Kisah ini menceritakan tentang seorang bidadari yang berasal dari khayangan dan ditugaskan untuk melindungi semua mahluk terutama mahluk melata dan ia kemudian diangkat menjadi ratu,ia sekarang dikenal dengan sebutan RATU KUMALA DEWI SANG DEWI ULAR...
GEMURUH ombak di waktu malam seperti pasukan siluman menghampiri pantai. Tak terlihat bentuknya namun terdengar aneh suara gaduhnya. Bulu kuduk pun mulai merinding ketika angin pantai berhembus membawa getaran Hanya naluri yang dapat merasakan kehadiran sang gaib saat ini. "Apa lu yakin dia akan muncul dalam cuaca seburuk ini?" "Ya, gue sangat yakin. Dia nggak akan ingkar janji. Seperti yang sudah-sudah, dia selalu tepati janjinya." Hembusan angin di malam pekat semakin hebat. Kedua pria lajang berusia sebaya itu masih berdiri menatap ke arah lautan lepas. Mereka berdiri di depan Escudo hitam yang di parkir agak jauh dari sapuan riak ombak. Hilmon sengaja berdiridengan sedikit bersandar kemobil .Ia tak ingin terlalu lelah dalam berdiri hanya untuk menunggu suatu pembuktian yang menyangsikan. Meski hatinya diliputi kesangsian, tapi Hilmon juga dibayang-bayangi rasa penasaran, yang selalu menggoda. Malam Jumat yang lalu, Gerry mengaku bertemu dengan seorang gadis dalam perjalanannya pulang dari Pelabuhan Ratu. Gadis itu menumpang Mobil Gerry. menuju Jakarta. Tapi ia tak mau menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Ia hanya menyebutkan namanya: Vania Mercury. "Dia seorang artis sinetron yang baru selesai pulang -dari shooting di. Pelabuhan Ratu," kata Gerry beberapa waktu yang lalu. Saat itu Hilmon bersikap sebagai pendengar saja, tanpa banyak komentar. Karena saat itu Gerry menuturkan kisahnya dengan berapi-api, bangga dan senang sekali. Tak habis-habisnya Gerry memuji kecantikan dan keindahan tubuh sexy Vania di depan Hilmon. Meskipun ia tidak diberitahu alamat tempat tinggalnya, tapi ia mendapat nomor HP-ny Vania, sehingga kapan saja ia dapat janjian untuk bertemu dengan gadis itu. Tetapi dua hari sejak pertemuan tersebut, Gerry selalu gagal menghubungi HP-nya Vania. Ia mulai kecewa dan kesal,karena di dalam hatinya mulai tumbuh benih kerinduan pada gadis berperawakan finggi, sekal dan montok itu: "Tapi gue ingat, waktu itu dia bilang, bahwa dia akan datang menemui gue pada hari Senin malam Selasa, di kantor. que diminta lembur pada malam itu. Maka, gue coba ikuti saran dia." "Hmm, ya gue inget hari Senin kemarin lu nggak mau pulang bareng gue, alasan lu mau lembur. Padahal gue tahu nggak ada pekerjaan yang harus Lu harus kerjain sampai lembur." "Itu karena gue pengen buktiin apa bener dia nemuin gue sesuai janjinya. Dan, ternyata sekitar pukul sebelas lewat dikit, Satpam lobby telepon ke ruangan gue, kasih tahu kalau ada tamu pengen nemuin gue, dan dia adalah... Vania!" "Lu kasih tahu alamat kantor kita sebelumnya, ya ?" "Iya. Tapi kalau dia emang mau ngebullshit kan bisa aja dia nggak datang pada malam itu. Tapi ternyata dia orang yang tepat janji, Mon! Dia datang dan... dan dia nggak menolak waktu gue ngajak check-in, hahaha... " Pukul 4 dini hari, Vania pamit meninggalkan hotel. Dia melarang keras Gerry yang ingin mengantarnya pulang. Vania bilang, jika Gerry masah ingin mengulang kencan indahnya, Gerry harus datang ke Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir. Vania akan dating menemui Gerry di sana. Sekali lagi janji itu ingin dibuktikan oleh Gerry. Hari. Selasa sore, Gerry datang ke Pemakaman Tanah Kusir. Kebetulan salah satu sanak famili Gerry ada yang dimakamkan .di Tanah Kusir. Sambil ziarah ke sana, Gerry menunggu kehadiran Vania. Ternyata gadis-itu benar-benar muncul di pemakaman tersebut, tepat ketika Gerry ingin pulang karena hari sudah larut senja. Gerry menuturkan kisahnya kepada Hilmon esok harinya. Rabu siang di kantor. Ia katakan bahwa malam itu Vania tidak mau dibawa check-in di hotel mana pun. Vania justru minta diantar pulang ke apartemennya. "Sudahwaktunya kau tahu apartemenku, Gerry" "Oh, jadi kau tinggal di apartemen?" "YaKeberatankah?" Gerry tertawa senang menerima tawaran itu, Dan, agaknya malam itu Vania juga terlihat lebih agresif dari sebelumnya, Sepanjang perjalanan menuju apartemennya tak henti-henti tangan Vania bermain nakal di pangkuan Gerry. Kecupan menantang sering mendarat di pipi, leher dan pelipis Gerry. Hal itu membuat Gerry merasa menemukan obsesinya selama ini, yaitu. mendapatkan teman kencan yang agresif dan liar. "Hei, hei... sabar dulu, Sayang... " "Aku horney banget hari ini," ujar Vania sambil mendesah-desah saat menciumi tubuh Gerry begitu masuk ke apartemennya. Gerry tak diberi kesempatan untuk mengomentari kemewahan apartemen Vania yang nyaris seluruh perabotnya bernuansa kristal Gerry bahkan tak diberi kesempatan meletakkan kunci mobilnya, karena begitu pintu ditutup Vania langsung menciumi wajah Gerry. Pria berambut ikal rapi itu dibuatnya berdiri bersandar pada dinding samping pintu, menerima kecupan bertubi-tubi. Bibirnya dilumat- dengan liar oleh Vania, sampai tak sempat membalas dengan lumatan yang setara. Dalam sekejap tahu-tahu tubuhnya sudah bersih dari pakaian: Tangan Vania sangat trampil dalam melucuti pakaian Gerry hingga ke bagian yang paling dalam. Si mata biru berbulu lentik ternyata dapat berubah menjadi lebih ganas dari singa betina. Gerry hanya bisa menuruti apa yang menjadi keinginan Vania. Ia juga mematuhi apa perintah Vania ketika gadis berdada motok itu berbaring di atas meja kaca tebal. tanpa sehelai benang pun. Gerry bersikap sebagai budak yang setia pada ratunya,. sehingga pelayanannya membuat Vania semakin mengamuk lebih erotis lagi. Malam itu Gerry mendapatkan kepuasan bercinta yang lebih indah dari kencan sebelumnya. Vania pun mengaku mendapat kepuasan yang luar biasa indahnya, sehingga di saat ia terkulai bermandi peluh, Gerry mendengar suara paraunya berdada manja. Memang luar biasa..Gerry tidak menceritakan lebih detil lagi tentang apa yang dilakukan Vania ketika, malam itu ia berbaring pasrah. Namun Hilmon dapat. membayangkan sendiri apa yang diperoleh Gerry pada hari Selasa malam itu. Keindahan cinta itu membuat Gerry tak sempat tidur. Ia meninggalkan apartemen sebelum matahari terbit. "Aku akan datang menjemputmu nanti sore kita makan malam ...." "Kamu nggak perlu datang lagi ke sini," kata Vania saat mengantar Gerry sampai di depan pintu. "0, Vani... please. Aku ingin... ," Mulut Gerry segera ditutupi dengan jari telunjuk Vania yang membuat kata-kata Gerry berhenti seketika. Tatapan matanya lembut dan menghadirkan keindahan tersendiri di hati Gerry. Ia berkata dengan nada berbisik dan sedikit parau. "Minggu depan kita bertemu, Gerry" "Minggu depan?! Ooh, tapi itu terlalu lama bagiku untuk..." "Pergilah ke pantai pada hari Kamis malam, minggu depan. Aku akan datang menemuimu di sana." Gerry tak dapat melakukan penawaran waktu lebih cepat lagi. Janji Vania seakan merupaka.n keputusan yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Gerry dihinggapi rasa rindu yang amat menyiksa jiwa. lebih-lebih nomor HP pemberian Vania tetap tidak dapat dihubungi. Maka, tiga hari setelah pertemuannya dengan Vania di apartemen, Gerry nekat menemui gadis itu. Ia datang ke apartemennya sepulang dan kantor. Namun is tertegun dalam keherananan yang tinggi, karena apartemen tersebut sudah terbakar. Yang tersisa hanya sosok bangunan hitam penuh dengan puing dan sisa kebakaran. Gerry menemui seorang pedagang rokok yang ada di seberang apartemen tersebut. Ia menanyakan, sejak kapan apartemen itu terbakar ? "Empat hari yang lalu, Tuan," jawab pedagang rokok itu. "Nggak mungkin! Tiga hari yang lalu saya masih datang ke situ dan menemui teman saya yang tinggal di lantai tujuh. Saya pulang subuh!" "Wah, aneh sekali kalau begitu. Padahal apartemen itu terbakar empat hari yang lalu Kan sempat masuk berita TV, karena musibah itu menelan korban 13 orang." Gerry selalu menyangkal kenyataan itu. Di depan Hilmon dia ngotot bahwa informasi yang ia dapatkan dari pedagang rokok itu tidak benar. Hilmon menyodorkan beberapa koran yang memuat berita terbakarnya apartemen tersebut pada hari Senin, tapi Gerry tetap menyangkal tegas-tegas. Berita itu tidak benar. Hari Selasanya ia masih bisa kencan hangat dengan Vania di apartemen itu. Timbul kecurigaan di benak Hilmon. "Jangan- jangan dia bukan cewek biasa, Ger?!" "Maksud lu... dia cewek luar biasa? Iya, memang dia cewek luar biasa. Kehebatannya di atas ranjang.. " "Maksud gue, dia bukan manusia!" potong Hilmon. "Siluman, peri atau sejenisnya." Saat itu Gerry menatap Hilmon dengan mata menyipit. Suaranya bernada ketus. “Lu, sirik ya?! lu iri gue bisa dapat cewek secantik dia kan? Karena lu merasa iri maka lu fitnah dia dengan anggapan naif begitu, supaya gue ngelepasin dia. Itukan mau lu?" Hilmon tertawa kalem. Tidak terpancing emosi. Ia coba menenangkan Gerry agar di antara mereka tidak terjadi salah paham. ia coba pula untuk memberikan beberapa analisa tentang kemisteriusan Vania Mercury itu. Menurutnya, hanya ada dua kemungkinan dalam analisanya: Gerry mengalami halusinasi, atau Gerry mengarang Cerita bohong untuk memperdaya dirinya. "Mon,. semalem gue nggak bisa tidur mikirin Vania. Kayaknya gue mengalami fenomena gaib yang hanya bisa dialami oleh orang-orang tertentu, oleh orang- orang yang punya keistimewaan dalam kodrat hidupnya, seperti halnya diri gue sendiri. Gue yakin, gue punya keistimeWaan yang tidak dimiliki oleh cowok mana pun." Akhirnya Gerry berkeyakinan demikian. Ia cukup serius bicara begitu di depan Hilmon, sementara Hilmon menanggapi dengan kalem. Ada senyum dan tawa kecil yang terkesan seolah-olah ia tak akan terhasut oleh omong kosong seperti itu. Gerry pun tampak putus asa,tak ingin meyakinkan Hilmon lagi. "Persetan lu mau percaya apa nggak, yang jelas hari ini adalah hari Karnis. Gue pinjem mobil lu. Mobil gue belum keluar dari bengkel." "Mau ke mana lu?" "Gue mau ke pantai." "Aaalaa... udahlah, lupain soal gituan. Kayak kurang kerjaan aja. Mending lu pulang bareng gue. Eeh, kita dapat undangan makan malam bersama Bu Elsye dan sekretarisnya yang mungil itu lho, Ger." . "Gue nggak tertarik. Gue harus ke pantai, karena Vania akan menemui gue di sana sesuai janjitiya. Gue pinjem mobil lu ya “ Sebegitu kuatnya keyakinan Gerry, sampai- sampai hati Hilmon pun jadi penasaran. Ia ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di balik semua ini. Kemisteriusan atau kebohongan? Untuk itulah ia tak keberatan mengantar Gerry ke pantai. Namun sudah sejak dua jam yang lalu yang ia temui di pantai hanyalah gemuruh ombak dan hembusan angin kencang. Hilmon sempat merasa dirinya seperti orang Melakukan kebodohan di tengah kesadaran logikanya. Deburan ombak pantai menggema. Hilmon tarik napas dalam-dalam, lalu rnendesis bernada gerutu. "Ini gila!" "Gue kan udah bilang elu nggak usah ikut gue ke sini kalau elu anggap ini sesuatu yang gila!" . "Gue berharap lu masih sadar, Ger." "0, iya dong. Gue sadar seratus persen! Gue nggak lagi paranoid. Tapi gue nggak maksa elu kalau elu merasa...." Gerry menghentikan kata-katanya. ,Tatapan matanya tertuju ke tengah lautan. Bayang-bayang ketegangan mulai membias lewat rona wajahnya yang berkumis tipis dan sedikit bercambang itu. "Mon,. apaan itu, Mon ..... ? “ Tampak cahaya kecil namun berbinar-binar bagaikan bola kristal. Cahaya itu berwarna perak. Makin lama makin bergerak, mendekati garis pantai, dan semakin dekat semakin seperti bola berserabut bentuknya. Hilmon terperangah. Matanya tak berkedip. Mulutnya ternganga. Diam-diam jantungnya mulai berdetak cepat. Ia mulai merasa cemas, karena saat itu Gerry pun tertegun bagai seonggok batu tanpa suara. Hembusan angin datang dari arah depan mereka, Kencang sekali. Tubuh mereka sempat merasa sedikit terdorong mundur. Namun karena ada bumper mobil, maka tubuh mereka masih bisa tetap berdiri di tempat. Hanya saja, mereka merasakan ada sesuatu yang menekan dada cukup berat. Pernapasan pun jadi agak sesak. "Ger... ??!" bisik Hilmon makin tegang, karena cahaya silver itu semakin dekat. Semakin besar bentuknya..Bulat dan berserabut bias cahaya. menyilaukan. Ombak di lautan bagaikan mengamuk.Gerakan dan suara gemuruhnya menim bulkan rasa takut;Cahaya itu seakan telah rnenghisap keberanian siapapun yang ada di pantai saat itu Gerry tampak sulit bicara. Kerongkongannya terasa kering. Hilrnonlah yang masih mampu berusaha untuk melontarkan kata dengan napas tersengal-sengal. "La... lari saja, Ger... !!" Gerry mengangguk. Ia berhasil menggerakkan kepala untuk menatap Hilmon. Namun ia tak berhasil menggerakkan kakinya sedikit pun. Kedua kaki Gerry seperti dihisap oleh pasir pantai yang dipijaknya. Sementara kedua kaki Hilmon sudah berhasil melangkah kesamping walau itu pun ia lakukan dengan sangat susah payah. Hilmon berhasil mendekati pintu mobil pada saat cahaya putih menakutkan menjadi lebih besar dan lebih menyilaukan lagi. Jaraknya dengan pantai pun menjadi lebih dekat lagi. "Masuk... masuk . ! Buruan.....!!" Hilmon memang berhasil menguasai kesadarannya. Ia segera masuk mobil dan berusaha menghidupkan mesin mobil. Namun, Gerry bagaikan terpatri di tempatnya. Bergerak tak bisa, berteriak tak mampu. Sementara itu, mesin mobil ternyata gagal dihidupkan. Hilmon menstarternya berkali-kali namun tak ada hasilnya. "Yaa, Tuhaaan... ?!" keluh Hilmon bertambah tegang dan ketakutan. Kedua bola matanya terbelalak lebar. Ia memandang dari balik kaca mobil. Cahaya perak itu bukan saja semakin besar, namun juga berubah bentuknya menjadi seperti angin topan. Berputar-putar membentuk cerobong raksasa. Putarannya menimbulkan hembusan angin lebih hebat lagi sehingga dua pohon kelapa tak jauh dari mereka patah bersamaan, sementara di sisi lain ada yang tumbang dan terlempar dan tempatnya. "Gerrryyy ..!! Buruan masuuuukk !! Masuk., Gerrr_ ! Masuk ... !!! “ Teriakan Hilmon di dalam mobil sama sekali tak sarnpai di pendengaran Gerry. Teriakan itu terhenti seketika, karena Hilinon melihat jelas munculnya seraut wajah dari dalam pusaran cahaya aneh yang makin mendekati pantai itu. Wajah yang muncul dalam pusaran cahaya itu adalah wajah cantik berambut hitam meriapriap dengan mahkota kecil di atasnya. Ciri-ciri kecantikan itu tak lain adalah kecantikan Vania Mercury, seperti yang sering disebut-sebut Gerry beberapa hari ini. Hanya saja, wanita cantik dalam pusaran cahaya perak itu tampak jelas bermata merah menyala, menyeramkan sekali. Dengan gerakan panik Hilmon menurunkan kaca pintu. Tujuannya supaya suara teriakannya didengar Gerry. "Gerrryyy... masuuuk ke mobil ! Masuuuk, Geeerr ......!! “ Tapi gemuruh ombak yang mengamuk dengann liar, dan deru angin yang menghempas dahsyat, sangatlah tak sebanding dengan teriakan Atau barangkali telinga Gerry sudah tertutup oleh sesuatu yang gaib sehingga tak mendengar teriakan temannya. Sebaliknya, Hilmon justrit mendengar suara. Gerry berseru rnemanggil-manggil sepotong nama yang saat itu telah mendominir seluruh kesadarannya. "Vaniiii ! !" "Gawat! Gerry semakin nggak. waras!" pikir Almon. "Aku hams menyeretnya masuk ke sini " Namun pintu mobil seperti terhalang tebing karang. Tak bisa dibuka, tak mampu didobrak paksa. Hilmon mendengar suara perempuan yang bernada aneh, menyeramkan, dan membuat sekujur tubuhnya semakin merinding: Suara itu menggema pelan namun sangat jelas. "Ake datang menjemputmu, Gerryyy. !" "Vaniiiaaa, ini akuuuu .... !!" Hilmon semakin panik. Ia berusaha keluar dari mobil lewat jendela kaca yang sudah diturunkan. Namun kepanikan membuatnya tak berhasil lobos. Bahkan gerakkan tubuhnya terhenti seketika akibat ia melihat jelas-jelas cahaya perak itu melesat ke pantai. Kedua tangan Vania Mercury seperti terjulur ke depan dan mengeluarkan cahaya perak lainnya yang segera menyambar tubuh Gerry. Zzrrrup... ! "Gerrryyyyyyy ....... !!!!! " Hilmon bukan berteriak lagi, tapi menjerit histeris • sekuat tenaga. Ia melihat Gerry seperti terhisap seluruh daging tubuhnya. dan masuk ke dalam pusaran cahaya perak itu. Dalam sekejap saja Gerry lenyap, yang tersisa tinggal kerangka tulang-tulangnya berdiri tegak di depan mobil. Darah, daging, dan yang lainnya telah lenyap dalam satu gerakan terbang ke arah Vania Mercury, seperti serpihan sampah yang masuk kedalam mesin penghisap debu. Tak tersisa sehelai rambut pun. Sekujur tubuh Hilmon pun menjadi lemas bagai tak bertulang lagi. Ia tak mampu berteriak atau mengerang sedikit pun ketika ia sadari yang ada di depan mobilnya hanya kerangka tulang-tulang Gerry. Kerangka itu sempat berdiri terayun-ayun sejenak, lalu jatuh terpuruk berantakan di saat cahaya perak itu padam seketika. Berganti gelap gulita mencekam bumi. Kerangka milik Gerry ditemukan seorang pengelola pantai wisata pada pagi harnya. Polisi segera tiba di tempat tersebut, dan segera melakukan penyidikan secara intensif: Hilmon yang ditemukan di TKP dalam keadaann pingsan dimintai keterangan. Namun , penjelasan Hilmon dianggap terlalu mengada-ada, sehingga Hilmon pun untuk sementara diamankan ke kantor polisi terdekat. Ia bisa menjadi saksi kunci, sekaligus bias menjadi tertuduh tunggal dalam kasus ditemukannya kerangka manusia di depan mobilnya itu.
NyiBlorong
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.