[1] Sempiternal

231 18 17
                                        

"Bertemu secara tidak sengaja, dan jatuh cinta secara tidak sengaja"
• • •

"Haraa, jangan lama-lama dong siap-siapnya, kan mau nganterin mama," pangil mamanya.

"iyaa maa, bentar lagi hara beres kok" Hara menyaut.

Hara mengoleskan liptintnya, tahap terakhir dari sebuah make up untuk kesekolah, ia berlari kecil menuju ruang makan dengan tangan kanan yang memegang tas sekolah dan tangan kiri memgang dasi.

"Pake dasinya dulu dong ka," mamanya mengingatkan.

Hara duduk lalu menyantap sarapan buatan mamanya, sambil mengawasi dua adik kembarnya yang masih TK, sampai suapan terakhir dari sarapan masuk ke mulut Hara.
Hara memindahkan piring-piring bekas sarapan ke tempat cuci piring, lalu membantu mamanya menyiapkan peralatan sekolah adik-adiknya.

"Udah yang ini mama aja yang beresin, kamu siap-siap lagi,"

"siap-siap apa ma?, kan dari tadi aku dah siap,"

"itu dasinya dipake dong, kan tadi udah mama ingetin, name tag kamu juga mana?"

"Oh iya, maapin," Hara cengengesan sambil memakai dasinya.

▼▼▼

​​​​
Ting Nong..
Ting Nong..
     Suara bel rumah yang menggema terdengar keluar, tak lama sang pemilik rumah keluar. Seorang ibu rumah tangga yang masih cukup muda menyapa tamu dengan senyuman manis.

"Permisi, kami tetangga sebelah yang baru pindah ke apartemen ini," mama Hara menyapa ramah.

"Oh iyaa, selamat datang, baru kemarin ya pindahnya?"

"Iyaa, ini ada sedikit kue" mama Hara menyodorkan kue yang sudah tertata rapi diatas piring yang ada ditangannya.

"Wah makasi sekali, padahal gausa repot-repot lho, kenalin saya Tiara" Tiara memperkenalkan diri, lalu menerima kue pemberian itu.

"Saya Mia,." Mia tersenyum.

"Hara tante," Hara ikut tersenyum.

     Mereka bertiga saling berjabat tangan dan meleparkan senyuman, tiba-tiba seseorang berteriak dari dalam.

"MAA, DASI RENJUN MANA?!!" teriaknya.

     Hara tersenyum mendengar suara teriakan itu, mamanya menyenggol pelan.

     Tiara langsung menghampiri anak semata wayangnya itu, dan menuntunya menuju pintu apartemennya.

"Kenalin ini anak tante namanya Renjun" kata Tiara tersenyum ke arah Hara.

"I-iya," Hara menjawab, sangkin kagetnya ia lupa memperkenalkan namanya.

"Hara juga sekolah di SMA Garuda? Renjun juga sekolah disana, kalian mau berangkat bareng?" Tiara menawarkan.

     Hara mengangguk dan tersenyum, Renjun segera mengambil tas sekolahnya lalu kembali.

"Dasinya mama ta-"

"Renjun pamit ma," Renjun memotong omongan mamanya, ia malu.

"Hara juga pamit ya ma, tante"

     Mereka berangkat, dan turun menggunakan tangga, karena tempat tinggalnya hanya dilantai dua. Sepanjang perjalanan menuju bus hening, tidak ada yang berbicara ataupun membuka pembicaraan. Canggung.

     Sampai pada akhirnya Renjun membuka pembicaraan saat sudah duduk didalam bus.

"Gue Renjun, nama lo siapa"
"Hara,"

     Sampai disitu saja pembicaraan mereka, benar-benar tidak ada yang berinisatif memulai percakapan hingga mereka sampai disekolah.

"Gue duluan ya,"

     Renjun meninggalkan Hara, lalu bergabung bersama teman-temannya berjalan menuju ruang kelas.

"Lho tumben banget ketua kelas kita gapake dasi??'

"Iya nih biasanya paling lengkap,"

"Lupa gue, udah gausa dibahas," Renjun menjawab ketus sambil mengingat kejadian tadi, mau ditaro dimana wajahnya.

     Renjun ketua kelas sejak dari sekolah dasar, mandiri, disiplin, murid teladan, panutan sekolah.
Tapi tidak ada yang tahu selain Hara, kalo dibalik itu semua Renjun adalah anak mama, yang ternyata semua dipersiapkan sama mamanya, mirip sama adik kembar Hara.

▼▼▼

"Kamu ya!, kapan kamu bisa berhenti merokok?, udah peringatan keberapa kali ini Haechan?!. Sekolah udah bosan menghukum kamu!. Ngerti kamu?"

"Iya Pa,"

"Jangan iya-iya saja, kamu maunya bagaimana? Saya lepas tangan lama-lama"

Tok...Tok..
"Permisi," Hara masuk dengan sopan.
"bu, saya mau tanya walikelas 10-3 dimana?" tanyanya kepada guru yang sedang duduk di sofa ruang guru.

"Itu yang mejanya dekat jendela, yang ada si Haechan,"

"Terima Kasih bu,"

"Haechan siapa anjir, mana kenal gue." Batin Hara.

     Hara berjalan menuju meja yang berada didekat jendela, lalu menyapa wali kelas barunya itu. Spontan wali kelas dan Haechan yang sedang mengobrol, menoleh.

     Haechan menatap Hara tajam, Hara tau tapi stay calm saja. Haechan terus-terusan menatap Hara yang mengobrol dengan wali kelas mereka.

"Kamu ikut saya ya, saya antar ke kelas kamu, Haechan kamu ke ruang BK, selesaikan dengan bu Astri"

"Iya pak," jawab mereka serentak, lalu saling melihat, Haechan tersenyum kecil, Hara balas dengan senyuman kembali.

"Ah mungkin hanya senyum sapaan" batin Hara.

     Saat itu Hara tak tau makna dari senyuman itu. Senyuman pertama yang dikeluarkan Haechan sejak perceraian orang tuanya, senyuman itu ada karena Hara Deandra. Senyum tipis yang menjadi awal dari kisah mereka dimulai.

▼▼▼
Terima kasih telah membaca, kritik dan sarannya kakak :<
JANGAN LUPA VOTE + LIKE + KOMEN YA
-vava

 ▼▼▼Terima kasih telah membaca, kritik dan sarannya kakak :<JANGAN LUPA VOTE + LIKE + KOMEN YA-vava

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

HAECHAN BAGASKARA

Haechan | SempiternalWhere stories live. Discover now