KUMALA DEWI 1

762 22 0
                                        


GEMURUH ombak di waktu malam seperti pasukan siluman menghampiri
pantai. Tak terlihat bentuknya namun terdengar aneh suara gaduhnya. Bulu
kuduk pun mulai merinding ketika angin pantai berhembus membawa getaran
Hanya naluri yang dapat merasakan kehadiran sang gaib saat ini.
"Apa lu yakin dia akan muncul dalam cuaca seburuk ini?"
"Ya, gue sangat yakin. Dia nggak akan ingkar janji. Seperti yang sudah-sudah,
dia selalu tepati janjinya." Hembusan angin di malam pekat semakin hebat.
Kedua pria lajang berusia sebaya itu masih berdiri menatap ke arah lautan
lepas. Mereka berdiri di depan Escudo hitam yang di parkir agak jauh dari
sapuan riak ombak. Hilmon sengaja berdiridengan sedikit bersandar kemobil .Ia
tak ingin terlalu lelah dalam berdiri hanya untuk menunggu suatu pembuktian
yang menyangsikan. Meski hatinya diliputi kesangsian, tapi Hilmon juga
dibayang-bayangi rasa penasaran, yang selalu menggoda. Malam Jumat yang lalu, Gerry mengaku bertemu dengan seorang gadis dalam perjalanannya
pulang dari Pelabuhan Ratu.
Gadis itu menumpang Mobil Gerry. menuju Jakarta. Tapi ia tak mau
menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Ia hanya menyebutkan namanya:
Vania Mercury. "Dia seorang artis sinetron yang baru selesai pulang -dari
shooting di. Pelabuhan Ratu," kata Gerry beberapa waktu yang lalu. Saat itu
Hilmon bersikap sebagai pendengar saja, tanpa banyak komentar. Karena saat
itu Gerry menuturkan kisahnya dengan berapi-api, bangga dan senang sekali.
Tak habis-habisnya Gerry memuji kecantikan dan keindahan tubuh sexy Vania
di depan Hilmon. Meskipun ia tidak diberitahu alamat tempat tinggalnya, tapi ia
mendapat nomor HP-ny Vania, sehingga kapan saja ia dapat janjian untuk
bertemu dengan gadis itu. Tetapi dua
hari sejak pertemuan tersebut, Gerry selalu gagal menghubungi HP-nya Vania.
Ia mulai kecewa dan kesal,karena di dalam hatinya mulai tumbuh benih
kerinduan pada gadis berperawakan finggi, sekal dan montok itu: "Tapi gue
ingat, waktu itu dia bilang, bahwa dia akan datang menemui gue pada hari
Senin malam Selasa, di kantor. que diminta lembur pada malam itu. Maka, gue
coba ikuti saran dia."
"Hmm, ya gue inget hari Senin kemarin lu nggak mau pulang bareng gue,
alasan lu mau lembur. Padahal gue tahu nggak ada pekerjaan yang harus Lu
harus kerjain sampai lembur."
"Itu karena gue pengen buktiin apa bener dia nemuin gue sesuai janjinya. Dan,
ternyata sekitar pukul sebelas lewat dikit, Satpam lobby telepon ke ruangan
gue, kasih tahu kalau ada tamu pengen nemuin gue, dan dia adalah... Vania!"
"Lu kasih tahu alamat kantor kita sebelumnya, ya ?"
"Iya. Tapi kalau dia emang mau ngebullshit kan bisa aja dia nggak datang pada
malam itu. Tapi ternyata dia orang yang tepat janji, Mon! Dia datang dan... dan
dia nggak menolak waktu gue ngajak check-in, hahaha... "
Pukul 4 dini hari, Vania pamit meninggalkan hotel. Dia melarang keras Gerry
yang ingin mengantarnya pulang. Vania bilang, jika Gerry masah ingin
mengulang kencan indahnya, Gerry harus datang ke Tempat Pemakaman
Umum Tanah Kusir. Vania akan dating menemui Gerry di sana. Sekali lagi janji
itu ingin dibuktikan oleh Gerry. Hari. Selasa sore, Gerry datang ke Pemakaman
Tanah Kusir. Kebetulan salah satu sanak famili Gerry ada yang dimakamkan .di
Tanah Kusir. Sambil ziarah ke sana, Gerry menunggu kehadiran Vania.
