İçerik Kurallarımızı güncelledik.
Hikâyeleri güvenli bir şekilde paylaşmaya devam etmek için en güncel kuralları inceleyin.

Hari terburuk

5 2 0
                                        

"Yhaaa Paman,, kenapa kau seperti mengusirku dari rumahmu" lanjutku "Apa salahku?"

"Dasar!! Aku mengusirmu? Apa ada seseorang yang mengusir dengan cara halus? Kau ini ada-ada saja." Katanya

Beginilah hidupku,,, hati kecilku tersentil untuk merasakan perasaan sedih. Aku merasa diusir oleh Pamanku sendiri. Tapi tunggu, sebenarnya itu hanya perasaanku karena Pamanku tidak benar-benar mengusirku. Ia hanya ingin agar aku hidup mandiri dan mencari pekerjaan.

Pamanku sebenarnya orang baik. Kami bisa dibilang cukup dekat, karena aku sendiri diasuh olehnya. Jadi pamanku sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Bayangkan sebelum ia 'mengusirku' -itu yang ada dalam pikiranku- dia sudah mencarikan kontarakan untukku, baik sekali bukan?

Eeitttss, tapi kami tidak seakur yang bisa kalian bayangkan. Setiap hari selalu ada saja hal yang membuatku harus berdebat dengannya. Contohnya saja malam ini. Tepatnya di depan rumah.

"Paman kau sungguh tega? Mengusirku tengah malam begini?" teriakku. Pasalnya Pamanku menyuruh pindah dijam 10 malam. Iiisshhh sangat keterlaluan.

"Kenapa aku tidak tega keponakanku yang cantik? Bukankah kamu sudah dewasa?" Ujarnya, dengan menekan kata dewasa.

Itulah yang tidak kusukai darinya. Kalau sudah menyangkut kata dewasa aku hanya bisa diam. Katanya umurku sudah tua. Hai hai hello menurutku umur 29 bukanlah umur yang tua. Ya memang, banyak orang-orang yang sudah mulai berkeluarga. Tapi banyak juga yang masih melajang, seperti aku.

"Dine, diumurmu yang sekarang sudah seharusnya kamu punya pekerjaan tetap" katanya untuk memulai ceramah.

"Pamaaaaan.... Aku sudah bilang berkali-kali jangan panggil aku Dine. Namaku Afiana. Paman bisa panggil aku Ana atau Fia juga gapapa. Tapi jangan Dine" balasku sedikit teriak.

"Astaagaa. Jangan mengalihakan pembicaraan Dine. Kau ini selalu saja seperti itu" pamanku membalas tak kalah keras.

Afiana Nadine. Itu namaku, memang ada kata Dine yang nyangkut di nama itu. Tapi aku tidak suka, menurutku kurang meching, kurang gaul lah. Kalian jangan salah baca ya, Dine itu dibaca lengkap, huruf E juga disertakan. Itu untuk pamanku.

Pamanku sendiri namanya Sujanarko. Biar gaul aku biasanya panggil Paman Jen untuk menggodanya. Untungnya pamanku terima-terima aja.

"Ya aku tidak suka aja". Kujawab hanya dengan ngedumel.

"Sudah ayo paman antarkan kamu kerumah barumu, biar tidak terlalu malam dan kamu bisa istiraahat." Katanya sambil menggeret koperku -dia yang menyiapkan- untuk diangkut ke bak pick up.

"Iiishh, menyebalkan. Bagaimana aku bisa istirahat? Aaahhh sebel" ucapku pelan sambil menendang angin.

Setelah paman selesai dengan urusan koper aku mulai naik pick up milik pamanku. Aku sangat heran dengan lingkungan rumah Pamanku. Sejak 30 menit aku dan paman berdebat sambil berteriak, tetangga samping rumah tetep anteng-anteng aja. Gak keganggu sama sekali, padahal aku yakin teriakkanku dan Paman sangat keras. Apalagi ditengah malam buta.

"Rumah barumu tidak jauh dari rumah paman, kamu bisa berkujung kapan saja, asal jangan terlalu sering" katanya ditengah keheningan.

"Bilang aja gak usah berkunjung sekalian. Dan juga, paman jangan pernah nyebut rumah baru, seakan kayak paman bener-bener beliin aku rumah" kataku sedikit ketus.

"Udahlah capek paman debat sama kamu, gak ada ujungnya." Balas pamanku malas.

'Haha mengalah juga kau paman' ucapku dalam hati.

Setelah 30 menit, paman berhenti. Aku celingukkan dong, mana kontrakanku. Aku sedikit bisa mengenali kontrakan baruku, walaupun aku belum melihat langsung. Karena saat di perjalanan pamanku sedikit menjelaskan bentuk kontaran baruku. Tapi tidak ada rumah yang sesuai dengan deskripsi pamanku.

"Paman mana kontrakanku?" Aku bertanya sedikit memaksa. Aku sudah sangat capek, pengin istirahat.

"Kamu tunggu sebentar kenapa sih, gak sabaran banget deh" jawabnya sambil melihat kearah depan.

Tak lama keluar seseorang setengah baya. Dia laki-laki tapi rambutnya sebahu sedikit begelombang, wajahnya bisa dibilang muda tapi untuk postur badannya sudah kelihatan sedikit tua. Tubuhnya sedikit membungkuk saat berjalan. Kutebak umurnya sekitar 40 tahun.

Tak lama pamanku keluar dari pick up dan menyapa orang itu. Aku hanya melihat saja, aku tak tertarik dengan pembicaran para orang tua itu. Aku juga bisa melihat pamanku beberapa kali menujuk ke arahku. Jadi bisa kupastikan mereka membicarakanku.

Aku kagum dengan orang itu. Dia tetap melayani orang yang mencari kontrakan dijam 11 malam. Waaah,,, jiwa-jiwa pencari uangnya sangat kuat. Tidak seperti pamanku yang seenaknya sendiri, jika dia malas yasudah dia tidak akan bekerja.

"Ayo cepat keluar, kamu pasti capek. Siap-siap dan kamu bisa istirahat di dalam" perintahnya usai berbincang.

Aku keluar dari mobil lalu mengikuti pemilik kontrakan berjalan ke sebuah gang yang cukup besar. Di belakangku ada paman yang ikut mengekor sambil membawa koperku.

Sambil mengikuti pemilik kontrakan aku melihat kesamping jalan. Indah.
Banyak pohon tumbuh rindang. Kurasa kontrakannya akan bagus.

Tidak sampai 3 menit berjalan kaki aku sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah. Kurasa aku sudah sampai. Sambil tetap memperhatikan sekeliling aku masuk kedalam gerbang.

Setelah sampai yang kulihat pertama kali adalah rumah baruku. Dan

Waaaaaaah,,,,,!!









Maaf baru chapter pertama aja udah gantung. Kayak perasaan dia ke aku💔. Wkwkwkwk😄.
Btw ini cerita pertama aku, maaf kalo masih amatiran✌. Sambil ngisi waktu selama di rumah.
Jaga kesehatan selalu dan #dirumahaja🏠.

Jangan lupa vote sama komennya ya♥️. Karena itu gratis🤭.


Salam
I💜U

Dilemma of StrunggleBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin