Heii!
Panggil aku kero!💚🐸
Ini karyaku,dimana imajinasi kesedihan ku limpahkan dalam tulisan.
Baca dengan kesunyian,rasakan sensasi dimana orang yang kau sayang meninggal kan dirimu,hanya mengingat kan.
Semoga suka,semoga hanyut dalam suasana. Mungkin belum ada sensasi menariknya,nanti akan ada.
So!happy reading,see you!
—kero<3
***
"mama ..." Anak itu membuka lebar pintu hitam besar. Satu terdorong ia memasuki, menampilkan ruangan penuh dengan lukisan juga beberapa lilin penerangan. Matanya bergulir menatap sekitar,mencari sosok sang mama yang tadi ia lihat masuk ke dalam kamar ini.
"Hei,ada apa?" Gadis kecil ini terlonjak kaget,ia menatap ke arah ranjang dimana mama nya sedang duduk bersender. Ia menghampiri, naik ke kasur dan memeluk mamanya.
"Mama ... Gak apa apa?"
Begitu menggemaskan,Jian tersenyum,ia menyalakan lampu di sebelah kasurnya. Wajah imut juga putih itu membuat Jian tenang seketika.
"Luna,"
"Iya,mama"
"Kamu mau ikut mama?kita ke rumah mama yuk," Jian menatap anaknya. Wajahnya nampak kebingungan,Jian tersenyum mendapat raut kebingungan anaknya.
Surai anaknya Jian elus perlahan,meresapi setiap apa yang anaknya lihat jika ia sedang bertengkar dengan suaminya.
Mengingat kejadian dulu anaknya hampir saja tewas akibat ulah Biel suaminya yang sedang dalam keadaan mabuk,anaknya yang menghampiri dengan membawa minum di dorong Biel hingga kepalanya kena lantai dan mengeluarkan aliran darah. Saat itu,adalah saat saat Jian mulai merasa kehilangan,berfikir akan di tinggalkan.
Ia menarik anak nya hingga jatuh dalam dekapan hangat Jian, menyalurkan apa yang ia rasakan, setidaknya anak nya pasti mengerti penderitaan menyedihkan seorang ibu seperti Jian.
"Mama Mama!"
"Apa sayang,"balas Jian masih mendekap tubuh mungil sang putri.
Anaknya melepas pelukan,Jian menatap ke bawah dimana anaknya memang lebih pendek dari dirinya,"mama,ayo kita janji!" Jian mengerutkan kening,matanya tak berpindah saat suara benda keras jatuh di lantai bawah.
"Janji?untuk apa?"
Anaknya tersenyum lebar,dengan manis ia mengelus pipi Jian dan meminta janji pada mamanya. "Janji ya,jadikan Jian penerang jalan mama."
***
Terjaga.
Jian bangun dari tidurnya,matanya menatap jam di pinggiran kasur,meja dekat kasur dengan beberapa obat penenang. Sering ia menjadi histeris saat melihat kejadian dulu yang seketika terlintas dalam benak.
Ia turun dari kasur,sudah waktunya untuk membangunkan putri nya,kini Jian dan sang putri tinggal beda kota dengan Biel. Biarkan lelaki itu menikmati hidup tanpa anak dan istrinya.
Ia mengetuk pintu kamar anaknya dengan tulisan nama di sana.
Luna Alaskar
Tak ada sahutan membuat Jian tersenyum mengerti. Kemarin Jian mengerjakan tugas hingga larut malam,sampai lupa waktu tidurnya terkuras hanya demi menumpahkan isi otak.
"Luna,bangun sayang"ujar Jian lembut,Luna terusik. Ia mengerjap menyamakan cahaya yang masuk ke dalam netra hitamnya.
Ia beringsut duduk,matanya yang masih mengerjap membuat Jian terkekeh geli.
Ia mengelus Surai lembut milik Luna anaknya.
"Sekolah Luna,"
"Jam berapa ma?"
"Setengah 6"Luna mengangguk,ia mencium pipi mamanya lalu berjalan lesu ke arah kamar mandi.
Jian menyiapkan pakaian anaknya untuk ke sekolah,setelah itu turun ke bawah menyiapkan sarapan untuk anaknya.
Rumah ini besar,membuat Jian tetap tenang,jika ia hidup susah akan rumit nanti tanpa bantuan Biel,tapi ia salah mengira,ia sempat berfikir jika orang tua juga Biel tak peduli lagi padanya. Jika orang tua Jian,sih masih Jian maklumi setiap bulan memang selalu transfer,tapi jika Biel ia rasa agak aneh mengingat lelaki itu seharusnya sudah tak perduli padanya kan.