Ternyata gadis-itu benar-benar muncul di pemakaman tersebut, tepat ketika
Gerry ingin pulang karena hari sudah larut senja.
Gerry menuturkan kisahnya kepada Hilmon esok
harinya. Rabu siang di kantor. Ia katakan bahwa malam itu Vania tidak mau
dibawa check-in di hotel mana pun. Vania justru minta diantar pulang ke
apartemennya. "Sudahwaktunya kau tahu apartemenku, Gerry"
"Oh, jadi kau tinggal di apartemen?"
"YaKeberatankah?" Gerry tertawa senang menerima tawaran itu, Dan, agaknya
malam itu Vania juga terlihat lebih agresif dari sebelumnya, Sepanjang
perjalanan menuju apartemennya tak henti-henti tangan Vania bermain nakal di
pangkuan Gerry. Kecupan menantang sering mendarat di pipi, leher dan pelipis
Gerry. Hal itu membuat Gerry merasa menemukan obsesinya selama ini, yaitu.
mendapatkan teman kencan yang agresif dan liar.
"Hei, hei... sabar dulu, Sayang... "
"Aku horney banget hari ini," ujar Vania sambil mendesah-desah saat menciumi
tubuh Gerry begitu masuk ke apartemennya. Gerry tak diberi kesempatan untuk
mengomentari kemewahan apartemen Vania yang nyaris seluruh perabotnya
bernuansa kristal Gerry bahkan tak diberi kesempatan meletakkan kunci
mobilnya, karena begitu pintu ditutup Vania langsung menciumi wajah Gerry.
Pria berambut ikal rapi itu dibuatnya berdiri bersandar pada dinding samping
pintu, menerima kecupan bertubi-tubi. Bibirnya dilumat- dengan liar oleh Vania,
sampai tak sempat membalas dengan lumatan yang setara. Dalam sekejap
tahu-tahu tubuhnya sudah bersih dari pakaian: Tangan Vania sangat trampil
dalam melucuti pakaian Gerry hingga ke bagian yang paling dalam. Si mata
biru berbulu lentik ternyata dapat berubah menjadi lebih ganas dari singa
betina. Gerry hanya bisa menuruti apa yang menjadi keinginan Vania.
Ia juga mematuhi apa perintah Vania ketika gadis berdada motok itu berbaring
di atas meja kaca tebal. tanpa sehelai benang pun. Gerry bersikap sebagai
budak yang setia pada ratunya,. sehingga pelayanannya membuat
Vania semakin mengamuk lebih erotis lagi. Malam itu Gerry mendapatkan
kepuasan bercinta yang lebih indah dari kencan sebelumnya. Vania pun
mengaku mendapat kepuasan yang luar biasa indahnya, sehingga di saat ia
terkulai bermandi peluh, Gerry mendengar suara paraunya berdada manja.
Memang luar biasa..Gerry tidak menceritakan lebih detil lagi tentang apa yang
dilakukan Vania ketika, malam itu ia berbaring pasrah. Namun Hilmon dapat.
membayangkan sendiri apa yang diperoleh Gerry pada hari Selasa malam itu.
Keindahan cinta itu membuat Gerry tak sempat tidur. Ia meninggalkan
apartemen sebelum matahari terbit. "Aku akan datang menjemputmu nanti sore
kita makan malam ...." "Kamu nggak perlu datang lagi ke sini," kata Vania saat
mengantar Gerry sampai di depan pintu. "0, Vani... please. Aku ingin... ," Mulut
Gerry segera ditutupi dengan jari telunjuk Vania yang membuat kata-kata Gerry
berhenti seketika. Tatapan matanya lembut dan menghadirkan keindahan
tersendiri di hati Gerry. Ia berkata dengan nada berbisik dan sedikit parau.
"Minggu depan kita bertemu, Gerry" "Minggu depan?! Ooh, tapi itu terlalu lama
bagiku untuk..." "Pergilah ke pantai pada hari Kamis malam, minggu depan.
Aku akan datang menemuimu di sana." Gerry tak dapat melakukan penawaran
waktu lebih cepat lagi. Janji Vania seakan merupaka.n keputusan yang sudah
tidak dapat diganggu gugat lagi. Gerry dihinggapi rasa rindu yang amat
menyiksa jiwa. lebih-lebih nomor HP pemberian Vania tetap tidak dapat
dihubungi.
Maka, tiga hari setelah pertemuannya dengan Vania di apartemen, Gerry nekat
menemui gadis itu. Ia datang ke apartemennya sepulang dan kantor. Namun is tertegun dalam keherananan yang tinggi, karena apartemen tersebut sudah
terbakar. Yang tersisa hanya sosok
bangunan hitam penuh dengan puing dan sisa kebakaran. Gerry menemui
seorang pedagang rokok yang ada di seberang apartemen tersebut. Ia
menanyakan, sejak kapan apartemen itu terbakar ? "Empat hari yang lalu,
Tuan," jawab pedagang rokok itu. "Nggak mungkin! Tiga hari yang lalu saya
masih datang ke situ dan menemui teman saya yang tinggal di lantai tujuh.
Saya pulang subuh!" "Wah, aneh sekali kalau begitu. Padahal apartemen itu
terbakar empat hari yang lalu Kan sempat masuk berita TV, karena musibah itu
menelan korban 13 orang." Gerry selalu menyangkal kenyataan itu. Di depan
Hilmon dia ngotot bahwa informasi yang ia dapatkan dari pedagang rokok itu
tidak benar. Hilmon menyodorkan beberapa koran yang memuat berita
terbakarnya apartemen tersebut pada hari Senin, tapi Gerry tetap menyangkal
tegas-tegas. Berita itu tidak benar. Hari Selasanya ia masih bisa kencan hangat
dengan Vania di apartemen itu. Timbul kecurigaan di benak Hilmon. "Jangan-
jangan dia bukan cewek biasa, Ger?!" "Maksud lu... dia cewek luar biasa? Iya,
memang dia cewek luar biasa. Kehebatannya di atas ranjang.. " "Maksud gue,
dia bukan manusia!" potong Hilmon. "Siluman, peri atau sejenisnya." Saat itu
Gerry menatap Hilmon dengan mata menyipit. Suaranya bernada ketus. “Lu,
sirik ya?! lu iri gue bisa dapat cewek secantik dia kan? Karena lu merasa iri
maka lu fitnah dia dengan anggapan naif begitu, supaya gue ngelepasin dia.
Itukan mau lu?" Hilmon tertawa kalem. Tidak terpancing emosi. Ia coba
menenangkan Gerry agar di antara mereka tidak terjadi salah paham. ia coba
pula untuk memberikan beberapa analisa tentang kemisteriusan Vania Mercury
itu. Menurutnya, hanya ada dua kemungkinan dalam analisanya: Gerry
mengalami halusinasi, atau Gerry mengarang Cerita bohong untuk
memperdaya dirinya.
"Mon,. semalem gue nggak bisa tidur mikirin Vania. Kayaknya gue mengalami
fenomena gaib yang hanya bisa dialami oleh orang-orang tertentu, oleh orang-
orang yang punya keistimewaan dalam kodrat hidupnya, seperti halnya diri gue
sendiri. Gue yakin, gue punya keistimeWaan yang tidak dimiliki oleh cowok
mana pun." Akhirnya Gerry berkeyakinan demikian. Ia cukup serius bicara
begitu di depan Hilmon, sementara Hilmon menanggapi dengan kalem. Ada
senyum dan tawa kecil yang terkesan seolah-olah ia tak akan terhasut oleh
omong kosong seperti itu. Gerry pun tampak putus asa,tak ingin meyakinkan
Hilmon lagi. "Persetan lu mau percaya apa nggak, yang jelas hari ini adalah hari
Karnis. Gue pinjem mobil lu. Mobil gue belum keluar dari bengkel." "Mau ke
mana lu?" "Gue mau ke pantai." "Aaalaa... udahlah, lupain soal gituan. Kayak
kurang kerjaan aja. Mending lu pulang bareng gue. Eeh, kita dapat undangan
makan malam bersama Bu Elsye dan sekretarisnya yang mungil itu lho, Ger." .
"Gue nggak tertarik. Gue harus ke pantai, karena Vania akan menemui gue di
sana sesuai janjitiya. Gue pinjem mobil lu ya “ Sebegitu kuatnya keyakinan
Gerry, sampai- sampai hati Hilmon pun jadi penasaran. Ia ingin tahu, apa
sebenarnya yang ada di balik semua ini. Kemisteriusan atau kebohongan?
