1. Kyra Nameera

134 3 0
                                        

Suara langkah kaki yang berjalan lambat mengisi keheningan. Di tengah lorong sekolah yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung, gadis berparas cantik dengan hidung bangir, mata bulat, bibir tebal, dan lesung di kedua pipi yang dalam, serta rambut hitam legam nan panjang, cantik hasil perpaduan darah Sunda - Betawi berjalan santai. Semua murid SMA Seruni, bahkan para guru pun sudah tidak heran kalau gadis dengan nametag di dada bagian kiri bertuliskan Kyra Nameera, berlalu-lalang santai seperti itu.

Paling-paling, kaki jenjangnya melangkah ke perpustakaan untuk membaca novel favorite sambil ngadem, menghiraukan Pak Asep yang saat ini tengah mengajar pelajaran Kewarganegaraan di kelasnya.

"Eh, Neng Nameera, bolos pelajaran lagi, Neng?" sapaan hangat diiringi dengan senyum lebar menyapa Nameera saat dirinya memasuki ruangan yang terasa sejuk karena 6 buah air conditioner menyala dengan suhu stabil, ruang ini di kelilingi berbagai jenis buku yang tersusun rapi pada tempatnya—karena Bu Endah benar-benar mengurus apik perpustakaan sekolah ini.

Nameera tersenyum kecil, "Iya, nih, Bu. Suntuk di kelas. "

Meninggalkan Bu Endah yang mulai sibuk pada kertas-kertas di meja jaga perpustakaan, kaki jenjang Nameera melangkah pelan menghampiri rak buku yang terisi penuh dengan berbagai macam judul novel. Matanya berhenti pada 3 buah novel yang menarik perhatiannya— Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea: Suara Dari Dilan.

Tangan panjang Nameera terulur untuk mengambil ketiga novel karya Pidi Baiq—salah satu penulis tersohor di Indonesia asal Bandung. Membaca sebentar sinopsis yang terdapat di belakang novel, kemudian membawanya ke meja baca yang terdapat di tengah ruang perpustakaan. Rasa tidak sabar untuk tahu bagaimana alur cerita tentang kisah asmara Dilan dan Milea di tahun 1990 membuat Nameera sangat antusias.

Nameera terhanyut pada setiap kata yang membentuk kalimat indah dalam novel Dilan, terbayang betapa indah kalau dirinya memiliki sosok lelaki macam Dilan yang mengisi hari-harinya.

Namun, pikirannya buyar seketika saat seseorang merangkul pelan pundaknya, membuat Nameera sontak kaget hingga lengannya terayun pelan untuk menyingkirkan lengan orang itu.

"Ah, tai, ngagetin aja, lo!" dumel Nameera saat tahu orang itu adalah pria dengan perawakan tinggi tegap, serta memiliki lesung pipi yang membuatnya terlihat manis, sekaligus tampan. Iqbal Raditya nama lengkapnya, cowok berusia 18 tahun yang sudah bersahabat dekat dengan Nameera sejak usia 12 tahun, sejak SMP lebih tepatnya.

"Kebiasaan, doyan banget nongkrong di perpus. Udah istirahat, nih. Ayo, cabut kantin!" ujar Iqbal sambil tersenyum manis.

Nameera melihat sekilas jam tangan warna hitam yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Jam menunjukan pukul 09.30, benar kata Iqbal, waktunya istirahat. Terlebih, cacing di dalam perutnya mulai meronta-ronta minta di beri makan.

Nameera menutup novel Dilan 1990 yang sebelumnya sudah ditandai dengan lipatan kecil di ujung bawah, merangkul tiga novel Dilan untuk di taruh di tas kecilnya kemudian di bawa pulang ke rumahnya sebagai teman baca saat suntuk melanda.

Nameera beranjak sambil menggandeng tangan Iqbal agar mengikuti langkahnya. "Temenin ke kelas dulu, ya? Gue mau taro novel dulu di tas."

Iqbal tersenyum kecil sambil mengacak pelan rambut Nameera. "Siap, Tuan Puteri."

"Ih, berantakan rambut gue!" Nameera mendengus sebal.

"Ah, tetep cantik, ko."

"Halah, dasar fucek boy. Udah, ayo, laper nih gue."

Kemudian keduanya berlalu pergi meninggalkan perpustakaan yang mulai ramai karena sebagian siswa —golongan pintar dan rajin— suka menghabiskan waktu istirahatnya di ruang penuh buku tersebut. Dan meninggalkan Bu Endah yang menggeleng pelan melihat kelakuan keduanya, rasanya sudah tidak asing lagi.

OverStories to obsess over. Discover now