"Pagi ma"
"Hm,pagi sayang." Luna menarik kursi dan duduk di sana,diikuti jian.
"Papa sama bang Jacob mana ma?"tanya Luna saat tau papa tiri juga kakak tirinya tak ada di sini.
Jian tersadar belum membangunkan keduanya,ia hendak bangun tapi di tahan oleh Luna.
"Aku aja ma,duduk ya"Jian menurut,Luna menaruh tas nya di pinggir kursi.
Ia berjalan menuju kamar papa juga kakaknya. Ah mengingat papa barunya,mama nya Luna masih belum bisa tidur berdua,ia masih sedikit canggung jika tidur satu kamar dengan suami barunya.
Kamar Jacob ada di sebelah Luna,lelaki itu satu sekolah dengan Luna,juga satu kelas,ah juga satu tempat duduk.
Ini bukan keinginan Luna,tapi kakak nya Jacob lah yang meminta nya agar duduk dengan Jacob.
Pertama,Luna membangunkan papanya.
Ia mengetuk pintu pelan,tak ada sahutan. Luna masuk dan tersenyum melihat papanya tidur dengan laptop di pinggir nya.
Luna memindahkan laptop nya,lalu menepuk lengan pria ini pelan.
"Pa ... Bangun,udah pagi."ujar Luna lembut. Richard bangun,lelaki itu menatap Luna lalu tersenyum.
"Udah rapi aja kamu dek,papa turun,Jacob udah bangun?" Luna menggeleng,"ini mau aku bangunin pa,papa duluan aja,mama di bawah kok." Ricard mengangguk.
Luna beralih menuju kamar Jacob,mengetuk pintu terlebih dahulu,saat hendak membuka ia terkejut dengan sosok kakaknya tanpa pakaian,namun ia masih bersyukur bagian bawahnya tertutupi.
"A-anu,"Luna menutup pintu,Jacob terkekeh ia segera memakai baju nya selagi Luna menunggu di luar. Pintu terbuka Luna menoleh lalu tersenyum dan memberi hormat.
"Pagi Abang"
"Yo pagi dek" Jacob merangkul adiknya hingga di bawah,"pagi ma,pa."
"Pagi Jacob,"balas Jian.
Keduanya duduk bersebelahan,kesunyian di meja makan sudah biasa mereka rasakan. Selesai dengan acara sarapan,Luna menarik satu persatu piring kotor yang di gunakan.
Jacob membawa gelas,keduanya jalan beriringan ke dapur,saling mengadu argumen tentang siapa yang mencuci piring.
"Jian"Jian menoleh,menatap Ricard yang juga sama menatapnya,"apa?mau kopi?"tanya Jian dengan senyumnya.
Ricard menggeleng,"kamu butuh liburan?"tanya Richard. Jian terdiam,lalu tersenyum,"kamu ga keberatan?gimana sama pekerjaan kamu?"
"Ga papa,sebentar aja aku libur,ada Felix yang gantikan" Jian mengangguk. Ia juga butuh ketenangan,di rumah membuat dirinya suntuk.
"Mau kemana?" Tanya Richard perhatian,"apa pun aku bisa kabulkan"
Jian terkekeh,"kamu bukan tuhan,aku mau,yang dekat aja,kita makan malam di luar ya,abis itu main di mall" Ricard mengangguk,ia mengelus punggung tangan Jian lembut.
"Apapun,"
"Ma,pa,aku berangkat ya!"ucap Luna keduanya menatap Luna dan Jacob bergantian lalu tersenyum. "Jacob pelan pelan bawa mobilnya,"ujar Jian memperingati.
Ia bangkit dan berdiri di hadapan anaknya yang lebih tinggi,"kamu jagain Luna ya,"ucap Jian mengelus rambut Jacob.
"Siap ma!yuk dek!"
"Kita berangkat, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
***
أنت تقرأ
Sweet Escape
أدب المراهقينIa cahayaku,satu satunya lampu penerang dalam jalan kegelapan ku. Aku terkesima saat ia dengan sabar menghadapi kekonyolan juga sikap tak tau diri dari ku. Aku lelaki tak pantas dimiliki,namun ia memahami situasi. Dengan hati lembut dan tutur kata p...
