Ternyata menjadi pengangguran itu bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Apalagi, jika Anda tinggalnya di Kampung yang mana masyarakatnya sangat dekat satu sama lainnya. Anda berbisik saja, tetangga yang tinggal di ujung Desa sekali pun bisa mendengar apa yang Anda bisikkan. Akupun tidak menginginkan status ini, padahal Aku baru tamat kuliah sebulan yang lalu. Namun, oleh masyarakat sudah di cap sebagai seorang pengangguran dan itu adalah cap negatif yang membuatku merasa sangat tidak nyaman.
Sebelumnya, perkenalkan namaku adalah Bastian Tito dan akrab dipanggil Bas atau Bastian. Usiaku saat ini 22 tahun, lulusan National University of Singapore (NUS) jurusan Management and Organization. Aku anak satu-satunya, sehingga orangtuaku sangat perhatian padaku. Bahkan keinginanku untuk kuliah di Negara yang identik dengan simbol patung singanya itu, didukung penuh oleh kedua orang tuaku, walaupun keduanya hanya Pegawai Negeri Sipil biasa. Ayah dan Ibuku merupakan Guru di salah satu SMP yang ada di daerahku.
Bicara tentang fisik, tinggiku 173cm dengan kulit berwarna putih dan membuatku tampak berbeda dari mayoritas pemuda di Kampungku. Warna mataku agak kebiruan, seperti halnya mata Ibuku. Kata Ibu, itu adalah turunan karena Kakeknya Ibu asli orang Belanda.
Kami sendiri, tinggal di Desa Manggis (sebut saja begitu, biar gak kena komplain sama yang punya Desa, wkwkwk) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Salah satu desa yang masih sangat asri dan terkenal dengan keindahan alamnya, bahkan Kampungku ini menjadi salah satu destinasi wisata yang terkenal dengan jembatan legenda yang terbuat dari akar pohonnya. Untuk sampai ke kampungku, harus melewati beberapa pemukiman penduduk dan hutan terlebuh dahulu. Walau jalannya sudah diaspal, namun karena masih asri dan indahnya pemandangan hutan di sepanjang jalan, membuat perjalanan panjang itu tidak akan terasa membosankan sama sekali.
Oke, kembali ke ceritaku.
Sebulan berada di Kampung, banyak kuhabiskan dengan berkumpul dan membantu-bantu di perkebunan kopi milik Keluargaku. Walau sudah ada pekerjanya yang disewa Ayah untuk mengurus kebun, namun Aku memaksa untuk melakukannya, karena Aku tidak ingin bermanja-manja dan bermalas-malasan di rumah. Paling tidak, dengan begitu Aku bisa mengisi waktuku dengan hal yang positif sebelum nantinya Aku bekerja dan tentunya akan sibuk dengan duniaku sendiri.
Malam itu, Aku dan beberapa pemuda sedang duduk di pos ronda bersama beberapa pemuda yang biasa jadi teman nongkrongku.
"Bas, si Vina kirim salam lagi tuh. Dia bertanya, kenapa Kamu gak pernah balas suratnya ?" tanya Sahrul sambil memutar batu domino-nya.
"Vina ? anak pak Wali itu yo ?" Tanyaku kalem sambil memperhatikan batu-batuku.
"Iyolah, mang Vina mana lagi ? kan cuma satu Vina yang masih gadis di Kampung Kito" Ujar Sahrul dengan kesal.
"Hehehe, sapa tahu Vina bininyo pak Mahmud." Jawabku sambil tertawa.
"Hahaha, itu mah Macan. Mintak kena sabit Kau sama Pak Mahmud ceritanyo itu, hahaha."
"Apo itu Macan artinyo da ?" tanya Kusri, satu-satunya pemuda yang paling kecil diantara Kami.
"Mama Cantik."
"Oalah, pakai disingkat bana. Ambo kira Macan beneran. bisa habis Uda Bas diterkamnyo nanti."
"Hahaha." Tawa semua orang yang lagi duduk di Pos Ronda.
"Bas, pilihlah satu diantaro Bidadari yang adoh di Kampung kito iko." Ucap Joko menambahkan.
"Lah kenapa emangnyo Kawan ?" tanyaku agak bingung dengan ucapan Joko barusan.
"Mang harus begitu Kawan. Kalau Ang (Kamu) dak memilih satu diantara penggemar Kawan tu, jomblo seumur hidup Kami dibuatnya." Tambah Joko dengan ekspresi yang bikin Kami kembali tertawa.
ESTÁS LEYENDO
BUNIAN : Woman In White
TerrorBastian, baru saja menamatkan studi S1nya dan sekarang sedang berada di Kampung halamannya, Pesisir-Selatan, Sumatera Barat. Ada saja orang kampung yang sinis padanya, karena walaupun bertampang rupawan dan sekolah jauh-jauh dari luar Negeri, tapi B...