Untuk itulah ia tak keberatan mengantar Gerry ke pantai. Namun sudah sejak
dua jam yang lalu yang ia temui di pantai hanyalah gemuruh ombak dan
hembusan angin kencang. Hilmon sempat merasa dirinya seperti orang
Melakukan kebodohan di tengah kesadaran logikanya. Deburan ombak pantai
menggema. Hilmon tarik napas dalam-dalam, lalu rnendesis bernada gerutu.
"Ini gila!"
"Gue kan udah bilang elu nggak usah ikut gue ke sini
kalau elu anggap ini sesuatu yang gila!" . "Gue berharap lu masih sadar, Ger."
"0, iya dong. Gue sadar seratus persen! Gue nggak lagi paranoid. Tapi gue
nggak maksa elu kalau elu merasa...." Gerry menghentikan kata-katanya.
,Tatapan matanya tertuju ke tengah lautan. Bayang-bayang ketegangan mulai
membias lewat rona wajahnya yang berkumis tipis dan sedikit bercambang itu.
"Mon,. apaan itu, Mon ..... ? “ Tampak cahaya kecil namun berbinar-binar
bagaikan bola kristal. Cahaya itu berwarna perak. Makin lama makin bergerak,
mendekati garis pantai, dan semakin dekat semakin seperti bola berserabut
bentuknya. Hilmon terperangah. Matanya tak berkedip. Mulutnya ternganga.
Diam-diam jantungnya mulai berdetak cepat. Ia mulai merasa cemas, karena
saat itu Gerry pun tertegun bagai seonggok batu tanpa suara. Hembusan angin
datang dari arah depan mereka, Kencang sekali. Tubuh mereka sempat
merasa sedikit terdorong mundur. Namun karena ada bumper mobil, maka
tubuh mereka masih bisa tetap berdiri di tempat. Hanya saja, mereka
merasakan ada sesuatu yang menekan dada cukup berat. Pernapasan pun jadi
agak sesak. "Ger... ??!" bisik Hilmon makin tegang, karena cahaya silver itu
semakin dekat. Semakin besar bentuknya..Bulat dan berserabut bias cahaya.
menyilaukan. Ombak di lautan bagaikan mengamuk.Gerakan dan suara
gemuruhnya menim bulkan rasa takut;Cahaya itu seakan telah rnenghisap
keberanian siapapun yang ada di pantai saat itu Gerry tampak sulit bicara.
Kerongkongannya terasa kering. Hilrnonlah yang masih mampu berusaha untuk
melontarkan kata dengan napas tersengal-sengal. "La... lari saja, Ger... !!"
Gerry mengangguk. Ia berhasil menggerakkan kepala untuk menatap Hilmon.
Namun ia tak berhasil menggerakkan kakinya sedikit pun. Kedua kaki Gerry
seperti dihisap oleh pasir pantai yang dipijaknya. Sementara kedua kaki Hilmon
sudah berhasil melangkah kesamping walau itu pun ia lakukan dengan sangat
susah payah. Hilmon berhasil mendekati pintu mobil pada saat cahaya putih
menakutkan menjadi lebih besar dan lebih menyilaukan lagi. Jaraknya dengan
pantai pun menjadi lebih dekat lagi. "Masuk... masuk . ! Buruan.....!!" Hilmon
memang berhasil menguasai kesadarannya. Ia segera masuk mobil dan
berusaha menghidupkan mesin mobil. Namun, Gerry bagaikan terpatri di
tempatnya. Bergerak tak bisa, berteriak tak mampu. Sementara itu, mesin mobil
ternyata gagal dihidupkan. Hilmon menstarternya berkali-kali namun tak ada
hasilnya. "Yaa, Tuhaaan... ?!" keluh Hilmon bertambah tegang dan ketakutan.
Kedua bola matanya terbelalak lebar. Ia memandang dari balik kaca mobil.
Cahaya perak itu bukan saja semakin besar, namun juga berubah bentuknya
menjadi seperti angin topan. Berputar-putar membentuk cerobong raksasa.
Putarannya menimbulkan hembusan angin lebih hebat lagi sehingga dua pohon
kelapa tak jauh dari mereka patah bersamaan, sementara di sisi lain ada yang
tumbang dan terlempar dan tempatnya. "Gerrryyy ..!! Buruan masuuuukk !!
