jutek tapi gue suka

Rangga_A

~•~

   Seorang gadis tengah terburu-buru berlari ke arah gerbang yang hampir tertutup. Ia berlari sekuat tenaga mengejar gerbang yang hendak tertutup. Namun sial, Dewi Fortuna tidak berpihak kepadanya pagi ini. "Sial", umpatnya lalu berbalik dan...


Brukk....

"Auuhhhsss", ringisnya. "Bisa nggak sih kalo jalan liat-liat", katanya  ketika seseorang menabraknya.

"Eh, Lo aja yang jalan nggak pkek mata", pria itu membalas perkataan gadis yang sedang merapikan bukunya.

"Eh mas, sejak kapan orang jalan pkek mata?terus liatnya pakek apa?pakek kaki gitu?", Kata Gadis itu dengan nada yang agak tinggi.

"Lo punya otak kan? Sejak kapan orang jalan pkek mata? Badan ajak gede tapi otak kecil", pria itu menonyor kepala gadis itu.

   Gadis itu membulatkan matanya

"Eh, udel bodong. Lo pikir kepala gue samsak apa? Maen jitak-jitak aja, gue sleding baru tahu rasa Lo", katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan pria itu.

"What?Sleding? Yang ada Lo yang bakal ke sleding sama sledingan Lo. Badan kayak lidi aja sok", pria itu memutar bola matanya malas.

"Ranggaaaaa.......sedang apa kamu di sana?", Seorang laki-laki berseragam satpam berteriak.

"Eh, bapak? Ngapain pak di situ?", Tanya laki-laki itu sambil nyengir kuda.

"Kamu ini, harusnya bapak yang nanya begitu, ngapain kamu di situ?", Kata pria yang berpakaian satpam itu.

"Lah, Nadia?", Tunjuk satpam itu ke arah Nadia. "Tumben kamu telat?", Tambahnya.

"Hehe... Anu pak...", Kata Gadis itu cengengesan yang Namanya adalah Nadia. Siswa teladan SMA  Hijau Daun.

"Anu apa?", Tanya pak Deden.

"Sopir saya sakit pak", katanya.

"Kamu Rangga. Kenapa kamu telat?", Tanya pak Deden.

"Ehm, rutinitas pak. Hehe", jawab Rangga cengengesan.

"Rutinitas dari mana, dari Hongkong?", Kata satpam itu.

"Elahh....pak kejauhan, yang di Indonesia aja ada ngapain jauh-jauh ke Hongkong, buang-buang duit aja?", Kata Rangga yang dihadiahi dengan jeweran di telinganya.

"Kamu ini", satpam itu lantas menjewer Rangga.

"Aduhhh...pak", Rangga memegangi telinganya yang di jewer oleh pak satpam. "Telinga saya ntar copot nggak ada gantinya", tambahnya.

"Kamu Nadia, ikuti saya",

"Eh, saya kan baru sekali pak telat. Masa iya sih langsung di hukum nggak ada toleransi yah buat siswa teladan", protes nya.

"Ehh, sapu lidi, nggak adil kali, masa iya gue kena hukum Lo nggak", timpal Rangga.

"Paan. Dasar tiang dapur", sarkas nya.

"Apa Lo hilang tadi? Tiang dapur?. Orang ganteng gini di bilang tiang dapur", Oceh Rangga.

"Hehhh.... sudah-sudah", lerai pak Deden. "Kalian berdua saya hukum untuk membersihkan aula di lantai atas", finalnya.

"Whatt...saya harus berishin aula pak? Emang sekolah kita nggak ada petugas bersih-bersih apa?", Dumel Nadia.

"Bacot Lo, kalo nggak mau bersihin aula ya bersihin WC aja Sono, ya nggak pak?",sarkas Rangga. "Gitu kok ribet", tambahnya.

The power of love NadiaStories to obsess over. Discover now