Masuk., Gerrr_ ! Masuk ... !!! “ Teriakan Hilmon di dalam mobil sama sekali tak
sarnpai di pendengaran Gerry. Teriakan itu terhenti seketika, karena Hilinon
melihat jelas munculnya seraut wajah dari dalam pusaran cahaya aneh yang
makin mendekati pantai itu. Wajah yang muncul dalam pusaran cahaya itu
adalah wajah cantik berambut hitam meriapriap dengan mahkota kecil di
atasnya. Ciri-ciri kecantikan itu tak lain adalah kecantikan Vania Mercury,
seperti yang sering disebut-sebut Gerry beberapa hari ini. Hanya saja, wanita
cantik dalam pusaran cahaya perak itu tampak jelas bermata merah menyala,
menyeramkan sekali.
Dengan gerakan panik Hilmon menurunkan kaca pintu. Tujuannya supaya
suara teriakannya didengar Gerry. "Gerrryyy... masuuuk ke mobil ! Masuuuk,
Geeerr ......!! “ Tapi gemuruh ombak yang mengamuk dengann liar, dan deru
angin yang menghempas dahsyat, sangatlah tak sebanding dengan teriakan
Atau barangkali telinga Gerry sudah tertutup oleh sesuatu yang gaib sehingga
tak mendengar teriakan temannya. Sebaliknya, Hilmon justrit mendengar suara.
Gerry berseru rnemanggil-manggil sepotong nama yang saat itu telah
mendominir seluruh kesadarannya. "Vaniiii ! !" "Gawat! Gerry semakin nggak.
waras!" pikir Almon. "Aku hams menyeretnya masuk ke sini " Namun pintu
mobil seperti terhalang tebing karang. Tak bisa dibuka, tak mampu didobrak
paksa. Hilmon mendengar suara perempuan yang bernada aneh,
menyeramkan, dan membuat sekujur tubuhnya semakin merinding: Suara itu
menggema pelan namun sangat jelas. "Ake datang menjemputmu, Gerryyy. !"
"Vaniiiaaa, ini akuuuu .... !!" Hilmon semakin panik. Ia berusaha keluar dari
mobil lewat jendela kaca yang sudah diturunkan. Namun kepanikan
membuatnya tak berhasil lobos. Bahkan gerakkan tubuhnya terhenti seketika
akibat ia melihat jelas-jelas cahaya perak itu melesat ke pantai. Kedua tangan
Vania Mercury seperti terjulur ke depan dan mengeluarkan cahaya perak
lainnya yang segera menyambar tubuh Gerry. Zzrrrup... ! "Gerrryyyyyyy .......
!!!!! "
Hilmon bukan berteriak lagi, tapi menjerit histeris • sekuat tenaga. Ia melihat
Gerry seperti terhisap seluruh daging tubuhnya. dan masuk ke dalam pusaran
cahaya perak itu. Dalam sekejap saja Gerry lenyap, yang tersisa tinggal
kerangka tulang-tulangnya berdiri tegak di depan mobil. Darah, daging, dan
yang lainnya telah lenyap dalam satu gerakan terbang ke arah Vania Mercury,
seperti
serpihan sampah yang masuk kedalam mesin penghisap debu. Tak tersisa
sehelai rambut pun. Sekujur tubuh Hilmon pun menjadi lemas bagai tak
bertulang lagi. Ia tak mampu berteriak atau mengerang sedikit pun ketika ia
sadari yang ada di depan mobilnya hanya kerangka tulang-tulang Gerry.
Kerangka itu sempat berdiri terayun-ayun sejenak, lalu jatuh terpuruk
berantakan di saat cahaya perak itu padam seketika. Berganti gelap gulita
mencekam bumi. Kerangka milik Gerry ditemukan seorang pengelola pantai
wisata pada pagi harnya. Polisi segera tiba di tempat tersebut, dan segera
melakukan penyidikan secara intensif: Hilmon yang ditemukan di TKP dalam
keadaann pingsan dimintai keterangan. Namun , penjelasan Hilmon dianggap
terlalu mengada-ada, sehingga Hilmon pun untuk sementara diamankan ke
kantor polisi terdekat. Ia bisa menjadi saksi kunci, sekaligus bias menjadi
tertuduh tunggal dalam kasus ditemukannya kerangka manusia di depan
mobilnya itu.

Nyi Blorong

Nyi Blorong

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
KUMALA DEWI {Ratu Penguasa Mahluk Melata}Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora